Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Industri Pengolanhan dalam Lingkaran PDB

Jumat, 3 Desember 2021 | 23:16 WIB
Fauzi Aziz *)

Berdasarkan data BPS tentang kinerja ekonomi triwulan III-2021 yang terkait kinerja industri, ada beberapa catatan menarik. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini, 66,42% PDB berasal dari sumbangan industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Rata-rata berarti 13,28%. Pertumbuhan menurut 17 lapangan usaha pada triwulan III-2021 terdapat 11 lapangan usaha tumbuh positif, dan 6 lapangan usaha tumbuh negatif,yaitu akomodasi & makan minum (-0,13%), jasa lainnya (-0,30%), jasa perusahaan (-0,59%), transportasi dan pergudangan (-0,72%), jasa pen didikan (-4,42%), dan administrasi pemerintahan (-9, 96%).

Dari 11 lapangan usaha yang tumbuh positif, industri pengolahan tumbuh 3,68% (nomor 9), realestat 3,42% (nomor 10), dan pertanian 1,31% (nomor 11). Nomor 1 sampai 8 berturut-turut adalah jasa kesehatan (14,06%), pertambangan (7,78%), infokom (5,51%), perdagangan (5,16%), jasa keuangan (4,29%), pengadaan listrik dan gas (3,83%), konstruksi (3,84%).

Capaian tersebut yang mengakibatkan ekonomi pada triwulan III-2021 hanya tumbuh 3,51%, karena dilihat dari sisi lapangan usaha hanya ada 11 yang tumbuh positif, dan 6 tumbuh negatif. Sektor industri pengolahan nonmigas tumbuh 4,12%, dan industri batu bara dan pengilangan migas tumbuh 0,77%.

Di sektor industri nonmigas yang tumbuh tinggi adalah alat angkut 27,84%, sedangkan kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 9,71%, logam dasar 9,52%, serta makanan dan minuman tumbuh 3,49%.

Ada tiga sektor yang tumbuh negatif, yakni tekstil dan pakaian jadi (-3,34%), kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman, industri karet, barang dari karet dan plastik (-2,80%).

Capaian ini yang menyebabkan industri pengolahan nonmigas hanya tumbuh 4,12%, dan industri pengolahan migas dan nonmigas hanya tumbuh 3,68%. Posisinya berada pada nomor 9 dari 11 lapangan usaha yang tumbuh positif pada triwulan III-2021.

Itulah skor sementara yang diraih oleh sektor industri pengolahan pada triwulan III-2021. Pascapandemi Covid-19 dan kondisi perekonomian global, serta di dalam negeri terus menga lami perbaikan ke depannya, maka harapannya kinerja industri peng olahan sebagai soko pertumbuhan ekonomi tidak “terdegradasi” dari penyumbang PDB akibat mengalami tekanan untuk tumbuh. Tahun ini hingga akhir 2024 diharapkan tidak mengalami degradasi pertumbuhan karena dalam RIPIN sektor industri 2015-2035, sektor ini dipasang target tumbuh 9,1% dan berkontribusi terhadap PDB sebesar 27,4% pada 2025.

Cukup berat tantangannya karena faktor perbaikan pertumbuhan ekonomi global selalu di bawah bayang-bayang ketidakpastian, dan kapan pandemi Covid-19 akan berakhir tidak ada yang bisa memprediksi. Tantangan internalnya adalah membangun keunggulan produktivitas industri. Tantangan eksternalnya adalah maksimalisasi kontribusi dalam global value chain di hulu, antara dan hilir. Tantangan yang lain adalah bahwa industri yang tumbuh tidak bertabrakan dengan arah baru konsep pembangunan berkelanjutan, yang berarti harus bisa hidup da lam sistem ekonomi hijau.

Dengan demikian berarti bahwa the political industrial economy of policy making-nya mesti disiapkan ke arah terbentuknya struktur industri yang memiliki keunggulan produktivitas, terspesialisasi, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mendorong terjadinya re-alokasi sumber daya ekonomi dan industri agar secara internal, serta sistem industrinya mampu bekerja menciptakan keunggulan produktivitas.

Satu misi politik industri yang paling berat dipikul selain harus bertransformasi, secara teknokratik juga harus bisa menjadi instrumen penghantar bagi terciptanya keseimbangan kemajuan antarsektor, dan terbentuknya kesatuan ekonomi nasional yang efisien dan produktif.

Berarti bahwa pertumbuhan industri ke depan memiliki kewajiban berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia secara spasial yang pada triwulan II-2021 masih didominasi Jawa (57,54%) dan Sumatera (21,95%), sedangkan Kalimantan 8,32%, Sulawesi 6,98%, Maluku- Papua 2,45%, dan Bali-Nusa Tenggara 2,75%. Membuat keseimbangan kemajuan dan terwujudnya kesatuan ekonomi nasional jelas membutuhkan arah politik ekonomi industri baru, realokasi sumber daya, dan ekosistem baru.

*) Pemerhati Ekonomi dan Industri.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN