Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan
globalisasi.

Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku Ironi Negeri Beras (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi.

Memacu Produksi Padi ketika La Nina

Rabu, 24 November 2021 | 13:21 WIB
Khudori *)

BPS memperkirakan produksi padi tahun 2021 mencapai 55,27 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 31,69 juta ton beras. Produksi ini lebih tinggi 1,14% dari tahun 2020 dan lebih tinggi 1,21% dari tahun 2019. Capaian ini patut disyukuri.

Prestasi dan berita menggembirakan itu adalah capaian kesekian kali bagi sektor pertanian di tengah aneka situasi kurang menggembirakan akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Selain semangat 13,1 juta keluarga petani padi, hasil ini tak lepas dari peran Kementerian Pertanian yang intens mendampingi petani di lapangan agar tak terpuruk diterpa pandemi.

Jika ditelaah lebih detail, luas panen tahun ini sebenarnya menurun: dari 10,657 juta hektar (2020) jadi 10,515 juta hectare (2021) atau turun 1,33%. Produksi padi naik karena ada peningkatan produktivitas: dari 5,128 ton/hektare (2020) menjadi 5,256 ton/hektare (2021) atau naik 2,49%. Peningkatan produksi padi otomatis menambah pasokan beras hingga akhir tahun. Dikurangi konsumsi sebesar 30,03 juta ton, tahun ini ada surplus 1,65 jutaton beras. Surplus makin besar, mencapai 10,37 juta ton, jika ditambah akumulasi surplus tahun 2020.

Beras ini tersebar di rumah tangga, petani, pedagang, penggilingan, dan anggota masyarakat lain. Termasuk di Bulog 1,2 juta ton. Capaian ini, di satu sisi, memastikan produksi beras lebih dari cukup. Bahkan berlebih. Artinya, Indonesia tidak perlu mengimpor beras tahun ini.

Di sisi lain, capaian ini juga telah mematahkan kekhawatiran pemerintah pada awal tahun 2021 yang hendak mengimpor beras 1 juta ton.

Selain kenaikan produktivitas, kunci kenaikan produksi padi tahun ini adalah keberhasilan membalikkan luas panen pada musim hujan (MH) periode Januari- Juni 2021, hasil luas tanam periode Oktober 2020-Maret2021. Panen MH 2020 mencapai 5,890 juta hektare (ha) naik jadi 6,013 juta ha pada 2021 atau tumbuh 2,08%.

Tahun lalu, La Nina berlevel moderat terjadi mulai Oktober. Anomali iklim itu berlangsung hingga April 2021. Menurut BMKG (2021), selama 7 bulanitu curah hujan naik 20-70% lebih tinggi dari kondisi normal. Ini berarti ketersediaan air yang melimpah saat La Nina, termasuk di daerah kering dan tidak beririgasi, mampu direspons dengan memperluas luas tanam. Tahun 2021 ini, La Nina kembalidatang. Mulai November 2021 hingga Februari 2022. Karena levelnya sama, La Nina tahun ini yang berdurasi lebih pendek diprediksi memiliki dampak yang relatif sama dengan tahun lalu.

Pertanyaannya, bagaimana memanfaatkan air berlimpah saat La Nina untuk memacu produksi padi? Anomali iklim, baik berbentuk La Nina maupun El Nino, sudah sering terjadi. Dampak El Nino dan La Nina pada pertanian juga telah dipetakan. Kesimpulannya, El Nino periode 1970- 2010 menimbulkan penurunan produksi padi sebesar 4,08% dengan nilai absolut sekitar 1,76 juta ton per kasus. Penurunan produksi sebagian besar karena penurunan oleh luas panen dan hanya sebagian kecil yang disebabkan oleh penurunan produktivitas.

Sebaliknya, La Nina berdampak positif pada produksi padi dan palawija. Pada periode itu, produksi padi meningkat sekitar 1,78% dan palawija 4,29%. Kenaikan ini lebih banyak didorong oleh peningkatan luas panen karena air tersedia (Irawan, 2013). Catatan itu membuktikan bahwa La Nina yang potensial jadi bencana, baik dalam bentuk banjir bandang atau longsor, bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk jadi berkah.

Akan tetapi, jika ditelaah lebih dalam, dinamika produksi padi empat tahun terakhir, akan tampak akar masalahnya: Apakah ada potensi memanfaatkan momentum La Nina untuk memacu produksi padi atau tidak? Luas panen pada MH 2018 mencapai 6,686 juta ha, menurun 5,05% jadi 6,348 juta ha pada 2019, anjlok lagi 7,21% jadi hanya 5,890 juta ha pada 2020, kemudian naik jadi 6,013 juta ha pada 2021 atau tumbuh 2,08%. Luas panen MH 2021 lebih rendah 10,06% dari 2018.

Pada 2018 terjadi La Nina dengan intensitas rendah hingga sedang. Jika capaian luas panen La Nina 2017/2018 bisa diulang pada masa La Nina 2021/2022, produksi beras Indonesia akan melimpah di 2022. Bagaimana caranya?

Pertama, memastikan infrastruktur yang mengalirkan air, baik sungai, bendungan, drainase, kanal banjir maupun jaringan irigasi, berfungsi baik. Ini untuk memastikan volume hujan yang lebih tinggi dari normal bisa dialirkan dan diberi kesempatan untuk mengisi air tanah (akuifer) secara baik. Pengisian air tanah akan menjadi cadangan saat musim kemarau.

Dalam jangka pendek, panen padi di 0,925 juta ha November– Desember 2021 harus dipastikan tidak gagal karena La Nina, baik karena banjir atau longsor. Lebih jauh, fluktuasi luas panen pada MH periode 2018-2021 juga menunjukkan betapa belum andalnya infrastruktur irigasi.

Ke depan, perbaikan sistem irigasi, pembangunan jaringan irigasi baru, bendungan, embung, dan sejenisnya harus menjadi prioritas penting.

Kedua, memastikan ketersediaan semua input produksi, terutama bibit dan pupuk pada musim tanam hingga akhir tahun 2021. Kisruh penyaluranpupuk bersubsidi yang selalu berulang mesti segera dicarikan solusi. Ketersediaan input produksi yang memadai akan membuat jadwal tanam berlangsung sesuai rencana. Input produksi yang memadai juga memungkinkan menambah luas tanam dan produksi pada 2022, terutama di wilayah kering dan tadah hujan.

Terkait dengan ini, yang tidak kalah penting adalah modal kerja. Modal kerja akan menjadi “bahan bakar” yang memastikan petani terus bisa berproduksi.

Ketiga, pemerintah menyediakan benih unggul padi tahan rendaman, seperti Inpara 1 sampai 10, Inpari 29, dan Inpari 30. Varietas ini tetap hidup meski terendam air dua minggu. Selama ini petani lambat bahkan tidak mengadopsi varietas-varietas padi tanam rendaman karena sulit untuk mendapatkannya. Kementan harus memastikan varietas ini ada dalam jumlah cukup saat dibutuhkan.

Pada saat yang sama, pemerintah perlu memastikan bantuan mesin pengering (dyer), terutama untuk mengantisipasi panen Januari-Februari 2022 yang beriringan dengan La Nina. Agar terlindungi jika gagal panen, petani harus didorong ikut asuransi.

*) Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) dan Komite Pendayagunaan Pertanian (KPP), penulis buku ”Ironi Negeri Beras” (Yogyakarta: Insist Press, 2008), dan peminat masalah sosial-ekonomi pertanian dan globalisasi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN