Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
M Syarif Hidayatullah, Senior Policy Analyst di Indonesia Services Dialogue (ISD).

M Syarif Hidayatullah, Senior Policy Analyst di Indonesia Services Dialogue (ISD).

Dari Brik Menjadi Click

Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:26 WIB
M Syarif Hidayatullah *)

Toko kelontong sudah menjadi bagian integral masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Dari kota hingga desa, toko kelontong menjadi supplier berbagai barang kebutuhan rumah tangga. Kemunculan dan disrupsi minimarket modern tidak serta merta menggantikan peran penting toko kelontong, terutama di daerah perdesaan.

Data Potensi Desa (Podes, 2018), hanya ada 15.107 desa di Indonesia yang memiliki minimarket, sedangkan terdapat 76.085 desa yang memiliki toko kelontong. Lalu, datanglah era digital dengan segala disrupsinya.

Disrupsi teknologi digital memunculkan apa yang disebut toko/pedagang online, di mana baik toko maupun transaksi dilakukan secara virtual. Kemunculan toko online tersebut menim bulkan pertanyaan, bagaimana nasib toko “brick and mortar”, seperti toko kelontong tradisional dengan serbuan toko online tersebut. Jawabannya adalah mereka mencoba beradaptasi, salah satunya dengan adanya kemajuan financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin). Kemajuan teknologi digital menyebabkan terjadi perubahan pada pola pembayaran dari fisik menjadi virtual. Pangsa e-money pada transaksi ritel telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Pada tahun 2016 hanya 9,8% dari transaksi ritel yang menggunakan e-money, angkanya meningkat menjadi 40,7% pada tahun 2019. Pangsa non-bank juga meningkat secara substansial, dari 1,5% (2016) menjadi 24,7% (2019). Perubahan ini sebagian besar dimotori oleh perusahaan- perusahaan tekfin yang berhasil menciptakan pembayaran yang mudah, cepat dan aman sehingga menarik perhatian konsumen.

Diperkirakan pada beberapa tahun mendatang tekfin dapat memengaruhi 80% dari keuntungan perbankan di seluruh dunia (Accenture,2017). Contohnya adalah ewallet yang telah mengalami perkembangan signifikan selama beberapa tahun terakhir. Pada periode 2017-2019, pengguna ewallet global mengalami lonjakan tajam dari 500 juta, menjadi 2,1 miliar (BCG, 2020).

Adanya berbagai perusahaan teknologi finansial dapat memperluas akses keuangan, atau memiliki peran besar dalam penciptaan inklusi keuangan. Tidak hanya mampu mendongkrak transaksi digital, tekfin juga diharapkan dapat membantu Indonesia mencapai inklusi keuangan.

Menurut Indeks Pembangunan Keuangan Global (Findex) Bank Dunia, pada 2017 hanya 49% penduduk Indonesia yang memiliki rekening bank, lebih dari 95 juta pen duduk yang tidak memiliki rekening bank, kurang dari 3% memiliki rekening uang seluler, dan 9% penduduk yang meneri ma upah melalui rekening di lembaga keuangan. Apalagi, berdasarkan survei Bank Dunia, lebih dari 33% orang dewasa yang tidak memiliki rekening bank mengatakan bahwa lembaga keuangan itu terlalu jauh. Tekfin juga dapat berperan untuk mengisi kekosongan akses keuangan di wilayah perdesaan.

Berdasarkan analisis yang penulis lakukan dengan menggunakan data Potensi Desa 2018, terdapat 68.273 desa yang tidak memiliki lembaga keuangan, di mana 12.148 di antaranya bahkan sulit untuk mengakses lembaga keuangan di luar desanya.

Menariknya, dari 12.148 desa yang kesulitan akses tersebut, 4.928 desa memiliki akses internet yang baik (3G/4G). Artinya, pa da desa-desa tersebut tekfin ber potensi mengambil peran sentral untuk mendorong inklusi keuangan di Indonesia. Wabah Covid-19 mempercepat proses adaptasi masyarakat, baik konsumen maupun penjual terhadap sistem keuangan digital. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Bain & Company dan Facebook (2020), nilai transaksi digital payment di Asia Tenggara pada tahun 2020 mencapai US$ 620 miliar, dan diperkirakan meningkat hingga mencapai US$ 1.200 miliar pada tahun 2025.

Adaptasi pembayaran digital, seper ti penggunaan e-wallet meng alami akselerasi tajam ketika era pandemi, di mana terjadi pergeseran dari pembayaran secara kas menjadi digital. Riset dari Kantar Research, menunjukkan bahwa untuk negara-negara di Asia Tenggara, mengalami pe nurunan transaksi kas selama pandemi hingga 37%, sedangkan di sisi lain, transaksi secara digital meningkat hingga 25%.

Dalam konteks Indonesia, sejumlah layanan tekfin melaporkan peningkatan tajam transaksinya. Contohnya layanan Midtrans yang mengalami peningkatan tran saksi sebesar 75% selama tahun 2020.

Digitalisasi Toko Kelontong

Ilustrasi toko kelontong
Ilustrasi toko kelontong

Kehadiran tekfin membuat toko kelontong saat ini dapat berubah menjadi “click and mortar”, di mana walaupun tokonya tetap fisik (of fline) tetapi berbagai transaksi maupun pembukuan perusahaan dapat dilakukan secara online.

Setidaknya, terdapat sejumlah dampak dari kehadiran tekfin bagi toko kelontong. Pertama, menurunkan biaya transaksi. Ada nya layanan tekfin, seperti sistem pembayaran, pada toko of fline memudahkan proses transak si, baik itu bagi konsumen ma u pun pedagang. Layanan pembayaran digital membuat toko offline mampu mengintegrasikan layanan/produknya de ngan ber - ba gai layanan online, se perti online delivery, sehingga hal tersebut pada akhirnya meningkatkan pendapatan dari toko offline.

Kedua, integrasi dengan tekfin membantu sistem administrasi dari toko, seperti pencatatan transaksi, yang pada akhirnya mempermudah akses toko terhadap lembaga keuangan.

Contohnya, layanan point of sales, seperti Moka, dapat mendorong efisiensi melalui pengelolaan tidak hanya transaksi, tetapi juga manajemen karyawan dan barang. Ketika transaksi tercatat rapi secara digital, maka sebuah toko akan lebih mudah mendapatkan akses terhadap berbagai layanan perbankan.

Tantangan inklusi maupun adaptasi digital tentu tetap ada, di mana pada tahun 2020, hanya 13% dari populasi daerah perkotaan Asia Tenggara yang masuk segmen “unbanked” telah menggunakan e-wallet. Studi BCG (2020) menunjukkan bahwa pada tahun 2025 angka tersebut dapat melonjak hingga 58%. Studi BCG tersebut juga menunjukkan bahwa terdapat keengganan pedagang, seperti toko kelontong, untuk mengadopsi ewallet adalah karena adanya berbagai hambatan teknis, seperti proses pembayaran pedagang yang rumit, biaya yang tinggi, dan masih adanya ketidakpahaman dari konsumen maupun merchant terkait proses pembayaran.

Oleh sebab itu, adanya integrasi layanan yang menyeluruh akan sangat membantu proses adaptasi digital dari para toko kelontong ini.

Integrasi layanan mulai marak dilakukan oleh berbagai perusahaan tekfin, di mana satu perusahaan memiliki layanan end to end. Contohnya GoTo Financial, yang telah mengintegrasikan multi layanan yaitu sistem pembayaran (Gopay), merchant (Moka), payment gateway (Midtrans), sehingga tidak lagi dapat dianggap sebagai e-wallet saja.

Bagi perusahaan, integrasi layanan ini diperlukan untuk mendorong efisiensi dan memperluas ekosistem keuangan, yang akhirnya memunculkan peluang monetasi pasar yang baru.

Efisiensi tersebut munculnya karena dua alasan, yaitu economics of scope dan data.

Pertama, dalam ekonomi digital dikenal economics of scope dalam pengembangan produk. Artinya, karena adanya kesamaan input produksi, perusahaan lebih untung ketika memproduksi dua atau lebih produk di dalam satu perusahaan, dibandingkan secara terpisah.

Pada perusahaan digital, input produksi umumnya sama, seperti server, data, web, human capital, pengetahuan hingga kreativitas dari perusahaan. Input-input tersebut pada dasarnya dapat digunakan lagi (shareable input) untuk memproduksi berbagai pro duk dan layanan.

Kedua, pengumpulan data konsumen dapat digunakan perusahaan tidak hanya untuk melakukan berbagai inovasi dan menciptakan produk dan layanan baru, tetapi juga untuk membuka peluang ekspansi ke pasar yang baru. 

Bagi konsumen, integrasi layanan dapat menurunkan biaya pencarian dan transaksi. Konsumen dengan mudah mengakses berbagai layanan sistem pembayaran, dan meningkatkan keamanan dalam bertransaksi.

Sedangkan bagi pedagang, integrasi layanan dapat mendorong tingkat transaksi, membuka akses mereka terhadap berbagai potensi pasar yang baru, dan dapat membuka akses mereka terhadap berbagai layanan keuangan dengan mudah, murah dan cepat.

Dengan semakin banyaknya layanan tekfin yang terintegrasi, maka transformasi dari toko kelontong menjadi online dapat lebih mudah. Untuk itu, di perlukan sejumlah dukungan kebijakan.

Ekosistem yang telah terbentuk, berbagai inovasi yang berkembang pesat pada berbagai perusahaan tekfin dapat didorong menjadi lebih efisien dengan menyederhanakan prosedur, tek nologi dan sistem yang ramah konsumen.

Di saat bersamaan tetap mengedepankan prinsip-prinsip kehati-hatian dan perlindungan konsumen sehingga keseluruhan sistem tetap dapat dipercaya publik penggunanya. Regulator, baik itu pemerintah, Bank Indonesia, mau Otoritas Jasa Keuangan akan memegang peran sentral dalam mendukung perkembangan ekosistem tekfin ini ke depannya.

*) Senior Policy Analyst di Indonesia Services Dialogue (ISD).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN