Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Pemulihan Ekonomi dalam Bayang-Bayang Konflik AS-RRT

Selasa, 23 November 2021 | 20:00 WIB
Fauzi Aziz *)

Semua negara di dunia memiliki harapan yang sama, yaitu pemulihan ekonomi dan pandemi Covid-19 segera berakhir. Tantangannya adalah tidak sekadar perlu pemulihan, tetapi juga harus terjadi pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi diperlukan agar ongkos pemulihan yang sebagian dibiayai dari utang dapat terbayar lunas. Ada harapan lain yang tak kalah penting, yaitu dua raksasa ekonomi dunia saat ini (AS dan Tiongkok) diharapkan tidak bermain api. Pemulihan ekonomi membutuhkan peran kepemimpinan mereka di tingkat global dan di kawasan.

Tujuannya untuk membantu negara- negara emerging economy mampu melewati masa-masa sulit lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang betah membuat dunia menghadapi ancaman “kebangkrutan” massal.

Hal ini bisa terjadi akibat beban utang global menggunung dan berpotensi runtuh karena semua negara, tak terkecuali AS dan Tiongkok, terjebak bed debt. We hope you Tuan Jinping dan Tuan Biden, janganlah membuat drama yang tidak enak ditonton. Anda harus jujur bahwa sejatinya Anda tidak suka perang.

Penulis yakin dan percaya bahwa jika rakyatmu ditanya, mereka juga tidak menyukai perang. Wahai pemimpin dunia yang hebat, Anda adalah pemimpin kemajuan peradaban, maka apakah Anda rela jika peradaban maju itu kemudian hancur lebur rata dengan tanah karena jari Anda dengan entengnya memencet rudal berkepala nuklir yang kemudian bar ji bar beh (bubar satu bubar semuanya). Mereka, para pemimpin adidaya, tidak boleh bersifat egois.

Menjadi negara peradaban adalah hak mereka. Tapi kemajuan peradaban yang dicapai tidak patut untuk digunakan membuat senjata pemusnah massal karena konflik dua negara besar berebut pengaruh. Ini yang ingin penulis katakan, yaitu berdamailah untuk kemanusiaan dan peradaban.

Jika tidak bisa dilakukan, penulis percaya dengan analisis WEF pada awal tahun 2021 yang telah dirilis oleh seluruh media di dunia, yakni bahwa “Konflik Antarnegara” (Interstate Conflict) akan berakibat buruk bagi kemanusiaan dan peradaban.

Ilustrasi konflik AS-RRT
Ilustrasi konflik AS-RRT

Dalam konflik bilateral atau multilateral yang akan berperang antarnegara, pasti akan menimbulkan konsekuensi global yang sangat berisiko. Dalam laporan tersebut secara eksplisit dijelaskan bahwa perang itu bisa berupa serangan biological, kimiawi, dunia maya, dan/atau fisik, intervensi militer, perang proxi, dan sebagainya.

Terkait dengan itu, maka pemulihan dan pertumbuhan ekonomi pascapandemi Covid-19 harus bebas konflik dan difasilitasi bersama untuk terciptanya zona damai.

Kini yang menjadi sorotan adalah soal ketegangan di Indo Pasifik yang melibatkan kepentingan AS dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Indonesia sebenarnya punya kedekatan dengan keduanya, sehingga Indonesia bisa bertindak sebagai juru damai. Hal ini penting dan dimungkinkan karena politik bebas aktif negeri kita.

Hal penting lainnya adalah jika dar der dor itu terjadi beneran, maka Indonesia akan terdampak karena kejadiannya berada di sekitar Laut China Selatan dan Laut Natuna Utara. Tanda-tanda pemulihan dan pertumbuhan ekonomi makin nyata. Optimisme harus terus kita bangun meskipun di tengah sejumlah masalah berat tetap mengadang. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2021 mencapai 3,51% (year on year). Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi di keseluruhan tahun mencapai kisaran 3,7%-4,5%.

Optimisme di tengah ketidakpastian adalah sebuah kenyataan. Hampir semua negara ekonominya telah mulai pulih. Pertanda baiknya adalah terjadi peningkatan demand agregat yang tentu mendorong aktivitas perdagangan antarnegara akan meningkat. Namun jangan bersifat jumawa karena faktor ketidakpastian tetap ada di depan mata. Semua negara berkebutuhan untuk menghimpun pendapatannya, baik berasal dari transaksi domestik maupun transaksi internasional.

Kebutuhan itu yang utama untuk bisa membayar utang jatuh tempo. Bisa dipakai untuk belanja bahan baku, sedikit akan disisihkan untuk membentuk dana cadangan.

Karena itu, basic policy yang harus dilakukan adalah meningkatkan ekspor dan mengendalikan impor agar pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah serta belanja investasi dapat didorong untuk menggunakan produk dalam negeri.

Pemerintah kita harapkan menjadi penjaga pasar dalam negeri yang baik agar tidak ada free rider yang bisa membatasi ruang gerak bisnis sektor industri dan UMKM di negerinya sendiri.

Pulih, tumbuh tapi tetap waspada dengan ancaman dan tantangan. Indeks kepercayaan konsumen yang meningkat harus memberi ruang bahwa masyarakat produsen dan konsumen, serta para pekerja dapat menarik manfaat yang maksimal dari pemulihan ekonomi maupun pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik.

*) Pemerhati Ekonomi dan Industri.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN