Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wisnu Nugrahadi, CEO and Co-Founder of Sampingan

Wisnu Nugrahadi, CEO and Co-Founder of Sampingan

Manajemen Tenaga Kerja Digital

Selasa, 23 November 2021 | 23:09 WIB
Wisnu Nugrahadi *)

Hal menarik untuk diperhatikan selama pandemi adalah terjadinya pergeseran di hampir seluruh sektor kehidupan ke dunia digital. Melihat masifnya pergeseran ini, bukan tidak mungkin akan terus berlanjut ke kehidupan pascapandemi.

Menurut riset yang dikeluarkan oleh Mckinsey tahun 2020, di tingkat global pandemi telah mendorong digitalisasi tiga tahun lebih cepat, sedangkan di Asia-Pacifik empat tahun lebih cepat.

Dunia kerja termasuk yang mengalami perubahan. Banyak perusahaan menyadari bahwa bekerja dari rumah memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada pekerja tanpa mengurangi produktivitas.

Tentu tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah, karena itu wacana yang sekarang muncul adalah pascapandemi ada kombinasi antara bekerja dari kantor dan bekerja dari rumah.

Berdasarkan riset Future of Work: What Boards Should be Thinking About yang dilakukan PwC tahun 2021, sebagian besar pemilik perusahaan mengaku menambah investasi jangka panjang untuk melakukan transformasi digital.

Salah satu contoh proses yang dapat didigitalisasi adalah perekrutan. Perusahaan dapat melakukan pencarian pekerja dengan lebih mudah dan murah. Tapi tentu digitalisasi tidak hanya berbicara soal perpindahan proses dari offline ke pemanfaatan internet.

Digitalisasi proses ketenagakerjaan harus menyertakan pengolahan dan pemanfaatan data secara tepat. Contohnya, perusahaan bisa mendapatkan akses ke jutaan talenta atau calon pekerja yang sesuai kebutuhan.

Katalis Inklusi Keuangan

Layanan digital staffing dapat memberikan kesempatan bagi pekerja, terutama para pekerja ‘kerah biru’ untuk mendapatkan transparansi mengenai kinerja dan remunerasi.

Setidaknya terdapat tiga keuntungan bagi berbagai pihak lewat proses ini: pertama, keterbukaan informasi mengenai performa serta benefit yang didapatkan pekerja.

Kedua, referensi bagi pekerja apabila berpindah perusahaan dan ingin mendapatkan pekerjaan dengan posisi lebih tinggi.

Ketiga, sebagai catatan resmi atau bukti asli apabila pekerja hendak mengakses layan an keuang an seperti permohonan kredit atau pinjaman tertentu. 

Bagian terakhir merupakan salah satu hal yang paling jarang dibicarakan. Padahal manfaatnya signifikan, walaupun dirasakan secara tidak langsung.

Mari kita lihat bagaimana digitalisasi atau lebih tepatnya digital staffing dapat mempercepat proses inklusi keuangan. Inklusi keuangan bisa dikatakan tercapai, apabila setiap anggota masyarakat memiliki akses terhadap berbagai layanan keuangan formal sesuai kebutuhan dan kemampuan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan.

Saat ini indeks inklusi keuangan Indonesia baru mencapai 75%, relative lebih rendah dibanding Negara tetangga, seperti Malaysia atau Thailand yang sudah di atas 80%. Pemerintah menargetkan Indonesia mencapai angka 90% pada akhir 2024.

Riset Bain & Company, Google, dan Temasek yang ber tajuk Fulfilling its Promise – The Future of Southeast Asia’s Digital Financial Services menunjukkan 92 juta jiwa penduduk Indonesia belum tersentuh layanan keuang - an sama sekali (unbankable). Layanan yang dimaksud adalah memiliki rekening, mendapat fasilitas kredit, melakukan investasi, serta berbagai layanan lainnya.

Kemudian, 47 juta jiwa masih underbank, artinya sudah memiliki rekening, namun tanpa mampu mengakses layanan keuangan lainnya. Keuangan inklusif memang tidak hanya bicara soal kepemilikan rekening, ia harus mampu membuka akses kepada layanan keuangan secara menyeluruh serta menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Pekerja ‘kerah biru’ merupakan salah satu elemen tenaga kerja yang kesulitan mendapatkan akses layanan perbankan secara utuh. Karena mereka seringkali tidak memiliki catatan keuangan yang jelas, seperti gaji, surat kete rangan kerja, serta dokumen yang dibutuhkan untuk mengakses berbagai layanan perbankan.

Digital staffing dapat membantu mempercepat pekerja ‘kerah biru’ untuk menghilangkan status mereka sebagai underbanked. Kuncinya terletak pada tata kelola ketenagakerjaan yang baik. Misalnya, ketersediaan informasi lengkap mengenai performa dan histori selama mereka bekerja, yang dapat dimanfaatkan untuk mengakses layanan perbankan.

Sehingga ketika pihak penyedia layanan melakukan penilaian kelayakan, mereka dapat mengetahui kapasitas dari setiap individu. Transparansi dan kelengkapan data tidak hanya dapat dimanfaatkan pekerja, juga oleh perusahaan untuk memberikan added value atau nilai lebih kepada karyawan. Perusahaan dapat menjalin kerja sama dengan penyedialayanan perbankan untuk kemudian menjadi penjamin kepada pekerja yang memiliki riwayat bagus.

Saat ini penerapan digital hiring untuk ‘kerah biru’ belum dilakukan secara masif. Namun upaya perbaikan dapat terus dilakukan, mengingat besarnya manfaat yang didapatkan oleh berbagai pihak; perusahaan, pekerja, dan juga perekonomian Indonesia pada umumnya.

*) CEO and Co-Founder of Sampingan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN