Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggota Komite Investasi BKPM-RI Rizal Calvary Marimbo ditunjuk menjadi komisaris PT PLN Batam.

Anggota Komite Investasi BKPM-RI Rizal Calvary Marimbo ditunjuk menjadi komisaris PT PLN Batam.

Menerangi Wajah Kita di Asean

Minggu, 28 Juni 2020 | 15:19 WIB
Rizal Calvary Marimbo *)

Traktat London diteken pada 1824. Isinya, baik Singapura maupun Kepulauan Riau (Kepri), dipersilakan bersaing bebas. Tak ada yang melarang. Sebebas-bebasnya.

Keduanya, silakan saling berlomba membangun Pelabuhan Laut. Pelabuhan Laut untuk transit perdagangan internasional. Bukan pelabuhan kaleng-kaleng. Sebab melayani selat teramai sedunia. Selat Malaka.

Dari traktat itu, Singapura kemudian dibeli oleh Inggris. Seharga 82 ringgit. Dari Sultan Husein pada 1857.

Raffles ditugasi membangun pelabuhan besar pada 1875. Sejak itu, Singapura berkembang pesat. Melihat Singapura kian mekar, Belanda gusar. Rumput tetangga lebih subur.

Netscher diperintahkan Pemerintah Belanda membangun Pelabuhan Bintan. Sayangnya, Netscher, tidak sehebat Raffles. Pelabuhan Bintan kalah bersaing dengan Singapura.

Belajar dari kesalahan Netscher, Almarhum Presiden BJ Habibie tak mau mengulang kesalahan sejarah.

Bersaing dengan Singapura, menggunakan model Netscher vs Rafles tak ada gunanya. Maka Habibie menghapus Singapura sebagai ancaman. Justru, Habibie menjadikannya sebagai peluang. Persisnya kawan. Seperti teori balon gas, Habibie bilang Singapura kemudian akan mengembang. Namun lahannya yang hanya seluas 600-an km persegi dirasakan akan semakin sempit.

Saat itulah, Singapura membutuhkan Kepri. Jaraknya hanya 18 km dari Singapura. Hanya saja kali ini, Habibie melihat Batam jauh lebih seksi. Bintan dilihat cocok sebagai penopang.  Jadilah kemudian, Batam dan sekitarnya menjadi penampung luapan dan limpahan kemajuan industri dan ekonomi Singapura.

Di era pemerintahan Presiden Jokowi, Batam dan Kepri tak lagi hanya dianggap sebagai penampung limpahan kemajuan negara-negara tetangga.

Dia adalah wajah investasi dan industri kita. Baik di ASEAN maupun dunia. Sebab itu, selain mendapat limpahan, juga Batam dan Kepri dilihat sebagai destinasi investasi dan industri yang harus terencana dan kompetitif.

Inilah sedikit pemahaman saya soal Batam ketika ditunjuk menjadi komisaris di PT PLN Batam. Sebagai anggota Komite Investasi di BKPM, Kepala BKPM Bapak Bahlil Lahadalia menitip pesan ke saya, pentingnya PT PLN Batam diperkuat untuk membangun daya saing investasi di sana dari sisi ketersediaan listrik.

Sejalan dengan itu, Wamen BUMN, Bapak Budi G.Sadikin dan Dirut PT PLN Bapak Zulkifli Zaini meminta agar komisaris dan direksi bekerja keras agar PLN Batam semakin efisien dan andal dalam melayani pelanggan ke depan.

Pesan Bapak-Bapak kami di atas memang singkat. Tak panjang lebar. Tapi maknanya sangat dalam. Tugasnya yang maha berat.

Bagi kami dewan komisaris yang dipimpin oleh Bapak Iskandar dan dewan direksi dikomandoi oleh Bapak Budi Pangestu, KPI atau ukuran sukses kami tentu tak hanya di neraca keuangan perusahaan.

Tetapi juga di neraca perekonomian, investasi dan industri masyarakat Batam dan Kepri.

Sebab tak mungkin ekonomi rakyat dan industri dibangun tanpa listrik. Dan tak mungkin, ada listrik yang andal tanpa PT PLN Batam yang efisien, sehat, dan kuat. PT PLN Batam semakin penting di negara ini tak hanya karena dia berada Batam atau Kepri tentunya.

Lebih dari itu, sebab wilayah ini adalah cerminan wajah ekonomi, investasi dan industri kita di ASEAN. Bahkan dunia. Selamat Berakhir Pekan! (*)

*) Komisaris PT PLN Batam dan Komite Investasi BKPM), artikel ini adalah pendapat pribadi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN