Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rizal Calvary Marimbo,

Rizal Calvary Marimbo,

Tur Hijau Menteri Bahlil ke Eropa  

Selasa, 12 Oktober 2021 | 21:37 WIB
Rizal Calvary Marimbo *)

Sepekan ini sangat melelahkan bagi Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dan tim. Bolak-balik Jerman-Belanda. Di Frankfurt, pembicaraan berlangsung panjang kepada rekannya yang ditemuinya terpisah:  Markus Kamieth, Board of Executive Director BASF. Ada juga Thomas Schmall-von Westerholt. CEO Volkswagen Group Component.

“Saya datang langsung ke sini, untuk menunjukkan keseriusan pemerintah Indonesia dalam memfasilitasi rencana investasi Volkswagen di Indonesia,” ucap Menteri Bahlil kepada Thomas.

Di Amsterdam , Menteri Bahlil menjumpai CEO De Heus Animal Nutrition, Koen de Heus.  De Heus mau investasi pakan ternak di Jawa Timur. Lengkap dengan Rumah Potong Hewan berteknologi tinggi.

Total jeneral, Menteri Bahlil meyakinkan rekan-rekannya untuk segera berinvestasi di Tanah Air. Lebih tepatnya masuk ke industri hijau. Industri peleburan (smelter) nikel dan kobalt. Keduanya bahan dasar baterai untuk kendaraan listrik. Masuknya multinational company ( MNC) asal Jerman ini sekaligus mengakhiri pandangan miring. Bahwa investasi kita, hanya diaktori oleh negara itu-itu saja. Kalau bukan Korea, ya Tiongkok. Kalau bukan Tiongkok, ya Korea. Tidak.

 Tidak ada negara atau kawasan menjadi anak emas. Sama rata. Inklusif. Siapa cepat dia dapat. Kita tidak bisa menunggu yang lama-lama atau sengaja berlama-lama. Usia nikel dalam komponen mobil listrik mungkin hanya 20 tahunan. Setelah itu, mobil hidrogen bisa saja segera menggilas baterai. Itu sebabnya, Menteri Bahlil dan tim wajib bekerja secepat kilat. Mumpung ini barang masih laku. 

 Tur eropa Menteri Bahlil kali ini sangat ‘prime time’. Menteri Bahlil memang pandai membaca situasi. Jagonya, sejak memimpin Hipmi. Saya saksinya.  Bertepatan, Inggris dan Tiongkok sedang ‘berperang’ dengan krisis energi akut. Inggris paceklik listrik. Batu bara yang dibenci, kini kembali disayangi.  Itu terjadi di tengah Eropa dan dunia justru sedang memerangi energi fosil.

Sedangkan dari Tiongkok, isu relokasi kembali mencuat. Banyak pabrik terpaksa tutup. Minta dipindahkan. Sebab tak kebagian listrik.

Kabar lainnya, ‘tur hijau’ Menteri Bahlil, diwarnai oleh kelebihan pasokan listrik nasional. Pembangkit-pembangkit baru segera menderu. Menanti diserap. Utamanya, di Pulau Jawa dan Sumatra. Ini adalah blessing in disguise untuk investor di tengah ancaman paceklik energi di kawasan-kawasan itu. Stok listrik nasional aman.

Kedatangan Menteri Bahlil menawarkan industri hijau, juga bertepatan di tengah masih hangatnya ‘hijaunisasi’ Pemilu Jerman. Partai Hijau misalnya, tiba-tiba naik daun. Sukses mengakhiri 16 tahun kekuasaan Angela Merkel. Pasca banjir bandang melanda negara itu. Ini saatnya, Eropa tak hanya sibuk menyalahkan negara-negara berkembang soal lingkungan. Saatnya, industri dan modal ‘hijau’ Eropa di ‘direlokasi’ ke Indonesia. Itu baru solusi. Sekaligus sebuah kompensasi.     

Tur hijau Menteri Bahlil ini juga bisa membantu mengirim pesan ke Benua Biru itu. Bahwa kita serius kok membangun industri yang hijau. Kalau Inggris dan Tiongkok kini sedang bernostalgia dengan Batu bara, maka kita sedang menata voluntary carbon market. Sekalipun terjal dan berat dalam mencari titik tengah dengan market avordability listrik kita. Namun, bukan tidak mungkin dengan potensi energi hijau yang ada, Indonesia bisa saja menjadi sumber likuiditas emisi carbon credit masa depan.

Sebagai penutup, Menteri Bahlil menyampaikan, bahwa tolong ditulis juga: tak hanya isu hijau-hijauan. Industri smelter ini end to end untuk menjalankan visi-missi besar Bapak Presiden Jokowi untuk melakukan transformasi ekonomi melalui hilirisasi. Saatnya nilai tambah sumber alamnya dinikmati negara ini. Bukan untuk menghidupi ‘tungku-tungku’ industri di luar sana. Tapi untuk di sini: di dalam negeri.

*) Tenaga Ahli Menteri Investasi/BKPM

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN