Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Parningotan Julio, Senior Fund Manager Pacific Capital Investment

Parningotan Julio, Senior Fund Manager Pacific Capital Investment

Untung Rugi Membeli Saham IPO Perkebunan Sawit

Jumat, 3 Desember 2021 | 23:36 WIB

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) meningkat sepanjang tahun 2021, bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini bisa menjadi momentum bagi perusahaan kelapa sawit melakukan ekspansi bisnis dengan menarik dana dari pasar saham melalui IPO.

Sentimen positif dari program biodiesel, menguatnya harga minyak dunia, potongan bea impor minyak kelapa sawit mentah India, dan faktor cuaca menjadi pendorong harga CPO menguat di atas RM 5,000/ton tahun ini.

Jauh di atas harga penutupan tahun 2020, yaitu RM 3,891/ton. Untuk tahun 2022, harga CPO diperkirakan masih akan mampu bertahan di kisaran RM 4.000-an/ ton, dengan kondisi supply relative stabil dan demand masih cukup besar dari Tiongkok dan India.

Sejalan dengan mulai stabilnya harga CPO setelah menguat selama dua tahun belakangan ini, harga saham emiten perkebunan sawit akan cenderung stabil setelah laporan keuangan 2021 dirilis.

Sedangkan di luar pasar saham, perusahaan perkebunan kelapa sawit umumnya membukukan peningkatan kinerja dan berniat memperluas kapasitas bisnis.

Kembali ke strategi perusahaan sawit meningkatkan kapasitas usaha, untuk merealisasikannya perlu tambahan modal. Salah satu sumber dana yang dapat diandalkan adalah pasar saham melalui penawaran umum perdana (IPO) saham.

Perkebunan kelapa sawit diperkirakan mampu menjadi salah satu sektor yang mencatatkan pertumbuhan signifikan tahun ini. Namun, untuk bisa menarik investor, perusahaan sawit harus memiliki track record positif. Hal yang juga dilihat investor saat membeli saham adalah bagaimana konsistensinya dalam membagikan dividen, --hal ini tidak bisa dilihat pada perusahaan yang hendak IPO.

Rencana IPO

PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) merupakan salah satu perusahaan sawit yang mengumumkan rencana IPO. Jika terealisasi, NSS akan menambah emiten perkebunan kelapa sawit yang sahamnya dapat dimiliki oleh masyarakat di bursa efek Indonesia.

Keuntungan membeli saham perusahaan sawit melalui IPO adalah biasanya saham yang akan dilepas perdana, dijual dengan valuasi yang diberikan diskon, sehingga memberikan potential upside kepada investor yang membelinya. Potensi terjadi kenaikan harga akan semakin besar, terutama bila kinerja perusahaan tersebut lebih efektif dan efisien dalam memanfaatkan asetnya dibanding kompetitor.

Sebelum memutuskan membeli saham PT NSS, kinerja perusahaan tentu harus diamati investor. Bagaimana kemampuan perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan laba dibanding kompetitor? Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah apakah struktur pembiayaannya optimal, serta bagaimana visi dan misi manajemen untuk menjalankan perusahaan ke depannya.

Selain itu, harga valuasi saham yang akan dijual perlu menjadi pertimbangan investor.

Usia tanaman kelapa sawit NSS masih relatif muda, sekitar 7 tahun. Dengan tanaman yang masih relatif muda tentu akan memberikan sentimen positif.

Sebab, masa paling produktif tanaman kelapa sawit adalah 10-17 tahun. Tanaman pada rentang usia itu sangat efisien dan ekonomis, karena buah yang dihasilkan maksimal dan kebutuhan belanja modal untuk replanting tanaman menjadi minim.

Kesadaran masyarakat terhadap peran industri sawit dalam perekonomian juga bisa memberikan daya tarik bagi investor domestik terhadap saham produsen CPO.

Sejak beberapa tahun terakhir, porsi investor domestik yang bertransaksi di pasar saham Indonesia terus meningkat. Hingga Oktober 2021, dari data BEI bisa dilihat bahwa mayoritas nilai perdagangan harian bursa sahamdidominasi investor domestik.

Pada Januari 2021, sebanyak 81% dari nilai transaksi dilakukan oleh investor domestik. Di sisi lain, membeli sahamsaham IPO tentu memiliki risiko, termasuk pada saham emiten perkebunan sawit. Salah satu risiko adalah data historis dari emiten tersebut masih tidak sebanyak emiten yang sudah lama melantai di bursa.

Data historis ini penting, sebab akan menjadi track record kemampuan emiten menghadapi krisis, apakah perusahaan mampu untuk sustain atau malah ter eliminasi. Dari data historis ini juga dapat dilihat bagaimana efektivitas perusahaan dalam mengelola aset, dan bagaimana struktur pembiayaannya selama ini dibanding kompetitor, janganjangan baru beberapa tahun belakangan ini saja kinerjanya dipoles untuk IPO.

Faktor lainnya adalah dari bagaimana persepsi investor terhadap perusahaan yang akan IPO, apakah harga yang ditawarkan murah atau mahal, dan apakah ada cukup likuiditas investor untuk membeli saham emiten tersebut. Hal-hal ini akan mempengaruhi pergerakan harga saham-saham pasca-IPO.

Risiko itu berbeda dengan saham emiten sawit yang sudah eksisting di bursa. Untuk emiten yang sudah tercatat, data historis sudah tersedia sehingga dengan mudah dilihat bagaimana track record perusahaan.

Catatan akhir, sebagian besar saham emiten perkebunan kelapa sawit secara year to date mencatatkan pertumbuhan harga yang positif sejalan dengan IHSG, dan PE rata-rata ±24X mendekati PE IHSG.

*) Senior Fund Manager Pacific Capital Investment (Tulisan ini adalah pendapat pribadi)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN