Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi menara telekomunikasi. (IST)

Ilustrasi menara telekomunikasi. (IST)

DPR Meminta 5G di Indonesia Direalisasikan 

Selasa, 10 November 2020 | 16:13 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - 5G atau Fifth Generation (generasi kelima) adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut generasi  kelima sebagai fase berikutnya dari standar telekomunikasi seluler 4G. 5G merupakan salah satu topik  pembahasan yang menarik saat dilaksanakannya rapat Panja UU Cipta Kerja antara DPR dan pemerintah. 

Dalam jumpa pers baru-baru ini, Menteri Kominfo Johnny Plate mengatakan bahwa ketersediaan  frekuensi radio untuk 5G sangat terbatas, sehingga pemerintah perlu mencarikan payung hukum  penggunaan spektrum frekuensi radio untuk 5G.

"Oleh karena itu pemerintah memasukkan kerja sama penggunaan spektrum frekuensi untuk layanan 5G  dalam UU Cipta Kerja agar nantinya penerapan 5G memiliki payung hukum. Dengan menerapkan  kerja sama penggunaan spektrum frekuensi untuk teknologi baru diharapkan masyarakat bisa  mendapatkan manfaat dan bangsa Indonesia dapat berkompetisi dengan bangsa lain dalam hal  pemanfaatan teknologi termutakhir,"terang Menteri Johnny.

Anggota Baleg DPR RI yang juga anggota Panja UU Cipta Kerja John Kenedy Aziz yang mengikuti rapat  antara DPR dan pemerintah (Kementerian Kominfo) beberapa waktu lalu, juga membenarkan bahwa  kerja sama penggunaan spektrum frekuensi untuk teknologi baru yang disepakati antara DPR dan  pemerintah merupakan kemudahan berusaha yang diberikan kepada operator telekomunikasi untuk  segera merealisasikan 5G di Indonesia.  

"Kami di DPR setuju untuk memasukkan kerjasama pemanfaatan frekuensi untuk 5G karena ingin  menyukseskan program pemerintah membangun Indonesia dalam menyongsong industri 4.0. Lagi pula,  operator telekomunikasi diberikan kemudahan berusaha untuk merealisasikan 5G, hal ini sejalan dengan  tujuan UU Cipta Kerja. Dengan adanya kemudahan berusaha tersebut, diharapkan pemegang saham para  operator telekomunikasi yang berada di luar wilayah Indonesia semakin berlomba-lomba untuk  meningkatkan investasi 5G di Indonesia. Ujung-ujungnya tercipta lapangan kerja untuk  masyarakat, ”terang John Kenedy Aziz.

Selain itu, John Kenedy Aziz juga mencermati adanya keinginan dari sebagian operator telekomunikasi  agar Peraturan Pemerintah turunan UU Cipta Kerja memperbolehkan kerjasama penggunaan spektrum  frekuensi radio tidak hanya untuk 5G, tapi juga untuk 4G. Padahal 4G sudah diterapkan dan dinikmati oleh  masyarakat Indonesia dalam 5 tahun terakhir.  

“Sudah jelas amanah UU 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan bahwa  materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana  mestinya. Jadi tidak boleh terdapat pengaturan di Peraturan Pemerintah yang bertentangan dengan  pengaturan di Undang-undang. Apalagi sudah jelas tujuan Kementerian Kominfo untuk mempercepat  penerapan 5G di Indonesia”lanjut John. 

Dalam kesempatan yang berbeda, Nonot Harsono, Ketua Bidang Infrastruktur Broadband Nasional  Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) turut angkat bicara mengenai perdebatan mengenai apakah  4G, 4.5G dan 4.75G termasuk dalam teknologi baru.

Menurut mantan Komisioner BRTI periode 2009-2011,  sejatinya teknologi baru yang ada di UU Cipta Kerja adalah teknologi selular yang belum sama sekali  dibangun di Indonesia.  

"Kalau sekarang yang ada adalah jaringan 4G, 4.5G dan 4.75G. Sehingga teknologi baru yang di maksud  dalam UU Cipta Kerja adalah jaringan selular 5G atau teknologi setelahnya yang belum sama sekali  dibangun di Indonesia. Jika nanti ada teknologi 6G, maka itu termasuk dalam teknologi baru. Itu sesuai  dengan hasil siding World Radiocommunication Conference (WRC). Sedangkan teknologi selular 4G, 4.5G  dan 4.75G bukan termasuk dalam teknologi baru. Karena sudah dipergunakan di Indonesia,"terang Nonot.



 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN