Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hans Kwee, Direktur Anugerah Mega Investama dan Dosen MET Atmajaya

Hans Kwee, Direktur Anugerah Mega Investama dan Dosen MET Atmajaya

Penambahan Investor dan Kepercayaan pada Pasar Modal

Senin, 7 Desember 2020 | 14:06 WIB
Hans Kwee

Di tengah pandemi Covid-19, industri pasar modal tetap menjadi pilihan investasi masyarakat. Terlihat terjadi peningkatan minat investor untuk bertransaksi saham.

Minat investor ritel ditandai dengan meningkatnya jumlah rerata harian investor ritel saham yang melakukan transaksi sejak Maret sampai dengan Juli 2020. Data menunjukkan terjadi peningkatan 82,4% dari bulan Maret 2020 sebanyak 51 ribu mencapai 93 ribu investor pada Juli 2020. Angka investor ritel yang bertransaksi pada Juli 2020 berada di atas rata-rata investor aktif ritel sejak awal tahun 2020 yang sebanyak 65 ribu investor ritel.

Tercatat selama pandemi terjadi peningkatan jumlah investor yang membuka rekening di perusahaan sekuritas. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), SID atau Single Investor Identification mengalami peningkatan dan menembus angka 3 juta. SID merupakan identitas tunggal investor yang digunakan untuk melakukan aktivitas di pasar modal Indonesia mulai dari transaksi hingga penyelesaiannya. SID memastikan tidak terjadi double perhitungan jumlah investor.

Di tengah naiknya jumlah investor ritel di pasar modal Indonesia ada beberapa tantangan yang dihadapi. Salah satu yang cukup kentara adalah masih terkonsentrasinya investor di pulau Jawa, khususnya di DKI Jakarta. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuat kebijakan strategis, salah satunya tentang pembentukan perusahaan efek daerah untuk mengoptimalkan jaring pemasaran dan menjangkau calon investor terutama calon investor yang berada di daerah. Upaya ini sangat baik sebab potensi nasabah baru di daerah cukup besar sebagai konsekuensi pembangunan ekonomi semakin merata di Indonesia.

OJK juga mendorong percepatan pembukaan rekening efek melalui simplifikasi pembukaan rekening efek. Pandemi Covid-19 memang menjadi masalah perekonomian, tetapi di sisi lain mendorong proses digitalisasi lebih cepat. Saat ini banyak perusahaan sekuritas menerapkan pembukaan rekening tanpa tanda tangan basah. Di tengah pandemi aktivitas yang membutuhkan kontak langsung dikurangi, sehingga simplifikasi pembukaan rekening efek tanpa tanda tangan basah akan sangat membantu menaikkan minat investor lokal. Pembukaan rekening efek harus secepat dan semudah membuka akun di situs e-commerce untuk mulai berbelanja.

Dulu proses pembukaan rekening efek membutuhkan beberapa hari karena diperlukannya tanda tangan basah dan verifikasi melalui tatap muka antara calon nasabah dengan tenaga pemasar dan pengiriman dokumen fisik. Beberapa sekuritas mengatakan hanya butuh waktu 1 jam untuk membuka rekening saat ini. Hal ini tentu sangat baik karena akan mengurangi kontak, mempercepat proses dan meningkatkan minat investasi masyarakat. Hal ini kami pikir menjadi salah satu alasan kenapa jumlah investor ritel naik diikuti aktivitas transaksinya.

Tantangan lain yang berusaha dijawab OJK adalah keterbukaan informasi perusahaan atau emiten. Banyak investor lebih terobsesi oleh keuntungan cepat dan besar di jangka pendek, sehingga tidak terlalu teliti mencermati informasi sebuah emiten. Masih banyak pelaku pasar ritel bertransksi ikut-ikutan pelaku pasar lain atau informasi dari media sosial yang semakin mudah diakses. Padahal, motif orang dalam memberikan informasi bermacam-macam dan tidak semuanya baik. Hal ini membuat beberapa pelaku pasar ritel menderita kerugian.

OJK dan self regulatory organization (SRO) pasar modal meningkatkan perlindungan investor ritel dengan memberikan notasi khusus pada kode saham emiten. Notasi ini untuk memberitahu investor bahwa emiten tersebut mempunyai sejumlah masalah. Ada yang terlambat menyampaikan laporan keuangan, memiliki ekuitas negatif, atau sedang proses restrukturisasi utang, dll. Tentu hal ini akan sangat baik untuk memberikan informasi kepada investor.

Di tengah upaya OJK dan SRO mendukung investor, penulis berpendapat investor ritel harus lebih pintar dan berhati-hati dalam melakukan transaksi. Ketika mendapatkan keuntungan di pasar saham ataupun produk investasi lainnya, pelaku pasar hanya gembira dan bersyukur. Tetapi ketika mendapatkan kerugian banyak pelaku pasar berusaha mencari kambing hitam dan tidak menerima kerugian tersebut.

Harusnya investor mempelajari kenapa bisa untung, apakah karena kebetulan atau keberuntungan. Dan bagaimana cara mengulangi keuntungan tersebut. Ketika terjadi kerugian juga harus dilakukan analisis kenapa hal tersebut bisa terjadi dan ke depan tidak diulangi. Beberapa pelaku pasar terjebak ke saham-saham yang lama tidak likuid, yang mendadak naik dan menjadi likuid. Volatilitas yang besar banyak menimbulkan kerugian karena perbedaan arah pasar dan keputusan. Votalitas adalah bahasa lain dari risiko, yang bisa diantisipasi bila pelaku pasar tahu persis apa yang dibeli, termasuk potensi return dan risikonya.

Sebagian pelaku pasar ketika rugi menyalahkan pihak lain, termasuk otoritas bursa tanpa mau belajar bertanggung jawab atas transaksi yang dilakukannya. Minat yang besar masyarakat diikuti upaya otoritas pasar modal meningkatkan integritas pasar sudah sangat baik, tetapi ke depan investor juga harus meningkatkan pengetahuan dan pemahamaan pasar saham. Naiknya jumlah investor adalah bukti nyata naiknya kepercayaan masyarakat akan pasar modal dan otoritas pasar modal.

 

*) Direktur Anugerah Mega Investama, Dosen MET Atmajaya

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN