Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Djoko Retnadi, Advisor untuk CEO LPEI

Djoko Retnadi, Advisor untuk CEO LPEI

Animo Berwisata dan Respons Pelaku Usaha

Jumat, 17 September 2021 | 23:48 WIB
Djoko Retnadi *)

Hampir satu setengah tahun kita hidup di era pandemi Covid-19. Selain masalah perubahan pola kerja dan kemerosotan volume bisnis, ada hal yang membuat masyarakat cukup prihatin yaitu hilangnya kesempatan untuk menikmati wisata dalam berbagai bentuknya.

Sesuai survei McKinsey, di Amerika Serikat, makan di luar rumah (dine out) dan jalanjalan ke tempat hiburan atau tempat wisata adalah kebutuhan wisata urutan teratas di luar jenis-jenis wisata lainnya, yang rasanya tidak terlalu berbeda dari kondisi masyarakat kita.

Berbagai hambatan menikmati sarana wisata tersebut mendorong masyarakat dan dunia usaha menyikapinya dengan berbagai reaksi.

Akibat kebijakan lock down, memaksa mind set masyarakat harus lock down juga. Orang yang terbiasa pergi ke bioskop atau melihat live music, akhirnya terpaksa menikmati hiburan tersebut di rumah melalui suguhan Netflix, Google Play, YouTube atau malah menonton kembali siaran televisi yang sebelum pandemi tidak pernah dilihat.

Reaksi Pelaku Usaha

Pengeluaran masyarakat untuk berwisata berbanding lurus dengan pendapatan para pelaku usaha yang terkait dalam jaringan wisata seperti transportasi, akomodasi, restoran, pemilik resort, pertunjukan hiburan, event organizer, biro perjalanan, usaha kerajinan dan sebagainya.

Sesuai survei McKinsey, bahwa di tahun 2020, total perjalanan bisnis dunia telah menyusut 52%, sedangkan di Amerika Serikat (AS) pengeluaran perusahaan untuk perjalanan binsis anjlok sampai 71%.

Kebijakan vaksinasi yang memadai diharapkan menciptakan kekebalan komunal sehingga interaksi antarwarga dan penutupan akses ke lokasi wisata dapat diperlonggar. Namun, dampak belum meratanya program vaksinasi telah menimbulkan beban tambahan bagi setiap orang yang hendak melakukan perjalanan wisata, baik lokal apalagi antarnegara.

Berbagai prosedur pemeriksaan dan adanya antrean di berbagai lokasi akses bepergian semakin menyurutkan orang untuk bepergian.

Dua jenis usaha yang sangat menderita akibat berkurangnya pengeluaran masyarakat untuk tujuan wisata adalah usaha turisme dengan jaringan huluhilirnya, dan pusat perbelanjaan atau mall.

Untuk usaha turisme, karena kendala akses perjalanan antarnegara sangat terhambat, maka mereka mau tidak mau akhirnya harus fokus pada layanan wisata dalam negeri. Cukup banyak hotel berbintang saat ini mencari peluang usaha dengan menawarkan jasa isolasi mandiri untuk warga yang terkena Covid tanpa gejala bekerjasama dengan tenaga medis dari rumah sakit.

Selain itu, berbagai convention hall juga berupaya menawarkan fasilitas seminar dengan fasilitas zoom (webinar) akibat adanya protokol kesehatan yang ketat. Menjadi hal yang biasa untuk saat ini penyelenggaraan seminar secara hybrid, di mana sebagian peserta atau pembicara bertatap muka secara langsung, namun sebagian besar mengikuti melalui zoom berbayar.

Bagi pusat pembelajaan, pemberlakuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1 - 4 dan protokol kesehatan yang ketat memaksa mereka memutar otak untuk menjaga agar omzet tidak terlalu merosot. Apalagi bila vaksinasi menjadi syarat untuk masuk ke pusat perbelanjaan, maka peluang penjualan secara langsung (of f line) akan semakin berat.

Berbagai penyewa tempat usaha di mal, khususnya yang menjual barang bermerek, telah melakukan upaya penjualan tidak langsung, baik melalui media sosial (FaceBook, Instagram, atau Twiter) maupun dititipkan ke market place. Namun demikian, sebagaimana dikatakan oleh Michelle Gass, CEO Kohl, sebuah pusat perbelanjaan besar di Amerika Serikat, “I think the role of brick and mortar has been underestimated. Shopping isn’t simply transactional – it’s entertaining”.

Jelas bahwa orang pergi ke mal bukan sekadar untuk membeli barang, namun juga mencari hiburan. Tidak salah bila tata letak mal terdiri atas pertokoan dan berbagai fasilitas hiburan (one stop service).

Menurut Gass, ada tiga hal yang harus dilaksanakan oleh pusat perbelanjaan di masa pendemi, yaitu pertama, harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih ba nyak tinggal di rumah, dan khusus untuk pakaian yang dita war kan harus yang memberikan kenyamanan.

Dengan demikian, adalah tidak mungkin menawarkan jenis pakaian yang bersifat formal dan membutuhkan kerapihan seperti kemeja lengan panjang, atau jas untuk masyarakat yang beraktivitas di rumah.

Kedua, harus memanfaatkan penjualan melalui system digital, baik melalui media sosial atau market place (lapak online). Adanya berbagai pembatasan tidak memungkinkan masyarakat datang untuk berbelanja ke mal.

Penjualan tanpa kontak langsung harus menjadi alternatif cara penjualan di tengah pandemi.

Ketiga, penjual harus dapat memberikan value (nilai) yang lebih daripada pesaing. Value bukan hanya harga yang tepat, namun juga berbagai program menarik, seperti gimmick beli dua dapat satu, penggunaan point kartu kredit, discount member, diskon hari ulang tahun, bebas ongkos kirim, dan berbagai tawaran lain yang membuat pusat perbelanjaan tersebut menjadi top of mind di mata pelanggannya.

Hasrat Kembali Berwisata

Bisnis wisata dan belanja sepertinya dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bisnis wisata ternyata sangat ditopang oleh pengeluaran untuk perjalanan bisnis.

Menurut McKinsey (2021), ada empat ke lompok masyarakat yang dibedakan menurut mudah tidaknya mereka melakukan kembali perjalanan bisnis, ketika pandemi telah berakhir.

Dengan memahami adanya kelompok-kelompok tersebut ma ka pelaku usaha wisata akan mampu menangkap peluang dan mengatur strategi agar para pengguna jasa wisata atau perjalanan bisnis merasa akan terpuaskan kebutuhannya pascapandemi.

Yang pertama adalah kelompok “never left”, yaitu kelompok yang beranggapan bahwa perjalanan bisnis adalah hal yang wajib dilakukan apabila pandemi telah usai. Kelompok ini mewakili sekitar 15% dari total pengeluaran biaya perjalanan bisnis di tahun 2019, termasuk di antaranya para manajer yang harus melakukan kunjungan ke berbagai jaringan kerja yang tersebar luas. Kelompok ini melakukan perjalanan bisnis, bila tidak menggunakan pesawat, melalui darat menggunakan kereta atau naik mobil.

Kedua, kelompok “never returning”, yaitu kelompok yang tidak akan melakukan perjalanan bisnis walaupun pandemi telah berakhir. Kelompok ini mewakili hampir 20% pengeluaran biaya perjalanan bisnis. Kelompok usaha ini umumnya menerapkan digitalisasi yang dapat menjaga efektivitas kerja walaupun bekerja di remote area sehingga tidak membutuhkan perjalanan bisnis lagi.

Bagi pekerja yang telah terbiasa bekerja efektif jarak jauh, mereka akan memiliki opsi untuk berpindah ke perusahaan lain apabila seusai pandemi mereka diwajibkan bekerja kembali di kantor.

Fenomena ini tampaknya telah dipahami oleh CEO sehingga penerapan hybrid work akan menjadi pilihan seusai pandemi dalam rangka mencegah pekerja berbakat berpindah ke perusahaan lain yang menawarkan pola kerja lebih fleksibel,

Ketiga, kelompok “fear of missing out” (FOMO), yang meyakini bahwa perjalanan bisnis adalah hal yang sangat penting untuk menjaga hubungan dengan konsumen agar tidak pindah ke pesaing.

Jumlah kelompok ini mencapai 60% dan akan menjadi motor penggerak bangkitnya perjalanan bisnis atau wisata pascapandemi.

Kelompok seperti ini lebih banyak ditemukan pada pelaku UKM di mana masalah keputusan untuk kembali melakukan perjalanaan bisnis tidak memerlukan pesetujuan dan birokrasi yang panjang.

Pada umumnya, sektor UKM menghadapi persaingan yang ketat sehingga kebutuhan untuk bertemu dengan konsumennya merupakan salah satu cara meningkatkan daya saing dalam rangka menjelaskan produk dan jasa yang dijualnya dengan lebih komprehensif dan akrab kepada pembeli.

Yang keempat yaitu kelompok “wait and see”.Kelompok ini kebanyakan adalah para pekerja pada industri yang sangat tidak kompetitif dan kontribusinya se kitar 5% terhadap pengeluar an biaya perjalanan bisnis di tahun 2019. Pekerja kelompok ini umumnya berasal dari sektor pemerintahan, jasa profesi, atau organisasi nirlaba yang selama pandemi dapat memanfaatkan sarana webinar untuk menggantikan pertemuan tatap muka, sehingga mereka sangat berhitung bila harus kembali melakukan perjalanan fisik.

Respons Pelaku Usaha

Ada empat strategi yang dapat diterapkan oleh pelaku usaha di bisnis wisata menurut McKinsey, yaitu pertama, mengembalikan kapasitas awal. Menghadapi pandemi sangat banyak pekerja di sektor wisata diberhentikan dari pekerjaannya, sehingga mereka telah berpindah kerja di sektor lainnya. Sebagai contoh di Inggris, 10% pekerja di sektor pariwisata beralih ke sektor lain dan enggan untuk kembali ke sektor pariwisata.

Demikian juga halnya di sektor perhotelan ataupun pengangkutan udara, cukup banyak yang harus dipersiapkan kembali untuk merekrut, melatih, dan mengembalikan kemampuan usaha sebagaimana kondisi sebelum pandemi.

Kedua, melakukan investasi yang inovatif untuk meningkatkan kualitas layanan wisata pelanggan. Digitalisasi proses wisata, mulai dari ticketing hingga usai perjalanan wisata merupakan pengalaman yang penting bagi wisatawan.

Di tengah pandemi yang memerlukan berbagai proses tambahan di bandara seperti antrean menunjukkan dokumen vaksinasi, protokol kesehatan yang ketat dan lain-lain, memerlukan perhatian yng memadai oleh perushaaan wisata,

Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, wisatawan perorangan, apalagi wisatawan keluarga, lebih banyak membutuhkan bantuan panduan untuk kenyamanan perjalanan mereka.

Ketiga, mengembalikan pendekatan yang lebih komersial. Permasalahan yang dihadapi oleh penumpang pesawat atau tamu hotel adalah soal fleksibilitas jadwal terbang atau tanggal menginap. Di tengah pandemi yang penuh ketidakpastian, perusahaan penerbangan dan hotel harus dapat memberikan fleksibilitas pengaturan jadwal penerbangan dan tanggal inap sesuai kondisi pelanggan tanpa biaya tambahan. Target utama perusahaaan wisata saat ini bukanlah mengejar profit, namun lebih fokus pada jumlah penumpang atau tamu di tengah lesunya dunia usaha.

Keempat, belajar dari kejadian penting. Berbagai industri saat ini telah memanfaatkan data base konsumen untuk melihat kebiasaan atau perilaku konsumen. Berbagai hal penting yang dialami konsumen dicatat dalam data base untuk dikembangkan guna meningkatkan kualitas layanan. Sebagai contoh, ada pemikiran agar bukti test PCR dan bukti vaksinasi dapat dimasukkan dalam aplikasi check in penerbangan di smart phone sehingga dapat mengurangi proses antrean di bandara.

Semoga pelaku usaha di sektor pariwisata menyadari untuk terus merespons dan memahami perilaku konsumen sehingga dapat menerapkan strategi yang tepat. Perbaikan memang wajib terus dilakukan sehingga ketika pandemi usai, kualitas layanan wisata bukan hanya pulih, namun justru lebih baik. Seperti kata bijak, tekanan Covid apabila diambil hikmahnya, akan mampu menghasilan kualitas jasa wisata yang jauh lebih baik daripada sebelum pandemi. Semoga.

*) Direktur Pelaksana Indonesia Eximbank 2019–2020.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN