Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teguh Patriawan, Direktur Utama dan Pendiri PT Nusantara Sawit Sejahtera.

Teguh Patriawan, Direktur Utama dan Pendiri PT Nusantara Sawit Sejahtera.

Kontribusi Sawit di Tengah Serangan Kampanye Hitam

Rabu, 15 September 2021 | 22:41 WIB
Teguh Patriawan*)

Sektor agribisnis memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Berdasarkan data Bank Dunia, sejak tahun 1990 sektor agribisnis atau pertanian selalu menyumbangkan lebih dari 12% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Selain itu, sektor agribisnis juga merupakan tumpuan ekonomi dari banyak masyarakat yang hidup di lingkungan perdesaan. Secara keseluruhan, bisa dikatakan bahwa sektor ini berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 20 juta jiwa masyarakat Indonesia (data Kementerian Pertanian, 2018).

Beberapa komoditas unggulan sektor agribisnis di antaranya ada lah padi, jagung, kacang tanah, kedelai, teh, dan kopi.

Selain itu, kelapa, kina, tebu, karet, dan tentunya juga kelapa sawit yang bisa dikatakan sebagai komoditas strategis. Kelapa sawit memiliki peran dalam pembangunan ekonomi nasional, karena seba gaimana ditekankan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,

Indonesia adalah negara penghasil sawit terbesar di dunia. Semakin tahun, populasi penduduk dunia terus bertambah. Hal ini tentu akan berdampak pada kebutuhan terhadap minyak nabatidunia yang juga akan terus meningkat.

Kebutuhan minyak nabati tersebut akan sulit terpenuhi apabila hanya dipenuhi oleh minyak nabati subtropis seperti soybean, rapeseed, dan sunflower karena faktor efisiensi yang berada di bawah kelapa sawit.

Dalam hal produksi, kelapa sawit bisa menghasilkan 4 ton/ha, sedangkan soybean hanya menghasilkan kurang dari 1 ton/ ha.

Kini, permintaan minyak nabati di pasar global terus meningkat, termasuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan tu r un annya. Demi memenuhi ke butuhan dunia dan menjaga penggunaan lahan dunia yang terbatas secara efisien, kelapa sawit harus diberi peran lebih dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia. Terlebih, Indonesia sebagai penghasil CPO terbesar di dunia seharusnya mampu menikmati lebih banyak manfaat dari situasi ini.

Namun, kampanye hitam (black campaign) terhadap industri sawit membuat persepsi masyarakat terhadap sektor ini menjadi buruk, meski memiliki kontribusi yang besar terhadap ekonomi nasional. Apakah perkebunan sawit meng eksploitasi alam?

Perkebunan sawit tidak bisa dikatakan mengeksploitasi alam. Hal ini di ka renakan prinsip perkebunan ke lapa sawit adalah budidaya tanaman. Ada masa tanam, perawatan dan ada masa panen. Jadi, perkebunan sawit tidak mengandalkan alam saja untuk memproduksi CPO berkualitas.

Bahkan perkebunan kelapa sawit selalu melakukan re-planting tanaman tua yang tidak lagi produktif. Hal ini sejalan dengan pernyataan Patrick Moore, Co- Founder Greenpeace, yaitu menanam pohon dan menggunakan pohon itu bagus, menanam pohon dan menebang pohon lagi juga tidak masalah karena pohon dapat menyimpan karbon dioksida dari atmosfer dalam jangka waktu lama (sekuestrasi karbon).

Sekuestrasi karbon sebetulnya juga menjadi salah satu cara mitigasi pemanasan global dan perubahan iklim. Sekuestrasi karbon juga menjadi cara dalam memperlambat akumulasi gas rumah kaca yang kemudian dapat menimbulkan efek rumah kaca.

Meski diterpa oleh serangan kampanye hitam, industri sawit tetap setia menopang perekonomian nasional. Bukan main-main, ekspor sawit sudah menyumbang devisa sekitar US$ 20 miliar hingga US$ 25 miliar per tahun. Lalu dari hulu ke hilir, industri sawit mampu menyerap 20 juta tenaga kerja baik langsung maupun tidak langsung. Di masa pandemi, sub sektor perkebunan sawit juga membuktikan keperkasaannya.

Berdasarkan data Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN), sektor ini mampu bertahan pada saat semua sektor ekonomi terpuruk. Harga CPO menembus level US$ 1.000 per ton pada Mei 2021.

Keberlanjutan

Dalam beberapa tahun terakhir, perkebunan sawit di Indonesia umumnya sudah menerapkan prinsip sustainability atau keberlanjutan. Perlu juga dipahami bah wa sustainable development tidak hanya seputar masalah budidaya, produksi dan keuntungan bisnis, tetapi juga perannya kepada masyarakat. Masyarakat lokal yang berada di kawasan perkebunan sawit dan juga para petani sawit adalah bagian penting dari keberlangsungan industri sawit.

Community empowerment terhadap masyarakat setempat sudah menjadi tanggung jawab bagi perusahaan sawit. Contoh dari pemberdayaan masyarakat yang dilakukan antara lain adalah meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan, bantuan kesehatan, sosial, ekonomi, dan juga kemanusiaan.

Hal-hal ini menunjukkan bahwa industri sawit, seperti industri lain pada umumnya, juga berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat ataupun kepedulian sosial perusahaan (CSR).

Memelihara lingkungan, mengembangkan komunitas, memper hatikan kesejahteraan dan ke sehatan para petani, sudah menjadi hal yang diterapkan oleh banyak perusahaan sawit. Komitmen dalam menjaga lingkungan juga ditunjukkan perusahaan sawit dengan mengedukasi para petani terkait cara membuka lahan yang ramah lingkungan.

Dengan memaksimalkan lahan yang ada, produksi sawit nasional masih berpeluang ditingkatkan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan intensifikasi tanaman karena kegiatan ekstensifikasi semakin terbatas. Apalagi, tidak semua wilayah di Indonesia sesuai untuk budidaya sawit.

Menjawab berbagai tudingan kampanye hitam harus berdasarkan data, logika, dan fakta. Kita semua perlu sadar bahwa berbagai tudingan kampanye hitam terhadap industri sawit juga memiliki unsur politis yang dibawa oleh ke lompok tertentu.

Dengan kerja sama dan komitmen bersama dari berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah, pelaku industri dan ma sya rakat bisa diyakini bahwa industri sawit tetap mampu bertahan di tengah badai kampanye hitam. Dan, kita semua tengah berusaha agar CPO Indonesia bisa menjadi penguasa pasar minyak nabati di dunia.

*) Direktur Utama dan Pendiri PT Nusantara Sawit Sejahtera.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN