Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Brendan Paget,  Director of Portfolio Management, APAC Office of Technology, Red Hat

Brendan Paget, Director of Portfolio Management, APAC Office of Technology, Red Hat

Meluruskan 4 Mitos Hybrid Cloud

Imam Suhartadi, Kamis, 5 September 2019 | 23:43 WIB

JAKARTA - Hybrid cloud akan menjadi hal wajib bagi perusahaan skala enterprise. Menurut Red Hat Global Customer Tech Outlook 2019, 30% dari organisasi/perusahaan yang disurvei telah memiliki strategi hybrid cloud, dan 45% diantaranya sudah menggunakan dua atau lebih platform layanan cloud.

Dengan fleksibilitas dan kecepatan yang dibutuhkan untuk mengatasi perubahan tuntutan bisnis secara efektif, hybrid cloud dapat membantu perusahaan meningkatkan ketangkasan bisnis dan dapat lebih bersaing di lingkungan bisnis yang semakin bergejolak.

Hybrid cloud merupakan kombinasi public dan private cloud yaitu cloud di dalam lingkungan perusahaanatau yang dikelola di sebuah layana hosting yang terhubung dan dikelola oleh satu solusi pengelolaan.

“Dengan hybrid cloud, perusahaan dapat memilih jenis cloud yang sesuai dengan beban kerja yang dikelola, serta menyebark beban kerja tersebut ke seluruh lingkungan TI yang memerlukan. Misalnya, sebuah perusahaan ritel dapat melakukan hosting situs e-commerce di sebuah public cloud sementara proses pembayaran situs tersebut dilakukan di private cloud untuk melindungi data pelanggan dengan lebih baik dan mematuhi ketaatan terhadap peraturan,” kata Oleh Brendan Paget, Director of Portfolio Management, APAC Office of Technology, Red Hat dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (5/9).

Meskipun hybrid cloud dapat membantu sebuah organisasi/perusahaan menjadi lebih gesit, sebagian organisasi/perusahaan masih ragu untuk mengadopsi teknologi ini. Berikut adalah empat mitos umum yang menghambat adopsi hybrid cloud.

Mitos Pertama: Hybrid cloud dapat menyebabkan organisasi/perusahaan kehilangan visibilitas dan kendali terhadap infrastruktur TI

Hybrid cloud terdiri lebih dari satu lingkungan TI, sehingga mungkin akan sulit bagi perusahaan untuk mendapatkan visibilitas lengkap atas seluruh infrastruktur TI mereka. Kurangnya visibilitas dapat menjadi tantangan bagi perusahaan dalam memantau dan mengendalikan lingkungan mereka dari segi keamanan dan kepatuhan, terutama jika dilaksanakan secara manual.

Mitos Kedua: Mengadopsi hybrid cloud akan mempersulit keamanan

Secara tradisional, keamanan TI fokus pada memperkuat, memelihara, dan membuat kebijakan di dalam lingkungan (perimeter) data center. Namun, keamanan perimeter kurang efektif dalam mengamankan hybrid cloud. Beberapa lingkungan cloud yang terkoneksi secara baik memberi peluang yang lebih besar bagi penyerang dan mereka bisa menembus pertahanan perimeter tradisional. Selain itu, melakukan patching atau konfigurasi sistem secara manual dari lingkungan campuran hybrid cloud akan sangat melelahkan.

Mitos Ketiga: Organisasi yang menggunakan hybrid cloud akan lebih rentan terhadap risiko di sisi rantai pasokan (supply chain)

Seperti pepatah a chain is only as strong as its weakest link, keamanan sebuah organisasi/perusahaan pun sekuat rantai terlemahnya. Ada kemungkinan sebuah lingkungan hybrid cloud dapat melibatkan platform dari berbagai vendor, sehingga akan sulit memastikan bahwa semua solusi dibangun dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan para vendor tersebubut selalu melakukan update dan patch.

Mitos Keempat: Hybrid cloud akan mempersulit upaya untuk patuh terhadap peraturan meskipun hampir setiap perusahaan saat ini menggunakan teknologi cloud pada tingkat tertentu.

Mengadopsi hybrid cloud mungkin tampak seperti pekerjaan yang menakutkan karena dapat menambah risiko dan kompleksitas. Namun sebuah organisasi/perusahaan dapat mengatasi tantangan tersebut dengan tidak bersikap reaktif terhadap sebuah masalah, mengambil langkah yang lebih proaktif dan cerdas mengelola infrastruktur secara cerdas.

Salah satu caranya adalah memastikan bahwa pondasi hybrid cloud mereka memiliki informasi tentang infrastrukturnya agar dapat memprediksi potensi masalah yang akan dihadapi dan menunjukkan risiko-risiko teknis secara akurat.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN