Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Amuk Pandemi dan Lost Generation

Minggu, 8 Agustus 2021 | 07:19 WIB
Dwi Mukti Wibowo *)

Saat ini, Covid-19 tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Pada awalnya pemerintah Indonesia mengira Covid-19 sangat kecil kemungkinannya menyerang anak-anak. Anak-anak dianggap memiliki imunitas tinggi dibanding orang dewasa, khususnya lansia. Kini, dugaan itu salah.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indone sia (IDAI) Dr dr Aman B Pulungan SpA(K), justru menyatakan kasus Covid-19 pada anak di Indonesia tertinggi di dunia. Berdasarkan data sebaran kasus Covid-19 di Indonesia, hingga 29 Juni 2021 sebanyak 12,6% kasus menyerang anak-anak kelompok usia 0-18 tahun, terdiri atas 2,9% kasus menyerang anak usia 0-5 tahun dan 9,7% kasus menyerang anak usia 6-18 tahun.

Berdasarkan data case fatality atau tingkat kematian pada anakakibat virus SARS-CoV-2 adalah 3-5%.

Dari total kasus positif Covid-19 nasional saat ini, 12,5%-nya usia 0-18 tahun. Ini menunjukkan, satu dari delapan kasus positif Covid-19 di Indonesia merupakan anak-anak.

Dari jumlah kasus anak itu, sebanyak 3-5% di an taranya meninggal dunia, dan separuhnya adalah balita. Sebagian besar kasus virus corona yang menyerang anak-anak ini tanpa gejala atau bergejala ringan.

Sedangkan anak-anak yang membutuhkan perawatan karena positif Covid-19 sebanyak 3,1% pada usia 0-5 tahun dan 10,4% pada usia 6-18 tahun.

Secara kumulatif, kasus Covid-19 pada anak di Indonesiater tinggi berasal dari kelompok usia 7-12 tahun (28,2%), diikuti kelompok usia 16-18 tahun (25,23%) dan kelompok usia 13-15 tahun (19,92%).

Terpaparnya anak-anak oleh Covid-19, sekaligus memperkuat pernyataan Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore bahwa mitos yang terus berkembang bahwa anak-anak hampir tidak terpengaruh oleh penyakit ini, adalah jauh dari kebenaran. Anak-anak yang terpapar justru dapat menularkan dan tertular siapa saja.

Menurut Ketua KPAI Dr Susanto, penyebab anak terpapar Covid-19, antara lain: tertular dari keluarga, lingkungan bermain atau interaksi antaranakseumu r an, lingkungan sosialtempat tinggal anak, dan lokasi yang berkerumun ketika anak bepergian atau beraktivitas dengan ke luarga. Yang jelas, mereka ku rang mematuhi protokol kesehatan dan menganggap pandemi Covid-19 mulai terhenti.

Padahal situasi semakin meresahkan ka rena kemunculanvarian baru. Varian-varian baru virus Covid- 19 memiliki daya penularan lebih tinggi dibanding Covid-19 awal. Keempatnya itu adalah varian Delta asal India yang paling berbahaya (daya tular 97%), diikuti varian Gamma (Brasil) 38%,_Alpha (Inggris) 29%, dan Beta (Afrika Selatan) 25%.

Covid-19 varian Delta memiliki gejala sakit perut, selera makan hilang, mual, muntah, gangguan pendengaran, sakit sendi, sakit kepala, sakit tenggorokan, nyeri sendi, pilek.

Kasus Covid-19 yang menyerang anak-anak dinilai sebagai keadaan khusus dan sangat membahayakan (Multisysteminflammatory syndrome/Miss C). Miss C terjadi pada anakanak yang kondisinya bisa lebih buruk dari orang dewasa jika anak mengalami kondisi multiple organ dysfunction.

Apalagi susah mengetahui ada keluhan atau tidak dari anak-anak yang belum bisa berbicara lancar, dan baru ketahuan jika kondisinya sudah memburuk saat yang bersangkutan tidak bisa apa-apa lagi (info Relawan Lapor Covid, Tri Maharani).

Dengan demikian, pandemic Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda kapan berakhir. Konsekuensinya, semua pihak harus menempatkan aspek kesehatan menjadi prioritas utama.

Kenapa? Pandemi Covid-19 masih nyata adanya dan menjadi sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Sebagai insan beragama, ikhtiar dan tawakal harus tetap dilakukan untuk menyelamatkan generasi mendatang.

Kita paham, jika harus hidup berdampingan dengan Covid-19 dalam tatanan baru. Namun apabila pandemic ini terus bergolak dan berlarut, akibatnya bakal mengerikan terutama bagi anak-anak.

Untuk itu, orang tua dan seluruh warga masyarakat harus benar-benar menjalankan protokol kesehatan. Harus tetap memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya. Dan harus bisa mandiri, mulai mengontrol kondisi anak, hingga mengantar imunisasi sendiri agar terhindar dari risiko penularan Covid-19 varian Delta.

Menurut Ketua Umum IDAI, saat ini dokter anak di seluruh dunia sedang memikirkan risiko buruk dari pandemi Covid-19. Jika pandemi tak terbendung men jangkiti dan merenggut nyawa anak-anak sampai dengan akhir tahun, maka bisa dibayang kan 5 juta kelahiran anak di Indonesia setiap tahunnya di khawatirkan terpapar Covid.

Sehingga tidak tertutup kemungkinan terjadi lost generation. Terminologi lost generation pada awalnya digunakan untuk menyebut kelompok sosial yang mengalami kebingungan serta kehilangan arah pada periode awal pasca-Perang Dunia I.

Dalam konteks saat ini, pandemi yang tak kunjung usai akan membuat anak-anak berisiko mengalami “kebingungan” terkait masalah mental dan psikologi. Bagaimana traumanya anak-anak nantinya karena keadaaan yang dialami sekarang.

Trauma saat diisolasi dan kehilangan orang tuanya serta saudara-saudaranya. Atau trauma ketika orang tuanya sakit terpaksa ia dititipkan ke tetangga. Pandemi Covid-19 telah membuatnya trauma dan menjadi bencana kemanusiaan global yang akan dikenang sepanjang sejarah.

Kekhawatiran terjadi generasi yang hilang mulai didiskusi kan UNICEF saat menerbit kan sebuah laporan global yang di be ri bingkai “Averting a Lost Co vid Generation” (UNICEF, 2020). Laporan tersebut berisi usulan yang harus menjadi kerja kolektif untuk merespons, memulihkan, dan me ngimajinasi ulang dunia pas capandemi yang ramah bagi anak-anak.

Usulan yang terkait dengan pendidikan, kesehatan, kesenjangan digital, dan kemiskinan, bukan hanya mengupas masalah ketika masa pandemi saja, tetapi juga masa depan sebuah bangsa.

Kekhawatiran terjadinya lost generation memang akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.

Untuk merespons realitas terkait risiko lost generation, paling tidak ada tiga strategi besar untuk konteks Indonesia.

Pertama, mengelola ekspektasi bersama dengan membangun persepsi yang sama. Situasi pandemi harus dipandang beda dengan saat ketika normal. Karenanya, kita perlu menyinkronkan perspektif dalam melihat realitas dan perbedaan kepentingan yang ada.

Kedua, menyesuaikan diri dengan tatanan baru, sehingga perlu keragaman solusi yang komunikatif dan adaptif.

Ketiga, memberikan kesempatan kepada semua elemen masyarakat untuk berperan dalam bekerjasama, bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah agar tidak ada lagi kesenjangan kebijakan, karena multitafsir atau ketidaktegasan.

Adapun langkah-langkah untuk mengurangi korban pandemic pada anak sekaligus ke khawatiran lost generation, antara lain:

Pertama, harus dilakukan langkah preventif ketimbang kuratif. Caranya semua anak-anak yang terkena Covid di stadium ringan segara diobati, kemudian anak-anak yang masuk stadium berat, segera dilakukan pertolongan gawat darurat.

Kedua, jangan sampai terulang kekurangan fasilitas kesehatan seper ti oksigen, APD dan fasilitas lainnya karena masalah kemampuan ekonomi keluarga. Apalagi bagi mereka yang menganggap puskesmas menjadi satu-satu nya tujuan.

Ketiga, pemerintah harus turun tangan memperkuat dukungan di masa-masa sulit ini, yaitu memberikan peningkatan layanan perlindungan sosial dan dukungan keuangan langsung kepada keluarga yang berjuang agar anak tetap selamat.

Keempat, platform layanan kesehatan seperti Halodoc dan yang lainnya diminta membantu pemerintah mempercepat vaksinasi dengan memperluas layanan vaksinasi yang dapat diakses melalui aplikasi.

Kelima, edukasi publik kepada orang tua dan atau anaknya secara intensif terkait Covid-19 terus digalakkan, mulai dari gejala secara medis, tips pencegahan, hingga penanganan pertamanya.

Keenam, negara perlu lebih fokus mengatasi pandemic maupun prapandemi Covid-19 ter utama pada anak. Termasuk pentingnya pemantauan terhadap indikator risiko kesehatan maupun risiko perkembangan gangguan mental saat masa remaja.

Ketujuh, pemerintah harus mengusahakan agar sebagian besar rumah sakit memiliki memiliki ruang ICU (Intensive Care Unit) khusus anak.

Sementara itu, obat-obatan termasuk Intravenous Fluid Drops (IVFD) terbatas karena tidak masuk dalam skema pelayanan BPJS.  Akhir kata, ada per tanyaan yang menarik, yaitu mengapa Indonesia lebih khawatir terhadap lost generation ketimbang negara AS yang juga terkena amuk Covid-19 dengan jumlah korban anak-anak yang cukup besar?

Sebagai perbandingan de ngan Amerika Serikat (AS), American Academy of Pediatricspekan ini melaporkan bahwa sejak pandemi merebak hingga 17 Juni lalu, jumlah anak-anak yang tertular mencapai 14,2% dari total orang yang tertular di seluruh negara bagian, atau berarti sekitar 4,02 juta anak. Namun tingkat kematian anak akibat Covid-19 di AS adalah 0,22%.

Tujuh negara bagian bahkan melaporkan tidak ada anak yang meninggal karena Covid-19. Artinya tingkat kesejahteraan yang memberikan pelayanan kesehatan di sana memang tidak diragukan lagi. Demikian juga dari sisi penanganan kesehatan maupun fasilitasnya. Pendek kata, jika tantangan sosial ekonomi masih menjadi an caman di Indonesia, potensi generasi muda sebagai “bonus” justru menjadi beban.

Ke depan hanya akan ada kekecewaan dan keterpinggiran karena tingginya ketimpangan ekonomi, minimnya kesempatan kerja, rendahnya kua litas pendidikan dan daya saing. Akhirnya memberikan tekanan psikologis yang mendorong mereka membebani struktur masyarakat dengan ren dahnya produktivitas dan ting ginya konsumsi (Harmadi 2015, Hayes & Setyonaluri, 2015). Siapkah generasi kita ke depan menjadi generasi kedelapan de ngan beban mental? Semoga menjadi bahan renungan.

*) Pemerhati Masalah Sosial, Ekonomi dan Kemanusiaan, Kepala Biro Humas dan Kerjasama Universitas Muhammadiyah Bandung.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN