Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Chaikal Nuryakin dan Faradina Alifia Maizar

Chaikal Nuryakin dan Faradina Alifia Maizar

Menilik Rencana IPO GoTo

Senin, 5 Juli 2021 | 08:18 WIB
Chaikal Nuryakin dan Faradina Alifia Maizar *)

Setelah mengumumkan penggabungan usaha pada akhir Mei 2021, publik saat ini sedang menanti-nanti rencana besar selanjutnya dari GoTo, perusahaan gabungan Gojek dan Tokopedia, untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering) saham di Indonesia.

Selain per usahaan yang mempersiapkan diri untuk memenuhi persyaratan melantai di bursa, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga melakukan berbagaipenyesuaian untuk mengakomodasi perusahaan teknologi dengan skala unicorn (perusahaan rintisan dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar). BEI mengumumkan bahwa saat ini pihaknya sedang merumuskan aturan agar perusahaan teknologi atau unicorn seperti GoTo dapat masuk ke papan utama atau main board.

Aturan keuangan mengenai profit dan aset berwujud bersih (net tang ible asset) akan disesuaikan untuk mendukung pencatatan saham GoTo.

Di sisi lain, OJK sedang mempertimbangkan aturan yang memperbolehkan multiple voting share agar pendiri perusahaan masih memiliki kendali dalam perusahaan.

Langkah BEI dan OJK untuk menyesuaikan aturan tentang pencatatan saham dinilai sebagai langkah yang tepat. Jika GoTo melakukan penawaran umum perdana saham mengikuti aturan yang berlaku saat ini di Indonesia, GoTo dapat masuk di papan pengembangan akibat belum memenuhi persyaratan profit dan net tangible asset.

Padahal, kapitalisasi pasar GoTo diprediksi mencapai kisaran US$ 35 miliar hingga US$ 40 miliar atau berkisar Rp 507,1 triliun hingga Rp 579,6 triliun dengan kurs Rp 14.489,5 per dolar Amerika Serikat.

Dengan nilai tersebut, GoTo merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga di BEI setelah PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Sementara itu, bila melihat persyaratan keuangan, GoTo dapat masuk ke papan utama atau mainboard di bursa saham Singapura, Malaysia, dan Nasdaq (Amerika Serikat).

Jika berhasil masuk ke papan utama, GoTo akan menjadi perusahaan teknologi skala unicorn pertama yang mencatatkan saham perdananya pada papan tersebut.

Melantainya GoTo di bursa bisa menjadi motivasi bagi perusahaan teknologi lainnya untuk ikut segera menawarkan sahamnya pada publik. Hal ini yang terjadi pada saat Google melakukan penawaran umum perdana saham pada tahun 2004.

Saat itu, Google menjadi perusahaan teknologi pertama yang melakukan IPO pasca-Dot-com bubble. Penawaran saham ke publik oleh Google memberikan dorongan bagi perusahaan teknologi lain yang ingin mengumpulkan dana publik.

Pada tahun yang sama, lebih dari 20 perusahaan teknologi mengajukan IPO. Pertumbuhan Google yang secara konsisten menunjukkan angka positif, baik dari segi pro fit maupun harga saham me nunjukkan bahwa perusahaan teknologi memiliki potensi yang tinggi dan mengembalikan kepercayaan konsumen pasca-Dot-com bubble.

Penawaran umum perdana saham GoTo diharapkan memiliki efek yang sama bagi perusahaan sejenis maupun terhadap antusiasme masyarakat untuk mulai berinvestasi. Sedikit catatan, rencana IPO GoTO tentu ti dak lepas dari tantangan. Setelah IPO, GoTo harus senantiasa menjaga performa perusahaan dan menaati aturan yang lebih ketat, misalnya mengenai audit keuangan.

Dari sisi makroekonomi, muncul kekhawatiran mengenai volatilitas pasar keuangan pasca-IPO, di mana jika terjadi shock pada GoTo, investor dapat sewaktu-waktu menarik dananya dari pasar saham domestik. Meskipun kapitalisasi pasar GoTo diperkirakan 7% - 8% dari total kapitalisasi pasar, regulator dan publik perlu tetap ber hati-hati.

Mengatasi kekhawatiran itu, OJK sudah membuat pe nga wasan pada emiten-emiten, se perti transaksi dan kepatuhan berbagai lembaga yang terlibat dalam kegiatan pasar modal, sehingga kekhawatiran mengenai volatilitas pasar saham dapat diredam. Amerika Serikat yang memiliki dua bursa dengan kapitali sasi pasar tertinggi di dunia, yaitu NYSE dan Nasdaq, sudah menerapkan beberapa kriteria pada tingkat papan yang sama.

Dengan begitu, perusahaan yang ingin melakukan pencatatan pada bursa dapat lebih leluasa untuk memenuhi satu kriteria yang sesuai dengan kondisi perusahaannya.

Untuk mendukung perusahaan berbasis teknologi dan inovasi, Tiongkok mendirikan STAR Market yang memiliki persyaratan yang lebih akomo datif dibandingkan dengan dua bursa lainnya di negara yang sama.

Terbukti dengan kemudahan persyaratan, lebih dari 200 perusahaan bergabung di STAR Market dalam waktu sekitar satu tahun setelah didirikan dan menghasilkan lebih dari 287,6 miliar yuan (US$ 44 mi liar).

Selain itu, jumlah investasi asing di STAR Market melonjak dari 270 juta yuan pada akhir 2019 menjadi 5,64 miliar yuan pada akhir November 2020, se tara dengan 0,17% kapitalisasi pasar. Hong Kong, Singapura, dan Shanghai yang termasuk beberapa bursa terkuat di Asia telah menerapkan multiple voting share. 

Penyesuaian aturan oleh BEI dan OJK diharapkan dapat mendukung dan mendorong aktualisasi dampak positif dari rencana IPO GoTo.

Berdasarkan studi yang dilakukan LPEM FEB UI, merger Gojek dan Tokopedia di perkirakan memberikan kontribusi sebesar 0,1-0,3% dari pro duk domestik bruto (PDB) nasional. Dalam studi yang sama, kontribusi total Gojek-Tokopedia post-merger diperkirakan sebesar 1,9%-2,1% dari PDB nasional.

Selain bermanfaat sebagai sumber pendanaan perusahaan, rencana IPO perusahaan teknologi skala unicorn pertama di Indonesia itu diharapkan dapat menumbuhkan spillover investasi dari investor dalam dan luar negeri.

*) Kedua penulis adalah peneliti LPEM FEB UI

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN