Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Mewaspadai Pelemahan Siklus Perdagangan Global

Oleh Tri Winarno, Senin, 25 Februari 2019 | 09:30 WIB

Siklus perdagangan beriringan ketat dengan siklus pertumbuhan ekonomi; tatkala siklus perdagangan meningkat maka siklus pertumbuhan ekonomi juga akan meningkat. Korelasi tersebut sangat kuat dalam perspektif global. Namun, kondisi sejak krisis keuangan global 2008, pertumbuhan volume perdagangan global mengalami penurunan yang sangat tajam.

Ketika ditambah dengan menyeruaknya proteksionisme dan gangguan terhadap rantai pasokan global, maka dapat dipastikan arah siklus perdagangan global ke depan akan semakin melambat. Melambatnya siklus perdagangan global tersebut akan berakibat pada perlambatan ekonomi global yang telah kehilangan mesin utama pendorong pertumbuhan.

Petunjuk awal dari gejala tersebut disampaikan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dalan revisi proyeksi ekonomi global pada awal bulan Januari 2019 dalam World Economic Outlook. IMF merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2% (dari 3,7% ke 3,5%), sedangkan pertumbuhan perdagangan internasional direvisi menjadi 4%.

Prospek perdagangan global di tahun 2019 tentu sangat memprihatinkan, terutama dikaitkan dengan perang dagang yang dilancarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan risiko Brexit jika klausul no deal brexit menjadi opsi.

Kondisi demikian tentu ini akan semakin problematis, mengingat sumbangan perdagangan internasional terhadap pertumbuhan ekonomi global akan semakin lemah. Setelah volume perdagangan internasional mengalami penurunan sebesar 10,4% pada tahun 2009 akibat dari krisis keuangan global (global financial crisis/GFC), maka pemulihan ekonomi global terasa semakin berat.

Setelah perekonomian global mengalami pemulihan dalam rentang waktu 2010-2011, pertumbuhan perdagangan global rata-rata hanya tumbuh 3,6% dari 2012 ke 2018. Artinya, hanya setengah dari pertumbuhan volume perdagangan global yang rata-rata mencapai 7,1% selama 20 tahun sebelum krisis.

Sudah dapat dipastikan bahwa perlambatan volume perdagangan internasional sangat terkait dengan relatif lambatnya per tumbuhan perekonomian global setelah GFC. Akan tetapi rasio pertumbuhan perdagangan global relatif terhadap pertumbuhan perekonomian global, --suatu indikator yang menetralisir perbedaan dalam arah perekonomian--, menunjukkan bukti yang menguatkan bahwa sedang terjadi proses pelemahan perdagangan internasional.

Dalam periode ekspansi pemulihan ekonomi, yaitu 1985-1990 dan 2002-2007, rasio tersebut rata-rata 1.6. Dengan kata lain, pada periode tersebut, pertumbuhan perdagangan global 60% lebih cepat dari pertumbuhan perekonomian global.

Sebaliknya, sekarang rasio tersebut rata-rata hanya pada kisaran angka 1.0 selama periode 2012-2018, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan perdagangan global telah mengalami deakselerasi, di mana kecepatan pertumbuhan volume perdaganan global sama dengan pertumbuhan ekonomi global.

Perdebatan menyeruak menyikapi perlambatan pertumbuhan perdagangan global yang tajam tersebut. Berbagai riset ekstensif mencoba mengelaborasi penyebabnya. Di antaranya adalah yang dilakukan oleh periset IMF yang diterbitkan pada akhir tahun 2016, yang menyebutkan bahwa penyebab perlambatan perdagangan global tersebut terutama disebabkan oleh melemahnya belanja modal investor swasta.

Namun, hanya kecil disebabkan oleh faktor protektionisme. Namun demikian, konstelasi perekonomian global selama dua tahun ini mengalami perubahan signifikan setelah hadirnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat ke-45.

Di tengah-tengah masih lemahnya belanja modal investor, walaupun ada peningkatan sementara akibat pemangkasan pajak pendapatan korporasi di AS, dunia kini menghadapi peningkatan eskalasi proteksionisme. Peluit perang dagang yang ditiupkan oleh Trump telah menekan global supply chains.

Sebagai akibat temuan IMF di atas, sekarang harus memasukkan variabel proteksionisme sebagai penyebab utama melemahnya pertumbuhan volume perdagangan internasional.  Karena sebagaimana kita ketahui, pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengubah paradigm perekonomian global dari liberalisasi dan globalisasi menuju proteksionisme dan fragmentation.

Seperti yang diutarakan Presiden Trump dalam sambutan pengukuhannya sebagai presiden AS ke-45, dia menggarisbawahi bahwa: “Protection will lead to great prosperity and strength.” Retorika tersebut segera diikuti oleh aksi nyata, seperti keluarnya AS dari kesepakatan Trans-Pacific Partnership, perubahan kerangka NAFTA dengan perjanjian yang berbiaya tinggi: USMCA (United States-Mexico-Canada Agreement), dan tentu saja pengenaan tarif atas produk Tiongkok yang masuk ke pasar AS.

Ditambah dengan mundurnya AS dari Paris Climate Agreement, ancaman bahwa AS akan keluar dari World Trade Organization, dan keluhan Donald Trump akan partisipasianggota lainnya dalam NATO, menggambarkan bahwa AS sedang menjauh dari multilateralisme dan sistem perdagangan global.

Dengan berbagai kemunduran tersebut, perekonomian Tiongkok yang semakin melambat akan kian menambah tekanan berat terhadap pertumbuhan perdagangan global. Sebagaimana ditunjukkan oleh data produk domestik bruto (PDB) Tiongkok terbaru bahwa tren perlambatan ekonomi negara Tirai Bambu ini sedang berlangsung, yaitu pertumbuhan di kuartal IV- 2018 melambat menjadi 6,4%, dari yang sebelumnya pada kuartal III- 2018 mencapai 6,5%.

Yang mengkhawatirkan adalah terjadi penurunan tajam penjualan eceran pada bulan Desember 2018 terhadap konsumsi masyarakat, yaitu seperti merosotnya penjualan mobil dan telepon genggam. Kondisiini menggambarkan adanya pelemahan terhadap permintaan domestic di Tiongkok. Di mana impor Tiongkok tahun 2018 turun 7,6%, padahal di tahun 2017 masih tumbuh 16,1%. Ekspor Tiongkok pada Desember 2018 juga melorot 4,4% akibat dari perang tarif dengan AS.

Masa depan perekonomian dunia akan ditentukan oleh berakhirnya atau tidak perang dagang antara AS dan Tiongkok. Kalau kesepakatan ‘damai’ tercapai pada bulan Maret 2019, diharapkan ekspor AS ke Tiongkok akan meningkat, walaupun sebaliknya ekspor Tiongkok ke AS akan semakin melemah. Tetapi secara keseluruhan akan ada peningkatan perdagangan global, dan yang paling penting adalah ada faktor kepastian. Walaupun akhirnya Tiongkok akan melakukan kebijakan ekspansif untuk memulihkan mesin ekonominya, tetapi efeknya butuh beberapa bulan dalam realisasinya.

Sehingga untuk sementara waktu, impor Tiongkok dalam tahun 2019 ini masih akan berisiko melambat. Hal itu sesuai dengan revisi ke bawah proyeksi IMF terhadap perekonomian global karena faktor Tiongkok. Mengingat Tiongkok adalah pengekspor dunia terbesar dan pengimpor dunia terbesar kedua.

Karena itu, pelemahan perdagangan global masih akan berlanjut sampai posisi Tiongkok membaik kembali. Namun perlu diingat pula dampak dari Brexit; yang jelas Brexit akan semakin menekan dinamika arus perdagangan global. Sebab, Uni Eropa adalah eksportir kedua terbesar di dunia dan importir terbesar di dunia. Ekspor Uni Eropa ke United Kingdom berkirasar 3% dari PDB Uni Eropa, dan angka tersebut semakin tinggi untuk Belgia, Irlandia dan Belanda. Karena itu, Brexit akan semakin memperburuk perdagangan global yang sudah semakin melemah.

Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa tahun 2019 adalah tahun berat bagi siklus perdagangan global. Hal ini tentu akan memberikan tekanan berat pada pertumbuhan ekonomi global. Dalam dunia yang sangat terkait ini, sepertinya tidak terlihat lagi suatu negara utama yang bisa menjadi “oasis” bagi penguatan perdagangan global. Apalagi berharap pada Amerika Serikat yang presidennya sesumbar bahwa terlalu mudah untuk memenangkan perang dagang.

Tri Winarno, Penulis buku: Indonesia Responding The Dynamic of Global Economy

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA