Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hans Kwee, Praktisi Pasar Modal dan Dosen MET Atmajaya. Foto: IST

Hans Kwee, Praktisi Pasar Modal dan Dosen MET Atmajaya. Foto: IST

Investor Ritel Harus Rasional

Jumat, 10 September 2021 | 21:26 WIB
Hans Kwee*)

Kebangkitan investor ritel Indonesia merupakan sisi lain dari dampak pandemi Covid-19 di Indonesia. Saat ini penambahan investor ritel Indonesia didominasi kaum milenial dan generasi Z. Tentu menjadi tugas bersama untuk memberikan literasi tentang investasi yang baik dan benar.

Penulis beberapa waktu lalu mengisi acara tentang literasi investasi yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK, selain melakukan fungsi penga wasan, juga terlihat aktif melakukan literasi keuangan kepada masyarakat. Tentu hal ini sangat positif bagi industri keuangan di tengah peningkatan investor ritel.

Saat ini di pasar modal dihebohkan istilah new economy dan old economy. Sebagian besar perusahaan yang selama ini dikenal pe laku pasar dianggap memakai model old economy. Sedangkan per usahaan-perusahaan teknologi dan digital dianggap sebagai new economy.

Yang terjadi saat ini adalah harga saham perusahaan old eco nomy, yang sebagian punya fun damental kuat, tidak bergerak kemana-mana bahkan tertekan turun karena dampak pandemic Covid-19. Sedangkan harga saham perusahaan-perusahaan teknologi dan digital yang dianggap new economy naik luar biasa biarpun perusahaan tersebut sering kali tidak didukung oleh fundamental yang kuat.

Hal ini memang tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19, di mana saham teknologi dianggap lebih diuntungkan ketika banyak orang bekerja dari rumah dan mengurangi pertemuan secara fisik.

Mungkin sebagian pembaca berpikir: apakah yang membuat saham-saham yang fundamentalnya kurang baik atau relatif jelek tetapi sahamnya bisa naik banyak? Dan mungkin ada yang bertanya: apakah kenaikan saham-saham dengan fundamental kurang baik ini melanggar aturan?

Kenaikan saham-saham tanpa fundamental baik bisa saja terjadi karena harga saham juga memuat ekspektasi tentang prospek perusahaan di masa depan. Ketika investor melihat potensi prospek, menyebabkan minat terhadap saham tersebut meningkat sehingga terjadi kenaikan demand.

Hal inilah yang membuat harga saham itu naik. Apakah hal ini melanggar aturan? Tentu tidak karena harga saham terbentuk karena demand dan supply yang dipengaruhi oleh fundamental perusahaan dan harapan di masa yang akan datang.

Ketika sebuah perusahaan mengumumkan sebuah rencana di masa depan, seringkali rencana tersebut menimbulkan harapan yang besar akan potensi perusahaan tersebut di masa yang akan da tang. Sebagai konsekuensinya harga saham bisa naik karena ren cana tersebut. Ambil contoh be berapa bank BUKU 1 dan 2 di Indonesia mengumumkan rencana berubah menjadi bank digital.

Tetapi perlu diingat rencana tersebut bisa batal karena satu dan lain hal dan rencana tersebut juga bisa gagal karena banyak hal yang mungkin terjadi. Jadi bila rencana itu batal atau rencana itu gagal, konsekuensinya harga saham bisa terjun bebas, sehingga investor men derita kerugian. Kembali pertanyaan, apakah hal ini melanggar aturan?

Jawabannya tentu tidak, karena bisnis selalu mengandung risiko dan salah satunya adalah pem batalan rencana bisnis atau kegagalan rencana bisnis. Hal ini bisa menjadi pelanggaran hokum bila ada unsur penipuan di dalam kegagalan rencana tersebut. Melihat kenyataan ini penulis berpendapat, investor ritel harus rasional.

Ketika memutuskan membeli sebuah saham, investor harusnya mengetahui dengan persis apa yang dibeli. Karena sebenarnya membeli saham adalah membeli perusahaan. Karena itu, investor harus memahami bisnis perusahaan yang dibeli, kondisi fundamental perusahaan serta prospek di masa yang akan datang.

Selain faktor itu, investor harus mengetahui nilai fundamental dari perusahaan yang dibeli, di mana nilai fundamental yang sering disebut valuasi perusahaan sudah memasukkan kondisi fundamental saat ini dan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Selain itu untuk menilai prospek, sebuah rencana perusahaan harus dikaji secara cermat dan rasional, apakah masuk akal, bagaimana peluang suksesnya, dan bagaimana reputasi manajemen dan pemiliknya selama ini.

Hal ini sangat penting kar na bila membeli perusahaan dengan fundamental bagus dan atau perusahaan yang punya prospek yang bagus, investor berpotensi mendapatkan cuan di masa yang akan datang. Cuan menunjukkan keuntungan yang didapatkan investor dari berinvestasi di pasar modal. Tetapi bila perusahaan yang dibeli tersebut berfundamental “jelek” dan atau prospeknya tidak pasti, maka yang terjadi investor akan boncos. Boncos merupakan istilah yang populer saat ini untuk menggambarkan kerugian yang didapatkan investor.

Investor ritel harus rasional karena ada risiko kerugian ketika rencana bisnis batal atau gagal. Investor ritel harus bertanggung jawab atas dana yang dimiliki dengan membeli sesuatu yang aman dan punya prospek.

Jangan sampai investasi hanya ikut-ikutan, membeli dan menjual karena kata orang. Menjadi tamak untuk mengejar keuntungan tanpa menyadari ada risiko yang besar. Nanti yang terjadi adalah waktu untung menjadi lupa daratan, t etapi ketika rugi menyalahkan orang lain, termasuk otoritas. Kembali lagi perlu diingat bahwa naik turunnya harga saham tidak melanggar aturan, kecuali ada un sur manipulasi di dalamnya. Karena investasi mengandung risiko, jangan hanya berpikir potensi keuntungannya.

Jadi, acara literasi yang dibuat otoritas pasar modal seperti yang dilakukan OJK sudah sangat baik, mengingatkan investor ritel tentang peluang keuntungan investasi di pasar modal tetapi juga ada potensi risiko berinvestasi. Sa lam rasional.

*) Praktisi Pasar Modal dan Dosen MET Atmajaya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN