Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi aktivitas manusia dalam wujud avatar di platform Metaverse. (Gambar CoinLive.com)

Ilustrasi aktivitas manusia dalam wujud avatar di platform Metaverse. (Gambar CoinLive.com)

Metaverse Sangat Mungkin Diadaptasi Perbankan di Indonesia

Rabu, 26 Januari 2022 | 16:16 WIB
Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Implementasi, atau adaptasi  platform metaverse di sektor perbankan Indonesia sangatlah mungkin dilakukan. Aktivitas fisik dan transaksi perbankan pada suatu saat bisa dipindahkan ke dunai virtual baru, yakni metaverse, dan momentumnya tinggal menunggu waktu saja.

Hanya saja, implementasinya juga sangat tergantung kepada dukungan kebijakan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai regulator sektor keuangan di Tanah Air. Sebelum itu, metaverse untuk sektor perbankan perlu diregulasi agar semua pihak yang memanfaatkannya bisa terlindungi kepentingannya.

Hal tersebut disampaikan oleh Doktor Transformasi Digital Pertama di Indonesia Bayu Prawira Hie, Chief Investment Officer (CIO) ShintaVR, Antovany Reza Pahlevi dan Technical Director/CTO of Shinta VR, Andrew Steven Pukia, serta dimoderatori oleh Chief Editor/Co-founder digitalbank.id Safaruddin (Cepi) Husada dalam webinar bertema Bank in Metaverse: a Hype or Real?, Rabu (26/1).

Metaverse, atau meta semesta, merupakan bagian dari ruang realitas virtual bersama bagi manusia yang dibuat semirip mungkin dengan dunia nyata, atau dunia tiga dimensi yang menjadi bagian dari perkembangan dunia internet tahap kedua.

Manusia pun bisa beraktivitas di metaverse dengan figur yang dipersonifikasi sebagai pemilik akun (avatar) dan menjalankan aktivitas yang disukainya, mulai dari berinteraksi, mencari  hiburan, bertransaksi, hingga bekerja. 

“Oh, itu sangat bisa (aktivitas perbankan bisa dipindahkan ke metaverse). Bahkan, transaksi perbankan di metaverse nantinya bisa lebih efisien. Perbankan pun akan bisa semakin mengurangi dan menutup jumlah kantor cabangnya karena menimbulkan biaya tinggi seperti disarankan BI dan OJK,” ungkap Bayu.

Namun, dia juga menegaskan bahwa implementasi metaverse di dunia perbankan Tanah Air nantinya sangat tergantung dari dukungan dan kebijakan dari BI dan OJK yang punya kewenanngan mengaturnya serta sebagai pengampu dan regulator sektor keuangan.

Metaverse pun disebutnya sebagai peluang ekonomi baru (new economy) karena di dalamnya ada potensi untuk mencari pendapatan dan beraktivitas secara ekonomi. Platform ini merupakan produk teknologi informasi baru yang masih harus dipelajari, dikembangkan, dan nantinya harus diatur jika diimplementasikan di perbankan Tanah Air.

Indonesia, termasuk sektor perbankan, pun harus mulai bersiap-siap, atau minimal paham untuk menyambut metaverse karena implementasinya di dunia ekonomi tinggal menunggu waktu saja. Sebab, jika tak mempersiapkan diri, perbankan akan tertinggal langkah untuk menyesuaikan diri.

Bahkan, dia menyebut, implementasi dan komersialisasi metaverse di berbagai sektor bukan menunggu 10 tahun lagi. Bahkan, implementasinya bisa lebih cepat lagi, tiga tahun ke depan dari sekarang.  

Bayu pun mengaku senang bahwa pelaku sektor perbankan di Tanah Air secara tidak langsung sedang bersiap diri untuk menyambut implementasi metaverse. Perbankan sedang berlomba mendigitalisasi layanannnya.

“Hal tersebut terlihat dari bank-bank yang sedang berlomba mendigitalisasi layanannya. Dari sebelumnya, hanya mendigitilasisasi untuk transfer dan top up saldo, kini, layanan digital perbankan sudah lebih banyak jenisnya dan komprehensif (mobile banking super app),” tutur Bayu. 

Nantinya, ketika aktivitas perbankan dipindahkan ke dunia metaverse, orang tak perlu lagi harus ke kantor cabang untuk bertransaksi keuangan. Di metaverse, orang nantinya tinggal masuk melalui personifikasi avatar dan bisa bertransaksi secara virtual. 

Aktivitas Virtual

Ketika nanti sebagian aktivitas perbankan dipindahkan ke metaverse, dukungan pengaturan BI dan OJK dibutuhkan. Gedung-gedung bank virtual pun akan hadir, misalnya mulai dari BCA, Bni, Nobu Bank, dan lainnya. Selanjutnya, orang tinggal memilih di bank mana akan bertransaksi.

“Kalau kita berbicara metaverse, itu seperti balapan antara regulasi dengan perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi tak bisa dicegah. Karena itu, kita harus cepat menyesuaikan diri,” tutur Antovany Reza, atau akrab disapa Reza.

Jika metaverse diadopsi di berbagai sektor kehidupan, lanjut dia, pengibaratan penghadiran gedung-gedung berbagai sektor industri di dalamnya, termasuk perbankan, diibartakan seperti menghadirkan gambar lego-lego. Orang-orang pun bisa bertransaksi di dalam gedung-gedung virtual.  

“Kalau akan membangun kantor-kantor, mungkin kantor bank di metaverse, kami (Shinta VR) akan berperan seperti perusahaan lego yang membagun gedung-gedung di dalamnya,” katanya.

Sementara itu, Andrew Steven Pukia mengakui, Shinta VR, sebagai salah satu pengembang metaverse, sejauh ini belum dan tidak memiliki roadmap adopsi metaverse untuk sektor perbankan di Tanah Air.

“Sebab, hal tersebut mesti dibuat dengan melibatkan semua stakeholders, mulai dari BI dan OJK, pelaku perbankan, dan para ahli teknologi informasi, dan kebutuhan masyarakat. Roadmap dibuat dengan menyerap semua kepentingan stakeholder,” ucap Andrew.  

Semakin Populer

Bayu melanjutkan, metaverse yang sebenarnya sudah dikembangkan hampir satu dekade terakhir, menemukan momentum kepopulerannya pada Oktober 2021. Hal tersebut terjadi ketika CEO Facebook Mark Zuckerberg mengumumkan ganti nama holding perusahaannya menjadi Meta karena ingin lebih fokus mengembangkan metaverse.

“Itu menjadi momentum kepopuleran metaverse, dimulai ketika Facebook mengumumkan pembentukan perusahaan Meta. Kemudian, ini disambut oleh raksasa teknologi Microsoft yang mengakuisisi perusahaan gim untuk pengembangan metaverse dan Google pun mengumumkan proyek metaverse,” terangnya. 

Pada kesempatan itu, dia juga memberikan sebuah gambaran bahwa metaverse merupakan perkembangan lebih jauh dari media sosial (medsos), seperti Facebook dan Instagram.

“Bedanya, di medsos orang berinteraksi dengan tombol-tombol komputer dan perangkat, di metaverse, akan ada properti virtual, seperti gedung, dan orang menjadi avatar, serta selanjutnya menjalankan berbagai aktivitas yang disukai dan berinteraksi lebih instens. Orang di dalamnya bisa bertransaksi di dunia metaverse,” jelasnya.  

Dia menyampaikan bahwa beberapa simulasi dan uji coba implementasi metaverse di Indonesia telah dilakukan di sejumlah pendidikan tinggi untuk pengajaran, antara lain UPH dan Binus. Sebuah fakultas keparawatan di Tanah Air juga pernah menyimulasikan kegiatan operasi pasien yang melibatkan sekitar 100 peserta. 

Reza menambahkan, metaverse merupakan platform yang terbuka dan tidak bisa diklaim oleh satu pihak. Apalagi, pengembangannya harus melibatkan multi keahlian, mulai dari pengembang, blockchain untuk metode pengembangan transaksinya, komputasi awan (cloud), dan lainnya.  

“Jadi, kalau ada di media yang mengklaim metaverse adalah miliknya, itu tidak masuk akal. Karena, pengembangannya melibatkan banyak pihak dan expert yang beragam,” tuturnya.   

Reza pun mengakui bahwa Shinta VR, sebagai salah satu pengembang metaverse di Indonesia, terus mengembangkan dan menyempurnakannya agar ke depannya bisa diimplementasikannya dengan lebih baik.

Sementara itu, dalam webinar tersebut juga ditampilkan simulasi para pembicara yang mempresentasikan makalahnya lewat metaverse sekitar 1 jam. Platform yang disimulasikan dengan mengadaptasi teknologi Oculus, dengan tampilan avatar pembicara terlihat setengah badan.

 

Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN