Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Universitas Indonesia Ahmad Mikail Zaini

Ekonom Universitas Indonesia Ahmad Mikail Zaini

Commodity Based Sukuk untuk Pemulihan Ekonomi Memasuki Era Endemi

Senin, 20 September 2021 | 10:11 WIB
Ahmad Mikail Zaini *)

Penulis teringat betul dengan pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang mengatakan tahun 2022 adalah saat di mana pandemi Covid-19 diperkirakan akan menjadi endemi. Jika ditelaah lebih jauh pernyataan Menkeu itu, tersirat optimisme yang cukup besar bagi ekonomi Indonesia.

Endemi adalah wabah penyakit yang terjadi secara konsisten tetapi terbatas pada wilayah tertentu, sehingga penyebaran dan laju penyakit dapat diprediksi.

Pernyataan Menkeu Sri Mulyani yang meyakini bahwa pandemic Covid-19 akan berubah menjadi endemi sangat beralasan seiring tingginya tingkat vaksinasi di Indonesia yang dapat menjadi game changer bagi terkendalinya penyebaran Covid-19.

Dengan tingkat vaksinasi sebesar 700 ribu dosis per hari, diperkirakan akan ada sekitar 50% populasi yang sudah divaksin penuh pada triwulan I-2022. Negara- negara yang memiliki tingkat vaksinasi yang tinggi terhadap populasi mememiliki kecenderungan penurunan fatality rate, walaupun terjadi kenaikan kasus Covid-19 pascapembukaan kembali ekonomi, seperti di Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.

Berkaca dari negara-negara tersebut, sangat mungkin Indonesia tidak akan lagi menerapkan pembatasan sosial yang ketat, seperti PPKM darurat pada Juli- Agustus tahun ini, andai kata terjadi kenaikan kasus kembali tahun 2022. Vaksinasi diharapkan memperkecil jumlah orang yang harus dirawat di rumah sakit sehingga mencegah tumbangnya sistem kesehatan Tanah Air dan efektif menurunkan tingkat kematian.

Jika kondisi tersebut terjadi, bisa dipastikan ekonomi Indonesia dapat tumbuh cukup cepat, seperti yang terjadi pada triwulan II- 2021 pascapembukaan kembali ekonomi.

Bayang-bayang kembalinya lockdown yang mengecil pada tahun 2022 kemungkinan dapat menjadi optimisme tersendiri bagi para pelaku usaha untuk kembali berinvetasi dan mempekerjakan karyawannya sehingga ekonomi dapat cepat bangkit.

Selain itu, konsumsi rumah tangga kemungkinan akan kembali menggeliat seiring dibukanya tempat-tempat rekreasi, hotel dan restoran yang selama ini menjadi salah satu tempat favorit bagi keluarga menghabiskan liburan dan akhir pekan. Kenaikan harga komoditas serta surplus neraca perdagangan Indonesia yang cukup tinggi dan berlangsung hampir 16 bulan kemungkinan dapat sedikit banyak membantu konsumsi domestik sehingga dapat cepat kembali tumbuh ke level naturalnya sebesar 5% di tahun 2022. Namun sayangnya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi tahun 2022, belanja negara sepertinya terbatas, seiring keinginan pemerintah untuk menekan laju defisit APBN tahun 2022 untuk memastikan defisit dapat kembali ditekan ke angka 3% dari produk domestik bruto (PDB) tahun 2023.

Untuk menekan defisit tersebut pemerintah berkorban dengan menurunkan belanja APBN 2022 lebih rendah sekitar Rp 50 triliun dari APBN 2021.

Di tengah keterbatasan belanja negara sebagai konsekuensi mengendalikan defisit APBN, sepertinya ada berbagai cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk tetap mendorong laju pertumbuhan ekonomi tetap tinggi dengan keterbatasan anggaran.

Salah satunya dengan melakukan sekuritisasi aset dengan menerbitkan commodity based sukuk. Konsep dari commodity based sukuk ini cukup sederhana. Pemerintah dapat memoneterisasi nilai dari produksi komoditas unggulan Indonesia untuk ditarik manfaatnya sekarang. Sebagai contoh, Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia dengan kapasitas produksi sebesar 800 ribu metrik ton pada tahun 2019 (menurut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral/ESDM).

Dengan besarnya produksi nikel tersebut, pemerintah dapat melaku kan proyeksi berapa pertumbuhan produksi nikel tiap tahun serta memvaluasinya sekarang. Dari proyeksi tersebut pemerintah dapat mengambil manfaat dari produksi nikel 10 tahun yang akan dating, katakan dengan menerbitkan sukuk berbasis nikel dengan nilai par dari sukuk tersebut yang diikat dengan harga nikel.

Penulis melihat hal ini dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi investor domestik maupun investor global. Investor akan melihat sukuk terbitan pemerintah ini sebagai komoditas secara tidak langsung karena harganya yang diikat dengan harga komoditas. Konsekuensi dari penerbitan sukuk berbasis komoditas ini cu kup luas. Pemerintah dapat menekan beban bunga penerbit an obligasi dan sukuk yang selama ini cukup tinggi dan sudah membebankan struktur APBN. Karena investor domestik dan global akan lebih tertarik dengan fluktuasi harga pada komoditas nikel ketimbang mengharapkan bagi hasil dari sukuk jenis ini.

Sukuk ini akan memiliki pasarnya tersendiri dibandingkan sukuk konvensional yang selama ini diterbitkan pemerintah. Untuk memitigasi risiko kenaikan atau penurunan harga nikel 10 tahun dari sekarang, pemerintah dapat bekerjasama dengan produsen nikel Tanah Air untuk membentuk kontrak harga forward untuk pembelian nikel 10 tahun yang akan datang dengan harga yang dapat ditentukan sekarang.

Konsep commodity based sukuk ini dapat berlaku di banyak komoditas unggulan Indonesia seperti emas, tembaga, timah, batu bara, dan kelapa sawit. Selain itu, pemerintah juga dapat mendorong penerbitan sukuk berbasis komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan kedelai. Tercatat sekitar 30% tenaga kerja Indonesia bekerja di sektor pertanian (menurut BPS).

Dengan pemerintah menerbitkan sukuk berbasis komoditas beras, misalkan, pemerintah dapat memacu produksi beras dalam negeri. Karena pemerintah bisa menggunakan uang hasil penerbitan sukuk ini untuk membangun infrastruktur pertanian.

Selain itu, dapat digunakan untuk menyerap surplus beras dan produk pertanian dalam negeri, dengan cara pemerintah mengikat kontrak berjangka dengan petani-petani lokal sekaligus untuk memitigasi fluktuasi harga ketika sukuk ini jatuh tempo nantinya. Hal tersebut dampak berdampak luas bagi kesejahteraan petani kita.

Sukuk yang diikat dengan barang riil ini juga dapat menjadi alternatif produk bagi investor pasar modal dalam negeri untuk memperdalam industri keuang an Tanah Air yang selama ini masih tebatas variasi produk investasinya.

Dari bebagai manfaat commodity based sukuk ini, mudah-mudahan dapat menjadi solusi di tengah naiknya beban utang negara di APBN dan terbatas nya sumber pendanaan defisit.

Penulis jadi teringat kata-kata dari Albert Einstein, ”We can’t solve our problems with the same thinking we used when we created them”.

*) Ekonom Sucor Sekuritas (Tulisan ini murni pendapat pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan tempat penulis bekerja).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN