Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Pertumbuhan yang Makin Inklusif

Sabtu, 27 November 2021 | 22:34 WIB
Fauzi Aziz *)

Pertumbuhan yang makin inklusif mengandung makna bahwa pertumbuhan ekonomi kian banyak dihasilkan oleh pemangku kepentingan, serta semakin banyak dan kian berimbang dapat dinikmati oleh banyak pihak. Kalau sebaliknya, berarti adalah pertumbuhan yang bersifat eksklusif, di mana output ekonomi dan pertumbuhannya hanya dinikmati segelintir pihak sehingga menjadi tidak sesuai dengan prinsip demokrasi ekonomi.

Pertumbuhan yang inklusif berarti menjadi sebuah janji suci pembangunan yang bersifat universal. Dan bisa dikatakan bahwa arah yang akan dituju adalah untuk mengatasi kesenjangan global, maupun kesenjangan regional dan kesenjangan di tingkat nasional.

Bila paradigma ini yang akan kita wujudkan, maka dunia jelas membutuhkan tatanan baru guna merealisasikan satu platform ekonomi baru yang bisa mengantarkan terciptanya kemakmuran dan keadilan sosial yang berkelanjutan bagi warga dunia.

Pertumbuhan yang inklusif berarti ada kesadaran bersama bahwa ketidakadilan global harus diatasi. Kesadaran ini muncul karena satu hal, yakni bahwa ketidakadilan adalah menjadi salah satu sumber konflik. Pertumbuhan yang inklusif berada pada tataran idealisme. Fakta yang berkembang hingga kini adalah berada pada wilayah pragmatisme.

Fakta yang tampak adalah pertumbuhan untuk pertumbuhan. Ini soal pragmatisme. Pada ranah idealisme adalah berbicara tentang pertumbuhan dan pemerataan. Persoalan ini hanya bisa diatasi dengan menggunakan pendekatan kebijakan pembangunan dan praktik terbaik dari produk kebijakan.

Model kebijakannya berarti harus lahir pada ranah global policy maupun regional dan national policy yang dapat diunggulkan sebagai best practise. Indonesia secara ideoligis yang dijamin oleh konstitusi sejatinya telah memiliki konsepsinya, yaitu Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial, bab XIV pasal 33 dan 34 UUD 1945.

Ketika dunia kini mempunyai concern untuk ber sama-sama mengatasi isu kesenjangan global, maka Indonesia dalam forum PBB, IMF, Bank Dunia, atau dalam forum G-20, WEF, dan APEC memiliki kesempatan emas untuk policy sharing dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi global yang makin inklusif. Konsep ini tidak ada dalam pikiran kebangsaan AS maupun Tiongkok atau bangsa lain di dunia.

Konsep ini hanya ada di Indonesia, yaitu “pereko nomian dan kesejahteraan sosial” dinyatakan dalam satu legal framework pada derajat yang sama pentingnya.

Indonesia pernah memunculkan gagasan tentang Ekonomi Pancasila. Beberapa tokohnya sebagian telah tiada, seperti Prof Dr Mubiyarto dari FE UGM. Ada lagi Prof Dr Didin Damanhuri dari IPB, dan dosen senior di Lemhanas. Mungkin masih banyak lagi tokoh nasional atau daerah yang mempunyai pemikiran itu. Ginanjar Kartasasmita dapat pula termasuk tokoh yang memiliki concern serupa, yang pernah menulis buku berjudul Ekonomi Kerakyatan.

Penulis juga bisa menyebut Prof Dr BJ Habibie sebagai tokoh pengembang ekonomi inklusif di negeri ini. National interest-nya sangat mudah dipahami untuk memberdayakan sistem perekonomian nasional. Ketika dunia limbung bahwa globalisasi dan liberalisasi ekonomi kepentok pada situasi munculnya kesenjangan global, maka forum resmi seperti yang penulis sebutkan di atas telah memulai melakukan inisiative for policy dialogue untuk mencari solusi terbaik bersama. Target makronya adalah mencapai perbaikan mutu kehidupan yang semakin lebih baik di masa kini dan mendatang. Hemat penulis,

Ekonomi Pancasila dapat menjadi pilihan jalan tengah untuk mengatasi isu kesenjangan global yang menjadi kekhawatiran.

Presiden Jokowi kita harapkan dapat menyampaikan pidato ke bangsaan di forum G-20, di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Momen ini menjadi milik Indonesia ketika dunia limbung menghadapi pandemi Covid-19 yang membuat aktivitas ekonomi global tidak berdaya. Beliau bisa menyampaikan pikiran tentang Ekonomi Pancasila atau Perekonomian dan Kesejahteraan Sosial sebagai antitesis terhadap sistem kapitalisme dan liberalisme, yang gagal menciptakan keadilan.

*) Pemerhati Ekonomi dan Industri.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN