Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hellington, Analis Anggaran Madya, Direktorat PNBP Sumber Daya Alam dan Kekayaan Negara Dipisahkan, Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan

Hellington, Analis Anggaran Madya, Direktorat PNBP Sumber Daya Alam dan Kekayaan Negara Dipisahkan, Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan

Biaya ATM di Masa Pandemi

Kamis, 27 Mei 2021 | 23:18 WIB
Hellington *)

Pengumuman “Biaya administrasi ini berlaku terhitung mulai 1 Juni 2021 dan seterusnya sampai dengan adanya perubahan di kemudian hari”, menghiasi laman sebuah bank BUMN.

Per 1 Juni 2021 men datang, Bank Man diri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Tabungan Negara (BBTN) yang berhimpun dalam Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) akan mengenakan biaya administrasi atas transaksi cek saldo sebesar Rp 2.500 dan tarik tunai sebesar Rp 5.000 di ja ringan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Himbara atau ATM Link kepada nasabahnya.

Semula, transaksi cek saldo dan tarik tunai di ATM Link adalah gratis atau Rp 0. Kebijakan pengenaan biaya administrasi atas transaksi cek saldo dan tarik tunai tersebut menghentak perhatian masyarakat saat kondisi perekonomian yang belum pulih dari krisis aki bat pandemi Covid-19.

Sejarah ATM Link

Sehubungan dengan ATM Link ini, ingatan masyarakat kembali ke pengujung tahun 2015. Saat itu, Menteri BUMN Ri ni Soemarno meresmikan peng gu naan ATM Link di Pusat Gro sir Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Setelah itu, jaringan ATM Link terus berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Perbankan Himbara berko labo rasi untuk menyatukan pengelolaan ATM secara bersama dengan nama ATM Link. Konsolidasi ditujukan untuk meng-create efisiensi.

Dengan pengelolaan ATM secara bersama pada satu perusahaan swit ching bakal menghemat biaya investasi dan operasional sehingga dapat mendukung pengembangan usaha bank Himbara dan penghematan biaya tran saksi bagi nasabahnya.

Dengan jaringan ribuan mesin ATM Link telah membe rikan kemudahan transaksi ba gi nasabah bank Himbara dan layanan diperoleh secara cuma-cuma untuk tarik tunai dan cek saldo. Tak dimungkiri fa silitas ATM Link menjadi salah satu key success bank Himbara dalam menggaet calon nasabah.

Kinerja ATM

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 telah menekan kinerja perbankan nasional secara signifikan. Hal itu akibat kontraksi pertumbuhan ekonomi, perlambatan pertumbuhan kredit/ pembiayaan, penurunan dan pembatasan aktivitas usaha, peningkatan kredit macet, dan peningkatan biaya untuk penanganan pencegahan pandemic Covid-19.

Di gedung penulis bekerja, di suatu pojok berjejer 5 ATM Link dari tiga bank Himbara, sepertinya masing-masing bank masih berlomba menambah jaringan ATM. Namun sejatinya, berdasarkan data paparan kinerja 2020, jumlah ATM bank Himbara terus menu run.

Jumlah ATM bank Himbara tahun 2020 tercatat sebanyak 50.506 unit. BNI menjadi pemilik terbanyak ATM, yakni sebanyak 18.311 unit, yang sebelumnya ATM terbanyak dimiliki oleh Bank Mandiri.

Pada 2020, jumlah ATM telah berkurang 7.788 unit, lebih besar dari pengurangan pada tahun 2019 sebanyak 2.125 unit. Pada 2020, Bank Mandiri menutup 5.074 unit ATM-nya, tindakan serupa dil akukan pula oleh BRI (2.304 unit), BNI (348 unit), dan BTN (62 unit). Tren pengurangan ATM diperkirakan akan terus berlanjut.

Kebijakan pengurangan jumlah ATM adalah wajar sebagai bagian efisiensi biaya, karena satu ATM membutuhkan biaya sekitar Rp 140-180 juta.

Untuk 50.506 unit ATM diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp 7,1-9,1 triliun. Di sisi lain, sebagai ilustrasi, pada 2020 Bank Mandiri membukukan pendapatan fee ATM sebesar Rp 691 miliar (turun 7%), se dangkan fee digital banking me ningkat 19,3% menjadi Rp 964 miliar.

Hal ini selaras dengan berkurangnya nilai transaksi dan frekuensi penggunaan ATM semenjak pandemi Covid-19, dan di gantikan dengan penggunaan aplikasi digital. Perpindahan penggunaan layanan ke digital banking diperkirakan akan semakin me nurunkan pendapatan fee ATM.

Transformasi Digital

Perkembangan layanan berbasis digital menjadi tren dan semakin berkembang di Indonesia. Berbagai kemudahan dan inovasi berbasis teknologi telah memudahkan masyarakat dan dunia usaha untuk mengakses layanan perbankan. Penetrasi penggunaan internet banking dan mobile banking berbasis aplikasi semakin meluas.

Di masa pandemi Covid-19 yang mengharuskan perubahan perilaku masyarakat, termasuk mengubah perilaku transaksi nasabah, banyak nasabah beralih untuk menggunakan digital banking.

Sehubungan dengan hak tersebut, bank harus mampu mengembangkan teknologi informasi untuk menjawab tantangan transformasi digital dengan mengembangkan teknologi informasi yang memiliki kecepatan, ketepatan, efisiensi, produktivitas, validitas, dan meningkatkan pelayanan kepada nasabah.

Oleh karenanya, bank harus berinvestasi besar untuk pengembangan teknologi informasinya. Bank yang gagal merespons persaingan digitalisasi yang semakin meningkat akan ditinggal oleh nasabah.

Respons Pengenaan Tarik Tunai

Dengan berbasiskan data transaksi selama ini, bank Himbara dapat menghitung potensi penerimaan fee transaksi ATM. Namun demikian, realisasinya mungkin saja akan berbeda.

Sangat mungkin, berkaitan dengan kebijakan pengenaan biaya administrasi atas transaksi cek saldo dan tarik tunai di ATM Link serta kondisi pandemi, nasabah akan semakin rasional menggunakan ATM.

Semisal, penabung hanya akan menggunakan ATM milik bank tempat ia menabung. Untuk itu, identitas ATM harus dicantumkan secara jelas untuk menghindari perselisihan dengan nasabah.

Selain itu, nasabah bisa beralih menjadi nasabah bank yang memilih jaringan ATM terba nyak. Jika hal ini terjadi akan me ngakibatkan bank lain menderita. Saat ini, bank mengenakan biaya administrasi tabungan/ ATM bervariasi, berkisar Rp 13-21 ribu per bulan.

Di samping itu bank menetapkan saldo minimum, yang mana jika saldo di bawah minimum akan dikenakan penalti. Tingkat bunga yang diberikan bank sangat kecil, saldo di bawah nilai tertentu mendapatkan bunga 0%. Suku bunga riil tabungan negatif karena di bawah tingkat inflasi.

Sebagian penabung kemungkinan akan menarik saldo tabungan untuk kebutuhan bulanannya lalu disimpan di bawah kasur jika dirasa akan dikenakan biaya yang besar akibat frekuensi penarikannya yang berkali-kali.

Beda halnya dengan penabung yang sudah memanfaatkan digital banking, mereka dapat menggunakan aplikasi e-banking atau m-banking dengan bebas biaya jika hanya sekadar mengecek saldo atau mutasi tabungan.

Seyogianya, kebijakan pengenaan biaya administrasi atas transaksi cek saldo dan tarik tunai di ATM Link perlu ditinjau ulang, baik besaran biaya dan justifikasi dasar pengena an biayanya.

Untuk pengenaan biaya administrasi atas transaksi penarikan tunai masih relevan dikenakan, namun tetap perlu memperhatikan kemampuan nasabah di masa pandemi saat ini. Sedangkan untuk pengenaan biaya administrasi atas transaksi cek saldo harus dijelaskan justifi kasinya secara terbuka kepada nasabah.

Di berbagai wilayah masih banyak nasabah sulit mengakses ATM untuk keperluan transaksinya. Dampak kebijakan pengurangan ATM akan kian berpotensi mengakibatkan semakin terbatasnya mereka mengakses ATM.

Untuk itu bank Himbara harus men jaga persebaran ketersediaan ATM di seluruh wilayah Indonesia. Apalagi, beberapa program pemerintah seperti Kartu Tani dan PKH juga menggunakan fasilitas ATM Himbara untuk pencairan dana. Bank Himbara seyogianya lebih bijak mengenakan biaya administrasi karena pengenaan biaya tarik tunai dan cek saldo ATM Link akan membebani nasabah di masa sulit ini.

Sebagai BUMN, bank Himbara juga berfungsi sebagai kuasi-fiskal, di mana diharapkan efektif dalam mendukung program-program pemerintah.

*) Analis Anggaran Madya, Direktorat PNBP Sumber Daya Alam dan Kekayaan Negara Dipisahkan, Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan. (Disclaimer: Tulisan merupakan pendapat pribadi penulis, tulisan tidak mencerminkan pendapat institusi penulis bekerja).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN