Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo

PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo

Visitor Center Dibangun demi Keamanan Komodo dan Pengunjung

Jumat, 30 Oktober 2020 | 06:48 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Aktivis lingkungan Emmy Hafild menegaskan, pembangunan Visitor Center Loh Buaya di Taman Nasional (TN) Komodo di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak merusak lingkungan.

Pembangunan visitor center di atas bangunan lama, justru untuk keamanan 1.300 komodo dan pengunjung. Di visitor center, pengunjung dapat melihat aktivitas sekitar 60 komodo sekaligus mengakses informasi dalam bentuk video dan tulisan agar pengetahuan tentang komodo semakin lengkap.

“Saya tidak melihat satu pohon pun ditebang atau hutan bakau dibuka untuk pembangunan visitor center. Visitor center ini dibangun di bekas bangunan visitor center yang lama dan sudah dibangun sejak 20 tahun lalu. Saat ini fasilitas (visitor center) untuk pengunjung sangat minim, informasinya hanya di papan saja. Kalau ada ruang informasi yang bisa putar video tentang komodo, ada edukasi, ada interaktif, itu sangat baik. Itu nanti jadinya bagus,” kata aktivis lingkungan Emmy Hafild dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, Kamis (29/10).

PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo
PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo

Emmy merasa miris melihat respon masyarakat yang berlebihan soal pembangunan visitor center tersebut dan memprotes Jurrasic Park Pulau Rinca di TN Komodo. Hal ini dipicu oleh beredarnya foto di media sosial tentang komodo di depan truk material dengan judul foto: Truk dihadang Komodo.

“Seolah-olah Komodo pun protes, dan menghadang truk. Saya akui fotonya bagus dan sangat dramatis. Tapi narasinya yang lebay,” kata Emmy.

Pertama, kata Emmy, adalah soal Jurassic Park. “Seluruh Taman Nasional Komodo itu memang Jurassic Park. Sebab, komodo adalah satu dari sedikit makhluk yang hidup sejak 60 juta tahun lalu (zaman dinosaurus masih menguasai bumi, zaman Jurassic). Beberapa makhluk lain adalah sejenis penyu di Galapagos, dan beberapa ikan purba, termasuk ikan mola. Jadi kalau Komodo dikatakan Jurassic Park, so what gitu loh?,” ujar Emmy.

Emy menegaskan, sebagai seseorang yang lama bekerja di TN Komodo dan masih sering berkunjung dan memperhatikan TN Komodo, terakhir 25 Oktober 2020, dia mengaku geli membaca komentar orang-orang.

“Saya yakin sebagian besar yang memberikan komentar belum pernah berkunjung ke TNK atau kalau sudah berkunjung baru sekali tapi terus sok tahu gitu, lebay ah,” ujar dia.

PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo
PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo

Emmy menjelaskan, Visitor Center Loh Buaya sudah ada sejak lebih dari 20 tahun lalu. Tapi pengelolaannya sangat sederhana. Sebagai world heritage yang nilainya sangat tinggi seperti komodo, satu-satunya di dunia, sangat disayangkan visitor centernya masih sangat minim, belum memenuhi standar international.

“Bangunan visitor center ini diperlukan justru sebagai World Heritage, ini dibangun di atas gedung yang lama, yang diruntuhkan. Jadi bukan gedung baru dan mengambil lokasi baru. Jarak dari dermaga ke lokasi dibangun itu ada 1 km, jadi perlu truk mengangkut material,” tegas Emmy.

Emmy menegaskan, visitor center ini dibangun hanya di satu lokasi, di Loh Buaya. Di situ ada sekitar 60 ekor komodo yang jadi atraksi utama bagi pengunjung. Mereka memang hidup di situ, tapi tidak diberi makan. Sementara itu, luas Pulau Rinca kira-kira 20 ribu ha, dengan populasi komodo sekitar 1.300 ekor.

PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo
PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo

“Status di IUCN itu vurnerable, bukan endangered. Luas Loh Buaya ini kurang lebih 500 Ha, tapi yang dipakai untuk visitor center itu kurang dari 2 ha. Bangunannya jauh lebih kecil,” ungkap Emmy.

Pembangunan visitor center ini, kata Emmy, juga melibatkan masyarakat desa Pasir Panjang, Kukusan, dan Kerora. “Mereka setuju dengann program ini karena mereka akan dilibatkan dan akan dipekerjakan,” jelas Emmy.

Selain visitor center, sarana yang akan dibangun termasuk board walk dari dermaga sampai ke visitor center. “Board walk ini sangat diperlukan untuk keamanan pengunjung, karena perjalanan jalan setapak yang sekarang, pengunjung sering bertemu dengan komodo. Kalau komodonya sudah makan, ya aman,” kata Emmy.

PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo
PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo

Tak cuma board walk yang aman, visitor center berbentuk bangunan bulat dari beton itu itu juga didesain dan konstruksi dibuat berbentuk panggung tinggi yang kokoh.

“Supaya aman bagi pengunjung, melihat komodo dari jauh saja. Sekarang ini di Loh Buaya, pengunjung berada di tanah, satu level dengan komodo, jarak 5 m, sebenarnya tidak aman baik pengunjung maupun komodonya sendiri. Interaksi itu harusnya tidak pada satu level ketinggian,” tegas Emmy.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN