Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Sistem Pembayaran dan Perdagangan Komoditas

Rabu, 5 Oktober 2011 | 09:40 WIB
Oleh Achmad Deni Daruri (redaksi@investor.id)

Sistem pembayaran yang diberlakukan di AS paling cocok bagi tumbuh dan berkembangnya pasar komoditas. Sistem pembayaran di negeri itu terbukti mampu mengembangkan pasar komoditas, baik spot maupun berjangka (futures) secara sistematis.

Amerika Serikat telah banyak berinvestasi untuk pemanfaatan sistem pembayaran guna menunjang perdagangan komoditasnya. Penggunaan sistem teknologi dalam sistem pembayaran juga sudah sedemikian canggih, sehingga mampu meningkatkan keuntungan dari perdagangan komoditasnya.

Karena itu, menjelaskan kepada publik akan dampak positif dari penerapan sistem pembayaran yang aman bagi pasar komoditas sangatlah diperlukan. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, pemanfaatan kapasitas sistem pembayaran sangat menentukan efisiensi dalam perdagangan komoditas, baik di pasar spot maupun futures.

Perubahaan Bersamaan
Namun, sistem pembayaran cenderung menciptakan negative supply shocks pada pasar komoditas dunia, sehingga hal itu akan semakin membuat harga komoditas terus membubung tinggi akhir-akhir ini. Itulah makanya system pembayaran menuntut pasar komoditas bukan hanya harus lebih transparan lagi tapi juga lebih memperhatikan perencanaan produksi jangka panjang.

Penelitian yang dilakukan Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agricultural Organization/FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa memperlihatkan bahwa stok komoditas turun sebesar 3,4% setiap tahun semenjak pertengahan 1990-an. Penurunan stok ini sangat erat kaitannya dengan semakin efisiennya sistem pembayaran di AS. Apalagi perkembangan harga dari produk terknologi komunikasi informasi terhadap inflasi umum dan inflasi inti (core inflation) selalu lebih rendah.

Jadi, tidaklah mengherankan jika akhir-akhir ini pasar komoditas disuguhi oleh adanya perubahan yang bersamaan di antara harga-harga komoditas. Harga jagung, misalnya, memiliki pergerakan yang sama dengan harga minyak. Begitu pula dengan harga kedelai, juga memiliki pergerakan yang sama dengan harga minyak. Harga makanan ringan (soyjoy) dan jagung juga bisa bergerak bersama.

Makanya tidaklah mengherankan jika pemerintah India menutup pasar futures untuk komoditas. Namun, penelitian yang dilakukan Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development/ OECD) memperlihatkan bahwa langkah ini justru berpotensi menciptakan biaya yang besar dalam perekonomian.

Jika semua negara mengikuti langkah India maka skala ekonomis dari system pembayaran justru tidak akan pernah tercapai. Dunia akan masuk perangkap fallacy of composition, yaitu bahwa apa yang baik dalam skala kecil belum tentu baik dalam skala besar. Lebih gawat lagi, negara yang memberlakukan pasar futures komoditas justru akan terus membuka peluang untuk menguasai sistem pembayaran dunia.

Asumsi ketergantungan harus didukung oleh analisis empiris dari data kerugian internal dan eksternal akibat dari fallacy of compotition dan juga harus mencerminkan penilaian dari ahli bidang usaha sistem pembayaran. Selain itu, bank sentral harus menganalisis sensitivitas dan pengujian stress pada pengaruh asumsi ketergantungan alternatif dari sistem pembayaran pada estimasi biaya risiko operasional.

Konvergensi tentang jenis pendekatan dan distribusi yang digunakan oleh penyelenggara sistem pembayaran untuk pemodelan kerugian risiko operasional mungkin tidak dapat dicapai karena keparahan sering bersifat istimewa untuk lini bisnis tertentu atau jenis produk pembayaran yang terkait dengan perdagangan komoditas.

Belajar dari Singapura

Dermine (2006) mengingatkan, “Retail banking markets – which matter for mass payment systems – are regional markets and will most likely remain to be local despite many past and future regulatory changes to lower entry barriers.” Namun, perlu diidentifikasikan prinsip- prinsip guna menentukan apakah pendekatan yang dipilih konsisten atau tidak dengan data yang mendasari atau harapan pengawasan dalam system pembayaran dari pasar perbankan yang bersifat ritel untuk komoditas.

Dalam hal ini, kita layak menyebutkan Singapura yang sukses mengembangkan pasar komoditas, dengan dukungan investasi pada sistem pembayaran mereka yang juga sangat mahal dan canggil. Dengan terobosan itu maka Singapura juga mampu mempersiapkan diri menjadi pusat keuangan dunia menantang Swiss. Infrastruktur pembayaran yang dikembangkan oleh Singapura telah menciptakan keunggulan kompetitif yang sangat luar biasa bagi produk-produk keuangan dan pasar keuangan di negara itu, khususnya untuk pasar futures.

Jadi tidaklah mengherankan juga jika bank-bank milik Singapura kini bukan hanya mampu bersaing dengan perbankan kelas satu dunia tetapi juga mampu menggulirkan liberalisasi yang sangat berani. Belajar dari Singapura maka Indonesia harus melakukan investasi yang besar pada sistem pembayaran sebelum liberalisasi pada sistem perbankan.

Sejarah memperlihatkan Indonesia meliberalisasi sistem perbankan mendahului investasi besar pada system pembayaran. Investasi pada system pembayaran sebaiknya dilakukan dengan melakukan simulasi terlebih dahulu. Jika simulasi Monte Carlo digunakan untuk mengukur kapasitas sistem pembayaran dalam konteks perdagangan komoditas, maka sejumlah langkah penting harus dilakukan.

Untuk hal ini, bank sentral dapat menggunakan salah satu dari (i) jumlah iterasi yang sangat besar atau (ii) sejumlah iterasi yang dinamis. Yang terakhir biasanya lebih akurat, yang memungkinkan proses simulasi berhenti ketika variasi marjinal dari pengukuran risiko atau beberapa indeks dispersi lain.

Singapura sudah membuktikan dengan pengukuran baik tersebut, sehingga bukan hanya AS saja yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif pada sistem pembayaran melalui penciptaan pasar futures komoditas internasional yang ada. (*)

Penulis adalah Presiden Direktur Center for Banking Crisis

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN