Menu
Sign in
@ Contact
Search
Guru Besar FEB Universitas Brawijaya

Guru Besar FEB Universitas Brawijaya

Pemulihan Ekonomi dan Peranan Daerah

Senin, 21 Desember 2020 | 11:22 WIB
Mohamad Khusaini *) (redaksi@investor.id) ,Abdul Manap Pulungan **) (redaksi@investor.id)

Dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia sangat terasa. Dari sisi pertumbuhan ekonomi, performa tahun ini jauh dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, realisasi pertumbuhan ekonomi 2020 serasa lebih buruk dari krisis 1997/98. Hal ini tidak terlepas dari dampak Covid-19 yang menekan sisi permintaan dan sisi penawaran. Inilah yang membedakan krisis Covid-19 dengan krisis-krisis sebelumnya.

Dalam dua triwulan, Indonesia tumbuh negatif, masing-masing 5,32% (year on year/ yoy) dan 3,49% (yoy). Dampak lanjutan dari pertumbuhan negatif tersebut terekam dari penurunan kemampuan pemerintah menjaga indikator- indikator sosial. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) melonjak. Angka kemiskinan kembali naik. Gini rasio juga memburuk. Covid-19 menyebabkan kinerja pemerintah dalam beberapa tahun terasa lenyap.

Tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi diproyeksi masih terjadi hingga akhir tahun 2020. Sepertinya, momen konsumsi tinggi pada Natal dan Tahun Baru tidak berperan signifikan untuk menambal pelemahan konsumsi rumah tangga.

Sejak awal pemerintah meminta agar perayaan Natal dan Tahun Baru dibatasi guna mengurangi penyebaran Covid-19. Pembatasan aktivitas tersebut diikuti dengan penurunan konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor utama dalam pemulihan ekonomi dari Covid-19. Sementara itu, konsumen pun semakin ‘malas’ berkonsumsi karena alasan berjaga-jaga.

Pada sisi lain, konsumen semakin menikmati return investasi di portofolio bank maupun di pasar modal dan saham. Hal ini menjadi alasan logis untuk menahan belanja sembari mengotak-atik penempatan dana.

Berbagai stimulus telah dikeluarkan oleh pemerintah maupun regulator sektor keuangan. Pada sektor fiskal, pemerintah men stimulus perekonomian hingga Rp 695 triliun lewat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Dana tersebut dialokasikan ke beberapa pos seperti kesehatan, perlindungan sosial, K/L-Pemda, UMKM, dunia usaha dan pembiayaan korporasi. Realisasi PEN hingga akhir November mencapai 62%. Stimulus moneter dalam bentuk koreksi suku bunga acuan juga dilakukan oleh Bank Indonesia (BI).

Suku bunga acuan telah mencapai level terendah dalam beberapa tahun terakhir sebesar 3,75%. Akan tetapi, transmisi rekoreksi suku bunga acuan ke suku bunga perbankan relatif lamban.

Data Otoritas Jasa Keuangan (2020) menunjukkan bahwa respons penyesuaian suku bunga acuan (BI 7 Days Repo Rate) terhadap suku bunga perbankan cukup berbeda. Sepanjang Januari- September, suku bunga acuan turun 1% (100 bps) namun suku bunga deposito (>=12 bulan) hanya turun 0,59% (59 bps). Kehatian- hatian bank mengoreksi suku bunga simpanan untuk mengantisipasi pemindahan dana oleh deposan di tengah-tengah yield Surat Berharga Negara (SBN) yang cukup menarik. Koreksi suku bunga kredit juga berbeda.

Pada kredit modal kerja bank umum, koreksi suku bunga sepanjang Januari-September 2020 sekitar 0,69% (69 bps); sedangkan pada kredit investasi dan konsumsi masing-masing 0,81% (81 bps) dan 0,34% (34 bps).

Fokus Pemulihan di Daerah

Abdul Manap Pulungan, Ekonom Indef
Abdul Manap Pulungan, Ekonom Indef

Salah satu kunci percepatan aktivitas ekonomi adalah penanganan dan pemulihan dampak Covid-19 di provinsi-provinsi ber kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) Nasional.

Menurut data Badan Pusat Statistik (2020) peranan ekonomi pusat (diproksi lewat PDRB DKI Jakarta) mencapai 17,66% pada triwulan III-2020, sisanya dikontribusi oleh provinsi- provinsi lainnya.

Ada beberapa provinsi yang memiliki peranan berarti pada pembentukan PDB, yaitu Jawa Timur (14,6%); Jawa Barat (13,45%); Jawa Tengah (8,6%); Banten (6,63%); Sumatera Utara (4,9%); Kalimantan Timur (4,28%) dan Sulawesi Selatan (3,16%).

Untuk itu, sangat krusial untuk menyelesaikan Covid-19 di level daerah agar ekonomi nasional bisa pulih lebih cepat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemimpin daerah untuk mendukung dan menyambut pemulihan ekonomi.

Pertama, memetakan sektor- sektor yang menjadi winner dan looser selama pandemi dan me rumuskan peta jalan pemulihan. Menurut Kementerian Keuang an (2020), beberapa sektor yang memiliki eksposur tinggi Covid-19 adalah sektor perdagangan, penyediaan akomodasi, transportasi, industri pengolahan, jasa penerbangan, dan jasa pembiayaan kredit motor.

Sementara itu, sektor-sektor yang tereksposur moderat seperti pertanian, jasa keuangan dan asuransi, per tambangan, informasi dan komunikasi, jasa perusahaan, serta pembiayaan kredit kepemilikan rumah (KPR).

Beberapa sektor tereksposur rendah seperti konstruksi, real estat, pengadaan listrik gas, adminitrasi pemerintahan, jasa pendidikan, jasa kesehatan, dan pengadaan air.

Kedua, pemerintah daerah seyogianya fokus pada sektor- sektor yang berkontribusi signifikan terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja. Tentu, perkembangan sektor-sektor lainnya juga harus diperhatikan. Secara teori, sektor yang paling besar kontribusinya terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja adalah sektor tradable (labour intensive). Sektor yang dimaksud adalah sektor pertanian, pertambangan dan industri pengolahan.

Di Jawa Timur, misalnya, kontribusi sektor tradable mencapai 47% terhadap PDB, sedangkan terhadap penyerapan tenaga kerja mencapai 48%. Selain sektor tradable, fokus lainnya pada usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan tenaga kerja informal. Sebagaimana diketahui UMKM menjadi penyumbang utama PDB di pusat dan di daerah.

Sektor informal sangat terpuruk saat pandemic dan menjadi ‘pelarian’ bagi pekerja yang ‘tereliminasi” dari sektor formal. Sayangnya, kondisi sektor informal saat pandemic Covid-19 sekarang ini berbeda dengan saat krisis 1997/98.

Ketiga, dukungan sektor perbankan. Pemulihan ekonomi di pusat dan di daerah bisa berjalan jika sektor perbankan berkontribusi lebih tinggi. Sayangnya, aktivitas sektor perbankan ditentukan oleh permintaan rumah tangga dan sektor riil (demand pull).

Jika memperhatikan kondisi sektor perbankan di daerah terutama Bank Pembangunan Daerah (BPD), terlihat bahwa struktur dana BPD relatif longgar. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit yang lebih rendah dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Idealnya, kelonggaran likuiditas mendorong penurunan suku bunga kredit.

Pada September 2020, kredit BPD tumbuh 5,6% (yoy), sedangkan DPK tumbuh hingga 12,91% (yoy). Akan tetapi, beberapa indika tor intermediasi justru melambat: (i) terjadi penurunan porsi penyaluran dana BPD ke kredit dari 68% (Januari 2020) menjadi 61% (September); (ii) porsi penempatan dana di BI naik menjadi 14% dari posisi 8,8% pada Januari 2020.

Penempatan dana BPD di BI meningkat hingga 65% (yoy) pada September; (iii) penempatan pada surat berharga juga naik menjadi 12% pada September dari 9,2% pada Januari 2020. Penempatan dana BPD di surat berharga naik 29% (yoy); (iv) Loan to Deposit Ratio (LDR) BPD turun dari 87% pada Januari 2020 menjadi 74% September 2020.

Keempat, menjaga daya beli. Saat pandemi, upaya menjaga daya beli dapat dilakukan lewat dua hal, baik lewat bantuan tunai langsung dan menjaga stabilitas harga pangan. Bantuan tunai langsung sangat penting untuk menahan penurun an daya beli rumah tangga prasejahtera. Namun demikian, perlu juga diberikan stimulus untuk kelas menengah.

Kelas menengah menjadi penopang utama pertum buhan ekonomi di pusat dan di daerah. Stabilitas harga pangan harus dijaga karena be sarnya pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Memang, saat ini, inflasi cenderung menurun. Namun, inflasi bahan pangan masih cukup tinggi.

*) Guru Besar FEB Universitas Brawij aya

**) Ekonom Indef

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com