Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tugu Yogyakarta. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

Tugu Yogyakarta. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

Wahidin54 dan PMKRI Ajak ke Jogja Lagi Lewat Donasi Pendidikan

Investor Daily, Sabtu, 23 Mei 2020 | 23:02 WIB

YOGYAKARTA, investor.id - Wahidin54, elemen alumni mahasiswa Yogyakarta bersama PMKRI Yogyakarta menggelar Diskusi Serial “Kapan ke Jogja Lagi?” dengan tema Internet dan Tantangan Pendidikan di tengah Pandemi. Diskusi serial ini merupakan bagian dari gerakan peduli pendidikan yang sekaligus mempromosikan Ke Jogja Lagi lewat donasi.

Wahidin54 menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 telah melahirkan tantangan baru dalam dunia pendidikan. Proses belajar mengajar mengalami perubahan menyesuaikan protokol kesehatan sehingga mesti digelar secara daring. Namun pada sisi lain, kesiapan akses internet berkualitas dan juga biaya akses untuk mahasiswa menjadi tantangan tersendiri. Terlebih banyak keluarga di Indonesia saat ini mengalami kesulitan ekonomi dan berdampak pada putera-puteri mereka yang menempuh pendidikan di Yogyakarta.

“Wahidin54 bersama PMKRI Yogyakarta, menyadari hal ini dan melihat bahwa banyak mahasiswa dari berbagai daerah yang akhirnya terdampak juga” jelas Mario Wiran, Pegiat Wahidin54 dalam siaran persnya, Sabtu (23/5).

Mario menambahkan, dalam kondisi ini banyak kalangan perlu mengenali dan mengantisipasi situasi yang baru ini. Mencermati normalitas baru (New Normal) yang akan banyak melahirkan habitus baru.

Lebih dari itu, dalam jangka pendek ini, perlu juga seluruh pihak baik pemerintah dan lembaga pendidikan, agar memikirkan beban mahasiswa serta keluarga mereka yang mesti menambah biaya untuk akses internet.

Salah satu yang bisa dilakukan publik, adalah lewat donasi pendidikan. Wahidin54 menyebut bahwa banyak mahasiswa khususnya dari luar daerah yang terjebak situasi sulit di Yogyakarta. Sehingga dengan gotong royong dan donasi ke Jogja Lagi, diharapkan tumbuh solidaritas sosial untuk mendukung para mahasiswa dari luar daerah di Yogyakarta. Kota yang jadi salah satu barometer pendidikan di Indonesia.

Mengawali diskusi, Pengajar Politeknik Negeri Kupang, Nusa Tenggara Timur, Melchior Bria mengungkapkan bahwa merujuk pada sistem pendidikan, apapun prosesnya dalam pendidikan ada standar input, proses dan output pendidikan. Dasar dari semua seluruh proses pembelajaran menurutnya adalah kurikulum.

“Desain kurikulum ini kan pada dasarnya dilakukan sebelum adanya (pandemi) dan mungkin sebagian besar kurikulum tidak didasarkan pada bahwa akan situasi pandemi atau akan ada situasi emergency (Darurat),” ujar Melchior dalam diskusi serial Wahidin54 bertemakan “Kapan ke Jogja Lagi: Internet dan tantangan pendidikan di tengah pandemi”, Sabtu (23/5/2020) yang digelar secara virtual.

Melchior menambahkan agar kurikulum dapat dilaksanakan dengan tepat, maka dibutuhkan dukungan sarana dan prasarana, sumber daya manusia hingga aspek manajemen. Dengan metode pembelajaran jarak jauh, disebut hanya salah satu cara yang digunakan dalam proses pembelajaran.

Mengingat ada kondisi pandemi menurutnya membuat kondisi menjadi berbeda dan pembelajaran berbasis internet menjadi tuntutan mutlak. Disini kemudian menurutnya tantangan muncul karena output atau capaian pembelajaran menurutnya mesti menghasilkan knowledge (Pengetahuan), skill (Keterampilan) dan attitude (Karakter). Ketiga aspek ini menurutnya mesti dicapai dalam proses pembelajaran. Demi mendukung tercapainya ketiga aspek ini perlu ada desain pembelajaran yang mendukung.

Hal ini dirasa menjadi lebih menantang, terlebih bagi lembaga pendidikan vokasi semacam Politeknik Negeri Kupang yang mayoritas pembelajarannya bersifat praktik.

“Untuk itu maka disini perlu kreativitas terutama dosen atau guru, dibutuhkan kreativitas yang tinggi dalam menyajikan materi pembelajaran” jelasnya.

Berikutnya tantangan lain adalah dalam pembelajaran daring ini disebut adalah ketersediaan akses internet yang luas. Ia pun mengutip sebuah pemberitaan yang menyebut untuk Nusa Tenggara Timur (NTT), akses internet ini memang sangat sulit. Untuk Pulau Timor menurutnya sudah cukup luas, hanya daya beli untuk mendapat akses itu menurutnya masih jadi tanda tanya.

“Saya tidak tahu ya kalau di Flores. Kalau di Pulau Timor, hampir semua di pelosok sudah ada akses internet. Hanya persoalannya, daya beli pulsa,” sebutnya.

Saat ini menurutnya pihaknya sudah membagikan akses pulsa senilai Rp 100.000 ke mahasiswa dan dosen. Hanya hal ini menurutnya masih perlu dilihat apakah memadai atau tidak.

Selain itu, menurutnya proses pembelajaran secara daring masih harus dilihat efektivitasnya dalam menghasilkan output yang optimal. Terlebih bagi Politeknik Negeri Kupang yang berbasis pendidikan vokasi disebut lebih banyak melakukan praktikum, sehingga ada kendala dalam hal ini.

“Menurut saya, dosen atau guru lebih banyak memberikan tugas daripada memberikan bimbingan virtual. Jadi tugasnya menumpuk,” jelasnya.

Plt Biro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu (Foto: Kemenkominfo)
Plt Biro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu (Foto: Kemenkominfo)

Sementara itu, Ferdinandus Setu, Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo)  menyebutkan bahwa menurut konstitusi tujuan berbangsa diantaranya adalah untuk mencerdaskan bangsa. Salah satu sektor yang menurut konstitusi jelas diberi perhatian untuk alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara adalah sektor pendidikan. Sekor pendidikan satu-satunya yang disebut khusus mendapat alokasi anggaran 20% dari APBN.

Pria yang pernah menjadi jurnalis beberapa media sebelum berkarir sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) itu pun menyampaikan seputar peran Kementerian Kominfo dalam mendukung sektor pendidikan. Pihaknya menyebut bahwa internet hanya salah satu sarana di tengah keterbatasan. Lebih penting lagi dari itu ia menyebut cara menyampaikan bahan ajar menjadi lebih penting.

“Apakah internet menjadi penyelamat atau Mesias dalam konteks kita meneropong pendidikan di masa pandemi ini. Kalau dikatakan satu-satunya, saya tidak sepakat” ujar Ferdinandus.

Internet menurutnya hanya merupakan sarana. Cara mengoptimalkan sarana ini lewat berbagai metode pembelajaran dirasa lebih penting. Pihaknya pun sepakat bahwa pendidik yang hanya memberi tugas saja juga jadi catatan tersendiri.

Pihaknya pun sepakat bahwa kurikulum pendidikan saat ini tidak dirancang untuk kondisi khusus seperti dalam masa pandemi.

“Kurikulum kita tidak disetting untuk the new normal ini, kurikulum kita kurikulum pra covid,” jelasnya.

Hal ini menurutnya menimbulkan kegagapan dan ketidaksiapan baik dari sisi pendidik, peserta didik maupun orang tua peserta didik. Acapkali pendidikan hanya diselenggarakan dengan capaian kuantitatif pembelajaran. Dengan kondisi ini, menurutnya hasil dari proses pendidikan itu sendiri diragukan dapat mencapai standar knowledge, skill dan attitude.

Terkait peran internet untuk mendukung pendidikan, ia pun sepakat. Ferdinandus pun menyebut tahun ini jumlah pengguna internet Indonesia saat ini sudah mencapai 175,4 juta, naik sekitar 17% atau 25 juta pengguna dibanding tahun lalu.

Ini disebut sebagai sebuah perkembangan yang menggembirakan, meski demikian Ferdinandus pun menyoroti penggunaannya yang masih didominasi untuk akses media sosial ketimbang kepentingan pendidikan. Ia pun menyebut berdasarkan data, masyarakat lebih banyak mengakses akun media sosial seperti Youtube, Whatsapp dan sosial media lainnya. Hal ini dinilai menjadi sebuah bentuk ketidaksiapan kita memasuki kondisi new normal.

“Kita secara nature belum siap masuk ke new normal,” ujarnya

Ferdinandus pun mengusulkan agar ada revisi kurikulum yang lebih sesuai dengan kondisi new normal. Hal ini dirasa penting untuk memenuhi standar sistem pendidikan terutama dalam mendorong output yang memiliki knowledge, skill dan attitude.

Terkait kendala internet, pihaknya pun jujur mengakui masih memiliki pekerjaan rumah untuk menjangkau 36% masyarakat Indonesia yang belum menjadi pengguna internet. Pekerjaaan ini dinilai berat mengingat pandemi Covid-19 membuat Kementerian Kominfo mesti mengalami pemotongan anggaran.

"Jujur covid ini membuat beban kami lebih besar karena di satu sisi ada pemotongan anggaran yang signifikan di Kementerian Kominfo, hampir Rp 600 M. Padahal angka APBN di Kementerian Kominfo tidak lebih dari Rp 4 T setiap tahun,” ujarnya.

Kendati demikian pihaknya mengaku akan terus bekerja keras meningkatkan kualitas infrastruktur dan jaringan internet yang merata ke seluruh wilayah Indonesia. Dengan anggaran yang terpotong karena ada refocusing dan realokasi anggaran di Kementerian Kominfo, pihaknya mengaku tetap berusaha meningkatkan kualitas infrastruktur telekomunikasi di Indonesia bersama dengan Telkomsel. Hal ini mencakup program Palapa Ring berupa pengembangan jaringan serat optik di Indonesia.

Astra Tandang, Ketua PMKRI Yogyakarta usai acara menyampaikan bahwa dampak pandemi telah terasa pada semua sektor termasuk pendidikan. Untuk itu pihaknya berharap bahwa semua pihak tetap bisa sigap agar bangsa ini tidak jatuh dalam krisis besar.

PMKRI Yogyakarta yang tahun ini memasuki usia 73 tahun pun disebut pun disebut turut merespon situasi pandemi ini dan melakukan gotong royong demi mendukung mahasiswa daerah yang bertahan di Yogyakarta.

“Karena itu, bagi PMKRI Cabang Yogykarta meskipun dalam tekanan, Covid-19, kerja-kerja intelektual tetap jalan terus, juga terus membangun kerja-kerja kolektif lintas sektor, lintas generasi untuk saling membantu melewati situasi krisis ini,” tandas pria asal Nusa Tenggara Timur itu.

Menutup acara, Wahidin54 bersama dengan PMKRI Yogyakarta pun mengajak publik untuk berdonasi. Bagi yang tertarik untuk bergotongroyong dan mau ke Jogja lagi lewat donasi pendidikan, dapat ikut serta dalam gerakan peduli pendidikan bagi mahasiswa daerah. Gerakan ini memprioritaskan dukungan sembako serta paket internet bagi mahasiswa yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, Papua, Kalimantan, Sumatera dan beberapa daerah lainnya. (gr)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN