Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi menara telekomunikasi

Ilustrasi menara telekomunikasi

Bisnis Telekomunikasi Tidak Sekedar Conectivity

Rabu, 7 Oktober 2020 | 21:56 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kartika Sutandi, Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management mengatakan, ke depan bisnis telekomunikasi tidak sekadar connectivity, tetapi sudah merambah ke bisnis digital.

Menurutnya soal bisnis connectivity, Telkom beserta Telkomsel sudah sangat mamahami bisnisnya. Ini dibuktikan dengan kehadiran Telkom dan Telkomsel di seluruh pelosok Indonesia. Dari daerah yang menguntungkan hingga daerah tertinggal, terluar, dan terpencil.

“Soal bisnis connectivity kita tak perlu ngajarin Telkom Group. Mereka sudah yang terbaik. Namun sekarang setelah bisnis connectivity, apa lagi yang harus didapatkan oleh perseroan. Saat ini bisnis connectivity pertumbuhannya hanya single digit. Padahal CAPEX industri telekomunikasi tidak pernah kenal kata berhenti. Dengan pertumbuhan industri single digit dan CAPEX yang besar membuat value perusahaan telekomunikasi sangat rendah,” terang Kartika di Jakarta, Rabu (7/10).

Jika tak mulai memasuki bisnis digital, menurut Kartika, Telkom akan tidak menarik lagi. Dengan mereka berinvestasi di perusahaan digital, menurut Kartika, membuat value Telkom menjadi kembali menarik. Investor melihat Telkom tak sekadar sebagai perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi semata, tetapi sudah menjadi one stop digital telecommunication provider.

“Karakter perusahaan infrastruktur valuasinya rendah. Enterprise Value (EV) EBITDA Telkom hanya 5.5 kali. Ini karena old economic, sudah tidak ada pertumbuhan lagi. Namun berbeda dengan perusahaan digital atau yang mengembangkan new economic. Valuenya besar. EV EBITDA Amazon di tahun 2021 bisa lebih dari 29 kali. TESLA bisa mencapai 57 kali. Sementara Alibaba bisa mencapai 24 kali. Jadi kalau Telkom mau tumbuh lagi, maka sudah jadi keniscayaan jika mereka harus berinvestasi di perusahaan digital,” terang Kartika.

Sebenarnya Telkom bukan satu-satunya perusahaan telekomunikasi yang berinvestasi di perusahaan digital. Beberapa waktu lalu, menurut Kartika, perusahaan telekomunikasi Reliance Jio juga berinvestasi di perusahaan digital. Dengan mengusung Jio Platforms, perusahaan telekomunikasi asal Negeri Hindustan ini mengembangkan bisnis digitalnya.

“Jadi wajar jika saat ini Telkom juga berinvestasi di perusahaan digital. Karena perusahaan digital memiliki value yang tinggi. Telkom berinvestasi di perusahaan digital bukan karena mereka tak mau membuat perusahaan digital. Namun perusahaan digital yang dibuatnya selama ini tidak sukses. Menurut saya lebih baik Telkom investasi di perusahaan yang sudah kelihatan prospek bisnisnya daripada mereka investasi dengan membuat perusahaan baru yang prospeknya belum jelas,” ujar Kartika.

Mengenai harga atau nilai investasi yang terlalu tinggi pada perusahaan decacorn atau yang sudah terlihat prospek bisnisnya, menurut Kartika semua itu relatif. Jika membuat perusahaan digital baru, mungkin investasi yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Namun risiko kegagalan dalam membuat perusahaan digital baru sangat tinggi.

“Coba liat aja perusahaan telekomunikasi Indonesia yang sudah membuat perusahaan digital. Mana yang tumbuh? Bahkan ada perusahaan digital besutan perusahaan telco yang ditutup. Kalau ditutup value-nya nol. Daripada tidak ada hasilnya, mending operator telekomunikasi yang ada di Indonesia investasi saja di perusahaan digital yang sudah kelihatan bisnisnya. Di seluruh dunia secara statistik perusahaan digital yang dapat bertahan hanya yang berada di peringat peringkat 1 dan 2. Selebihnya mati. Jadi buat apa investasi baru dengan membuat perusahaan? Lebih baik investasi di perusahaan digital yang sudah pasti survive saja,” ujar Kartika.

Investor atau pemegang saham di perusahaan digital terdiri dari beberapa kelompok. Kelompok pertama biasanya memegang seri A. Diakui Kartika, investor yang masuk di seri awal mengeluarkan investasi yang lebih sedikit dibandingkan yang seri terakhir. Namun risiko investasi di stage awal dinilai pengamat ekonomi ini juga besar. Ada investor yang mau menanggung risiko tinggi dan ada yang tidak.

Contohnya adalah ketika salah satu group konglomerasi besar  di Indonesia berinvestasi di GoJek. Menurut Kartika ketika GoJek masih memiliki value US$ 200 juta, mereka enggan untuk masuk. Namun ketika Google sudah masuk ke GoJek dan valuenya sudah US$ 3 miliar, group konglomerasi besar tersebut baru masuk, sehingga menurut Kartika mahal atau murah ketika berinvestasi di perusahaan digital menjadi sangat subjektif. Sekarang GoJek valuenya sudah lebih dari US$ 10 miliar.

“Jadi selama masih terus mengembangkan bisnisnya, value GoJek masih akan terus meningkat. Jika Telkom tak segera memutuskan investasi di GoJek, maka ketika GoJek IPO, mereka akan kehilangan peluang,” papar Kartika.

Hingga saat ini GoJek masih fokus menggarap bisnis transportasi dan makanan. Menurut Kartika, GoJek sampai saat ini belum menggarap pasar finansialnya. Kartika meyakini cepat atau lambat GoJek akan masuk ke pasar finansial. Nantinya bisnis GoJek akan mirip dengan Alibaba yang memiliki Ali Pay atau yang sekarang menjadi Ant Financial.

“Bisa jadi nantinya GoPay akan sama dengan Ant Financial yang baru IPO US$ 35 miliar. Mungkin size tidak sebesar Ant Financial, namun bisnis GoPay nantinya akan menyerupai Ant Financial. Jika GoPay mengikuti jejak Ant Financial dengan menjual produk finansial, maka value GoJek masih bisa tumbuh lagi. Sehingga investor yang memegang saham di seri akhir masih dapat memiliki potensi keuntungan ketika GoJek IPO,” pungkas Kartika.



 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN