Menu
Sign in
@ Contact
Search

Belajar dari Krisis (Bagian I)

Senin, 15 Oktober 2018 | 08:48 WIB
Oleh Tri Winarno (redaksi@investor.id)

“Jangan pernah berhenti dan malas belajar,” kata Mahatma Gandi. Kalimat itu, masih relevan saat ini. Apalagi di tengah-tengah keprihatinan ekonomi yang sedang membayangi. Untuk itu, mari kita belajar dari krisis demi krisis yang pernah terjadi. Mari kita bandingkan karakteristik Negara-negara yang terdampak krisis dan negara yang tahan goncangan krisis.

Contoh pertama adalah perbandingan antara Argentina dan Brasil. Argentia defisit fiskalnya hanya sekitar 5% terhadap produk domestik bruto (PDB), sedangkan Brasil defisit fiskalnya mencapai 9% terhadap PDB. Sedangkan utang publik Argentina hanya 50% terhadap PDB, namun utang publik Brasil telah menembus 90% terhadap PDB.

Dilihat dari indikator tersebut seharusnya Brasil lebih rentan terhadap krisis dibandingkan dengan Argentina. Namun kenyataannya yang dihantam badai krisis ekonomi adalah Argentina. Sejak awal 2018 hingga hari ini, peso Argentina mengalamai depresiasi lebih dari 60%. Argentina kehabisan cadangan devisanya.

Tingkat bunga kebijakannya oleh bank sentralnya telah dinaikkan hingga mencapai 40%. Sekarang Argentina menjadi pasien baru Dana Moneter Internasional (IMF) dengan mendapatkan bailout sebesar US$ 50 millar. Namun, para investor di pasar keuangan Argentina masih belum dapat ditenangkan oleh masuknya IMF dalam perekonomian Argentina.


Berbeda halnya dengan Brasil. Memang betul real Brasil sedikit mengalami pelemahan, terutama karena ketidakpastian hasil pemilihan presiden pada bulan Oktober 2017. Tetapi tak ada tanda-tanda Brasil tertempa oleh krisis finansial. Kata bijak yang membedakan Argentina dan Brasil adalah perbedaan posisi neraca transaksi berjalannya. Pada akhir 2017, Argentina mengalami defisit transaksi neraca berjalan sebesar 5% terhadap PDB-nya.

Sedangkan Brasil, posisi transaksi berjalannya seimbang. Artinya ekspor barang dan jasa serta pembayaran bunga pinjamannya sama dengan impor barang dan jasanya. Alias, Brasil tidak mempunyai risiko utang terhadap entitas asing. Hal itu berbeda dengan Argentina yang ekonominya selama ini didanai oleh kapital asing yang kebanyakan dalam bentuk portfolio investment.

Walaupun Brasil dilanda kasus politik domestik tapi Brasil tidak dalam posisi dihantam badai krisis seperti Argentina. Karena Argentina mengalami defisit transaksi berjalan yang akut, maka untuk menyeimbangkan posisi transaksi berjalan tersebut, maka Argentina harus mengerem laju impornya dan mendorong laju ekspornya dalam tempo yang begitu singkat. Karena dana asing pada keluar dari Argentina, maka konsekuensi utama dari suatu Negara yang besar pasak dari pada tiang seperti Argentia adalah depresiasi masif mata uangnya. Akhirnya Argentina lempar handuk, megapmegap kehabisan daya dan upaya, hingga datanglah IMF untuk ‘membantunya’.

Berarti, Argentina mengalami krisis lagi, tak pernah belajar dari krisis sebelumnya yang selalu berdalih bahwa “kondisi sekarang beda dengan kondisi krisis terdahulu”. Namun, itu bukan akhir dari cerita sedih Argentina. Neraca transaksi berjalan adalah sama persis dengan perbedaan tabungan dan investasi suatu negara. Defisit transaski berjalan Argentina sebesar 5% menandakan bahwa Argentina mengalami defisit tabungan terhadap investasinya sebesar itu.

Argentina hanya menabung 14% terhadap PDB-nya, sedangakan pengeluaran untuk investasinya melebih 19% terhadap PDB-nya. Berbeda dengan Brasil. Posisi transaksi berjalannya yang seimbang; sedangkan defisit fiskalnya 9%, berarti rakyat Brasil mengalami surplus dana sebesar 9% terhadap PDB-nya. Dan rakyat Brasil lebih suka menaruh dananya untuk membeli obligasi negaranya sendiri. Jadi pinjaman pemerintah Brasil dibiayai oleh tabungan rakyatnya sendiri. Kondisi ini mirip dengan Jepang.

Walaupun rasio utang terhadap PDB publiknya lebih besar dari 150%, Jepang tidak kena krisis. Karena yang membeli obligasi pemerintahnya adalah rakyat Jepang sendiri. Dan Brasil mempertahankan investasi sesuai dengan kemampuan ekonominya yaitu 15% terhadap PDBnya. Suatu rasio yang relatif kecil dibandingkan dengan Chile yang investasinya 23%, serta India dan Tiongkok yang masing-masing investasinya 33% dan 44% terhadap PDB-nya.

Kasus Turki

Contoh kedua adalah krisis yang sedang melanda ekonomi Turki. Sepanjang tahun 2018, Turki telah mengalami turbulensi ekonomi yang sangat menegangkan. Mata uang lira telah anjlok lebih dari 40% dibandingkan dengan posisi dolar AS sepanjang tahun ini.

Pada satu hari saja, yaitu hari Jumat (10/10/2018), nilai tukar lira terhadap dolar AS anjlok hingga hampir 8%. Investor merespons anjloknya lira dengan melepas secara masif saham–saham dan surat utang pemerintah Turki. Alhasil, indeks harga saham-saham utama Turki anjlok hingga 5% dalam satu hari saja, di pekan pertama bulan Agustus 2018.

Imbal hasil surat utang pemerintah Turki dengan tenor dua tahun meroket sampai 94 basis poin ke level 25,74%. Level itu adalah tingkat imbal hasil tertinggi di Turki sejak krisis keuangan global tahun 2008 silam.

Struktur perekonomian Turki yang tidak sehat, yang ditandai dengan defisit neraca transaksi berjalan yang akut, serta ketergantungan yang semakin membesar terhadap investor asing dan menguatnya pengejawantahan Trumponomics, maupun sentimen politik adalah fenomena utama yang dapat menjelaskan turbulensi ekonomi yang sedang dialami oleh Turki.

Defisit transaksi berjalan Turki yang “berkeabadian”, yang rata-rata per tahun melebihi 5% terhadap PDBnya menjadi titik sentral kelemahan perekonomian Turki. Sejak tahun 2000 hingga 2017 saja, total deficit transaksi berjalannya mencapai US$ 555,37 miliar. Kalau waktunya diperpanjang mulai dari tahun 1992, maka total defisit transaski berjalannya tembus US$ 566,53 miliar. Yang lebih parah lagi adalah deficit transaksi perdagangan Turki.

Sejak tahun 2000 hingga 2017, total defisit transaksi perdagangan Turki mencapai US$ 768,17 miliar. Kalau rentang tahunnya sejak 1992, maka total defisitnya tembus US$ 856,55 miliar. Dan sepanjang tahun tersebut tidak ada transaksi perdagangannya yang positif. Berarti untuk membiayai deficit transaksi berjalan yang terus menerus tersebut, Turki membutuhkan sumber pembiayaan atau pinjaman asing yang semakin membesar. Hal ini menjadi titik lemah kedua, setelah defisit transaksi berjalannya yang akut tersebut.

Kondisi ini yang menandakan secara ekonomi, Turki sudah tidak merdeka lagi, alias Turki telah tergadai. Sehingga volatilitas ekonominya sangat tergantung pada mood pendana asing. Secara kasar, sejak tahun 1992 sampai sekarang minimal Turki mempunyai utang terhadap orang asing senilai total defisit transaksi berjalannya, yaitu US$ 566,53 miliar. Bagi perekonomian sebesar Turki yang PDB-nya pada tahun 2017 masih US$ 852 miliar, maka posisi utang yang bersumber dari dana asing tersebut sangat membebani.

Titik lemah perekonomian Turki ketiga adalah struktur sumber dana asing yang digunakan untuk membiayai defisit transaksi berjalannya, yaitu didominasi oleh dana panas berupa portofolio investasi, baik untuk saham maupun obligasi pemerintah. Dana asing itu notabene segera dapat kembali tatkala ada sentimen negatif terhadap isu Turki.

Sejak diberlakukannya kebijakan moneter unconcentional the Fed, yaitu dari tahun 2009 sampai dengan tape tentrum tahun 2013, dana berupa foreign direct investment (FDI) net yang masuk ke Turki sekitar US$ 61,18 miliar, tetapi dana berupa portofolio investasinya (PI) hampir dua kalinya yaitu sebesar US$ 121,96 miliar. Dan mayoritas dana panas tersebut --hampir 80%-- ditanam dalam obligasi pemerintah Turki, yang notabene dana tersebut digunakan untuk pembiayaan operasional pemerintah Turki untuk menutup defisit fiskalnya. Berati struktur ekonomi Turki selalu diwarnai dengan twin deficit, yaitu defisit transaksi neraca berjalan dan defisit fiskal yang persisten, akut. Ciri suatu struktur ekonomi yang tidak sehat.

Masalahnya semakin sulit tatkala defisit transaksi berjalan terus membesar, dan aliran dana panas mulai keluar dari Turki. Kalau rata–rata per kuartal dari tahun 2016 hingga awal kuartal 2018 PI net yang masuk ke Turki sekitar US$ 5,41 miliar, maka pada kuartal II-2018 PI yang keluar dari Turki netto telah mencapai US$ 2,7 miliar. Eksodus PI tersebut masih berlanjut hingga batas waktu yang belum jelas, sampai terjadi kepanikan pasar uang berikutnya, setelah terjadi panic pada tanggal 10 Agustus 2018.

Bom Waktu

Sebenarnya, kekhawatiran pasar bahwa Turki akan menghadapi krisis sudah mulai sejak musim panas tahun 2013. Pada waktu itu pasar mulai takut bahwa normalisasi kebijakan moneter dan berakhirnya pelonggaran kuantitas moneter bank sentral AS akan berdampak buruk terhadap ekonomi emerging markets. Akhirnya krisis sampai juga, dan penduduk Turki akan menanggung bebannya.

Dipastikan Turki akan melakukan pengetatan kebijakan moneternya, mengelola pinjaman luar negerinya semakin hati-hati dan siap-siap menghadapi resesi ekonomi. Faktor non-ekonomi yang memberatkan posisi ekonomi Turki adalah nuansa permusuhan pemerintah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait dengan penahanan pastor AS dan pembelian sistem pertahanan misil S-400 dari Rusia.

Ini langkah riskan bagi Turki, khususnya tatkala AS sedang mengimplementasikan kebijakan fiscal yang ekspansif ala Ronald Reagan sehingga telah mendorong bank sentral AS, the Fed akan menaikkan tingkat bunga acuannya lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Sehingga likuiditas global semakin mengetat, dan sumber pembiayaan eksternal akan semakin susah. Hal itu yang akan memaksa kebijakan Presiden Erdogan semakin akomodatif dengan negara-negara yang akan menjadi sumber pendanaan ekonominya. Selain itu, Turki diperkirakan akan kembali pada kebijakan moneter konvensional serta mengubah kerangka kerja kebijakan fiskalnya. Untung Turki punya Qatar. Dengan bantuan Qatar senilai US$ 50 miliar, Turki tidak perlu di-bailout oleh IMF. Penguatan Turki juga di-backing oleh Rusia dan Tiongkok. Sehingga Turki untuk sementara waktu dapat bernapas agak lega. (Bersambung)

Tri Winarno, Penulis buku: Indonesia responding the dynamic of global economy

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com