Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Neneng Herbawati, Praktisi Komunikasi (CEO IGICo Advisory/Co Founder Briefer.id).

Neneng Herbawati, Praktisi Komunikasi (CEO IGICo Advisory/Co Founder Briefer.id).

Aplikasi bagi Freelancer Komunikasi, Solusi di Era Sharing Economy?

Minggu, 7 November 2021 | 06:28 WIB
Neneng Herbawati *)

Pandemi Covid-19 telah mempercepat pergeseran kegiatan ekonomi. Saat ini, masyarakat dunia mengalami disrupsi dalam skala besar akibat pandemi. Penggunaan teknologi digital seolah menjadi panglima untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Disrupsi ini menjadipeluang bisnis baru, bagi yang siap secara digital dalam melayani dan mendistribusikan produk dan jasanya di era kebiasaan baru ini.

Layanan berbasis serba digital inilah yang sebelumnya dicita-citakan oleh pemerintah sebagai bagian dari revolusi industri 4.0. Meskipun, penerapannya pada saat ini terkesan karena darurat bencana. Namun, pandemi berhasil mengakselerasi transformasi digital dan culture di banyak perusahaan dan kehidupan masyarakat.

Pandemi mendorong dunia menuju era new normal economy, survival bisnis sangat bergantung pada kemampuan dan kecepatan kita semua beradaptasi dengan kondisi pasar. Kita semua diharuskan beradaptasi dengan masa ini agar bisa menjemput ‘bola’ kesempatan (opportunity) baru.

Banyak pelaku ekonomi di sektor e-commerce, financial technology (fintech) mungkin sudah sangat siap dan meraih pertumbuhan dari situasi ini, seperti di sektor pendidikan (e-learning), kesehatan (e-health), hingga distribusi (e-logistic). Namun, masih banyak juga pelaku usaha yang belum siap menghadapinya.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah pengangguran _di Indonesia mencapai 8,75 juta orang (Februari 2021). Jumlah tersebut meningkat 26,26% dibanding periode sama tahun 2020 sebanyak 6,93 juta orang. BPS juga mencatat jumlah pekerja lepas (freelancer) se ba nyak 33,34 juta (Agustus 2020).

Kemungkinan jumlah ini akan terus meningkat sampai beberapa tahun ke depan karena pandemi belum segera berakhir. Salah satu pekerjaan freelance yang cukup diminati adalah bidang teknologi informasi yang menggambarkan berbagai teknologi, seperti perangkat keras, perangkat lunak, dan perangkat komunikasi, serta jasa pembuat konten.

Transformasi & Gig Economy

Dunia kerja saat ini mengalami transformasi pesat berkat perkem bangan internet. Disadari atau tidak, sebetulnya peluang du nia kerja saat ini jauh lebih besar dari beberapa dekade silam. Melalui internet, pekerjaanpekerjaan kontrak jangka pendek amat mudah didapatkan.

Melonjaknya pekerjaan-pekerjaan kontrak menggunakan jasa freelancer dalam jumlah yang amat besar ini dikenal de ngan se but an gig economy. Istilah ini te rus berkembang di era industri 4.0 dan menjadi fenomena yang positif. Dari sudut pandang lain, gig economy kerap didefinisikan sebagai lingkungan kerja yang fleksibel dalam hal jam kerja.

Di Amerika Serikat, per Agustus 2021 diperkirakan bertambah se kitar 10 juta dari 57 juta pekerja yang merupakan bagian dari gig economy (Forbes.com, 3/8/2021). Ms. Molly Turner, Lecturer, Haas School of Business, University of California Berkeley, mengemukakan, “The gig economy is not new – people have always worked gigs… but today when most people refer to the ‘gig economy’, they’re specifically talking about new technology-enabled kinds of work.” – Gig economy bukanlah konsep baru, tapi telah berkembang sangat pesat dalam 10 tahun terakhir.

Bagi Molly Turner, pertumbuhan tenaga kerja gig economy dalam dekade terakhir telah didorong oleh pengembangan teknologi baru, yang memungkinkan adanya transaksi langsung, antara penyedia dan konsumen, dan sulitnya menemukan pekerjaan tetap.

Di satu sisi, platform teknologi berbasis aplikasi menggantikan orang sebagai perantara (hub) untuk menghubungkan konsumen dan produsen dengan cepat dan mudah, juga memungkinkan individu melakukan berbagai tugas untuk konsumen berdasarkan real-time demand.

Di sisi lain, orang semakin tertarik pada sektor pekerjaan sebagai freelancer. Baik untuk menambah penghasilan atau karena tidak mendapatkan pekerjaan tetap dan penuh waktu, agar tetap dapat memutar ekonomi kehidupan.

Adam Ozimek, kepala ekonom Upwork, mengatakan bahwa freelancer adalah sumber bakat penting untuk bisnis dan bagian yang akan berkembang dari angkatan kerja. Karena semakin banyak orang mencari fleksibilitas yang lebih besar dan peluang kerja jarak jauh, bisnis yang tidak memanfaatkan bakat freelancer akan kehilangan kesempatan menggunakan jasa para profesional.

Bagi Indonesia yang sedang menikmati bonus demografi, yang kini menjadi tulang punggung peralihan pekerja dari sektor formal ke sektor informal, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan bagi keluarganya dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Pesatnya perkembangan_ aplikasi digital seperti Gojek, Grab, Ruangguru, Tokopedia, Halodoc, Gigi.id dan lainnya menandai hal tersebut. Animo masyarakat akan kehadiran _aplikasi digital memang begitu besar. Banyak orang yang akhirnya melamar pekerjaan di perusahaan rintisan (start up). Aplikasi yang menampung para pekerja lepas juga terus bertambah jumlahnya, menambah geliat perkembangan_gig economy.

Freelancer is The Future?

Era sharing economy
Era sharing economy

Melonjaknya fenomena gig economy sebenar nya tidak mengejutkan. Anthony Hussenot, profesor dari Université Nice Sophia Antipolis (UNS), telah memprediksi di artikelnya, "Is freelancing the future of employment?"

Ia menyatakan bahwa pekerjaan lepas (freelance) adalah pekerjaan masa depan. Namun, banyak juga kekhawatiran kalau pekerja lepas ini rentan dieksploitasi oleh perusahaan penyedia layanan kerja. Bagi beberapa jenis pekerja yang memiliki keterampilan profesional, freelance justru menawarkan fleksibilitas, serta penghasilan menggiurkan. Kabar baiknya, eksekutif perusahaan dapat memiliki akses ke kumpulan para freelancer yang terampil, berbakat, dan bermotivasi tinggi yang lebih luas dan lebih dalam, tanpa biaya tambahan yang terkait dengan karyawan penuh waktu.

Dengan situasi ini, kita semua menunggu adanya perusahaan rintisan (start up) yang menjembatani para freelancer khususnya di industri komunikasi yang kian berkembang pesat, salah satunya adalah konsultan komunikasi dan public relation (PR) dengan perusahaan yang membutuhkan jasa layanannya.

Sementara, hari ini PR adalah multi-channel. Orang-orang mengonsumsi media dari berbagai sumber. PR juga multi-influencer; wartawan tidak lagi menjadi satu-satunya sumber editorial dan opini. Blogger, selebritas, pakar industri, dan pemimpin opini dapat memberikan pengaruh besar pada pelanggan dan target konsumen.

Jangan lupa juga pengaruh peer-to-peer melalui kelompok komunitas dan sejenisnya. Dengan mengambil fokus pendekatan ke lanskap media yang lebih kompleks, dapat membangun profil pasar peer-to-peer sendiri, kampanye crowdfunding, atau inisiatif ekonomi berbagi lainnya dengan kerumunan yang unik untuk penawaran spesifik. Karena di era keterhubungan yang didukung teknologi (technology-enabled connectedness), peranan PR cukup strategis untuk mengubah bisnis perusahaan.

Wajar kiranya bila kita menaruh harapan besar adanya satu dari ribuan perusahaan rintisan di Tanah Air, yang membuat apli kasi digital sebagai hub bagi para freelancer PR dan konsultan komunikasi dengan perusahaan yang membutuhkan jasanya.

Mengapa? Karena aplikasi tersebut akan menjadi hub yang membantu pebisnis atau perusahaan, termasuk UMKM, yang mempertemukan dan mempekerjakan freelancer untuk jasa layanan tersebut.

Seperti pembuatan konten, manajemen komunikasi krisis, mengembangkan konsep strategi merek, public relation, dan menggunakan jasa advisor serta government relation.

Sebuah aplikasi digital PR dan konsultan komunikasi yang menjadi hub dirancang un tuk memungkinkan proses kolaborasi para pengguna yang membutuhkan.

Mengapa berharap pada start up? Karena perusahaan rintisan biasanya didirikan dengan alasan menggabungkan unsur so sial dengan ekonomi. Star t up merupakan perusahaan yang memberikan jawaban dari permasalahan di dalam masyarakat (sosial) dengan solusi yang menghasilkan profit (ekonomi). Juga kekhasan start up adalah adanya inovasi teknologi dengan sifat disruptif.

Di sisi lain, pandemi telah mengakibatkan finansial organisasi perusahaan maupun institusi menurun. Dalam keadaan yang sulit seperti itu, perusahaan terpaksa melakukan transformasi bisnis dari cara-cara konvensional menjadi digital, sehingga dana operasional marketing dan public relation (PR) kerap terkena imbasnya. Padahal PR adalah jantung organisasi atau perusahaan yang berperan menstimulasi komunikasi kepada publik dengan informasi.

Oleh karena itu, setiap PR korporasi memiliki cara sendiri dalam mengelola komunikasi dan menjaga hubungan baik dengan publik, terutama dalam menciptakan dan menjaga brand reputasi perusahaan. Komunikasi menjadi kunci dalam penyelenggaraan pelayanan publik bagi sebuah institusi maupun perusahaan. Namun, tidak semua perusahaan atau institusi memiliki PR, utamanya perusahaan di daerah dan UMKM. Lalu, bagaimana mem bangun dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap produk atau perusahaannya?

Untuk itulah, kolaborasi perusahaan rintisan sebagai hub dengan para freelancer yang memiliki soft skill dalam membuat strategi komunikasi yang efektif dan efisien dalam menyampaikan in formasi kepada masyarakat, sa ngat dibutuhkan. Mencari jasa PR konvensional dan PR digital secara offline akan menjadi pekerjaan rumah bagi banyak perusahaan, khususnya di daerah dan UMKM.

Oleh karena itu dibutuhkan konsep PR dan komunikasi berupa marketplace melalui aplikasi yang memudahkan titik temu antara freelancer dan pengguna jasanya. Peranan aplikasi tersebut akan mendukung UU Cipta Kerja dalam percepatan transformasi digital dan menciptakan lapangan kerja baru, khususnya di sektor komunikasi dan informasi.

Terutama dalam percepatan transformasi digital, penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional di era sharing economy dalam New Normal Economy.

*) Praktisi Komunikasi/ CEO Igico Advisory/Co-Founder Briefer.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN