Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Nur Hidayat

Achmad Nur Hidayat

Hari Santri Nasional, Pandemi Covid-19 dan Akselerasi Ekonomi

Sabtu, 24 Oktober 2020 | 07:19 WIB
Achmad Nur Hidayat *) (redaksi@investor.id)

Jangan jadikan Hari Santri Nasional sekadar seremoni belaka. Jadikan Hari Santri Nasional sebagai momentum akselerasi ekonomi di tengah Covid-19 yang berbasis pesantren dan komunitas. Pemulihan ekonomi dapat dimulai dari keberpihakan kepada santri dan pesantren yang komprehensif. Mengapa begitu?

Setiap tanggal 22 Oktober, Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Kenapa tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional? Ini tidak terlepas dari Perjuangan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdatul Ulama dan fatwa beliau tentang Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 lalu.

Advertisement

Perkembangan santri dan pesantren Indonesia tidak lepas dariperjuangan KH Hasyim Asy‘ari. Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KH Hasyim Asy‘ari menyerukan kepada para santri untuk melakukan perlawanan total terhadap tentara NICA Belanda dan Inggris yang hendak menjadikan Indonesia sebagai bagian dari Belanda. KH Hasyim Asy’ari sebagai ulama pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan: “Membela Tanah Air dari penjajah hukumnya fardlu’ain atau wajib bagi setiap individu“.

Seruan jihad yang dikobarkan oleh KH Hasyim Asy’ari tersebut membakar semangat para santri. Lima hari kemudian, tepatnya 27 Oktober 1945, para santri dan arekarek Surabaya menyerang markas Brigade 49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Jenderal Mallaby pun tewas dalam pertempuran yang berlangsung 3 hari berturut-turut: tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945.

Ia tewas bersama dengan lebih dari 2.000 pasukan Inggris yang tewas saat itu. Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berujung pada peristiwa 10 November 1945, yang tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari para santri dan ulama.

Memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah, tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Hari Santri Nasional adalah peringatan betapa besarnya sejarah kita mencatat bagaimana peran besar para ulama, para kiai, para santri dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada 22 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan Hari Santri Nasional di Masjid Istiqlal Jakarta yang dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad santri merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama.

Hari Santri Nasional ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Hari Santri digelar pertama kali pada tahun 2016. Kini, tahun 2020, adalah peringatan Hari Santri Nasional ke-4 yang dilakukan secara sederhana di tengah pandemi Covid-19.

Tema Hari Santri Nasional saat ini adalah “Santri Sehat Indonesia Kuat“. Diharapkan pemulihan kondisi Indonesia dapat dimulai dari para santri yang terbiasa hidup sehat dan mandiri.

Dalam peringatan Hari Santri Nasional di tengah pandemic Covid-19 diharapkan santri bukan hanya sebagai tokoh agama tapi juga tokoh perjuangan. Tokoh perjuangan di sini artinya jika zaman dulu ikut melawan penjajah, saat ini santri berkontribusi dalam perubahan dan perbaikan masyarakat di tengah pandemi Covid-19, termasuk di sektor ekonomi.

Pesantren tidak hanya tempat para penimba ilmu agama, tapi di pesantren berhimpun juga anak yatim, dhuafa, janda yang satu sama lain bahu membahu membangun aktivitas ekonomi yang saling peduli dalam jiwa kekeluargaan. Pesantren tidak hanya tempat belajar agama, melainkan juga pusat kegiatan ekonomi.

Menghidupkan kembali kegiatan pesantren merupakan keharusan dan prioritas utama karena di situlah pusat ilmu dan ekonomi berjalan. Berbagai pesantren ada yang memiliki kebun dan sawah yang dikembangkan bersama dengan melibatkan para santri sehingga tercipta rantai penawaran-permintaan yang sehat.

Banyak pondok pesantren juga mengembangkan pendidikan dengan konsep kemandirian. Salah satunya ialah menyelenggarakan kegiatan bidang ekonomi untuk membantu kebutuhan pondok sendiri.

Bila momentum Hari Santri Nasional ini digunakan untuk melakukan akselerasi ekonomi kerakyatan yang dimulai dari basis pesantren dan komunitas, hal tersebut tepat sekali.

Kementerian Keuangan melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah mengalokasikan bantuan sebesar Rp 2,6 triliun, yang diharapkan dana tersebut bisa membantu pesantren membuka kembali kegiatan belajar dan kegiatan ekonomi sesuai dengan protokol kesehatan. Kita berharap di Hari Santri Nasional 2020 mengingatkan kita bahwa di era awal kemerdekaan 1945, perjuangan santri begitu hebat dalam membebaskan negeri dari penjajahan.

Kini, para santri, kaum terpelajar, diharapkan memiliki semangat perjuangan yang sama dalam melawan Covid-19, terutama dengan membangun model kemandirian ekonomi pesantren. Para pengambil kebijakan harus berani memulai akselerasi ekonomi dari pesantren, program pemberian kredit dalam santripreneur dengan skema yang ringan dan berdasarkan syariah harus dimasifkan oleh negara.

Jangan jadikan Hari Santri Nasional hanya seremonial semata. Namun, jadikanlah Hari Santri Nasional sebagai momentum akselerasi ekonomi yang dimulai dari pesantren dalam bentuk membangun kemandirian ekonomi. Tetap semangat berkarya, berjuang, demi cita-cita yang suci dan mulia. Itulah para santri. Semangat mengaji dan berbakti untuk agama dan bangsa senantiasa terpatri di hati. Selamat Hari Santri Nasional.  

*)Pakar Kebijakan Publik Narasi Insititute 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN