Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Merawat Investasi, Industri, dan Perdagangan

Jumat, 10 Desember 2021 | 12:18 WIB
Fauzi Aziz *)

Pemulihan ekonomi, kata ekonom penerima penghargaan Nobel 2008, Paul Krugman, harus dimulai dari investasi yang tinggi. Untuk itu diperlukan suku bunga rendah.

Berarti pula, investasi harus efisien, dengan angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang rendah. ICOR dengan angka 5-6 masih terlalu tinggi sehingga harus diturunkan agar menarik bagi para penggiat investasi.

Syukur bisa menjadi sekitar 3-4. Maka, kita butuh “Revolusi Kebijakan” ekonomi dalam negeri. ICOR menjadi kata kunci atau pamungkas agar bisa recovery and growth. Pemulihan ekonomi setelah pandemi Covid-19 harus menempuh jalan terjal. Uang yang dipakai menstimulasi ekonomi selama masa pandemi adalah berasal dari utang.

Kenaikan suku bunga akan membuat utang menggunung sehingga makin sulit dilunasi. Utang global selama masa pandemi menurut IIF mencapai US$ 281 triliun dan rasionya terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 355%.

Inilah tantangan berat bagi pemulihan ekonomi. Investasi berhadapan dengan persoalan beban utang. Karena itu, ada sebuah catatan penting bahwa utang luar negeri yang bengkak merupakan faktor kritis dalam pemulihan ekonomi.

Dalam masa genting ini, pemulihan ekonomi harus dimulai dari investasi, tetapi berharap suku bunga murah juga relatif sulit, sebab kreditur juga harus menyelamatkan likuiditasnya karena sektor keuangan dan perbankan juga terdampak pandemi.

Jika kita sepakat dengan Paul Krugman, berarti investasi di sektor industri harus menjadi pilihan kebijakan untuk memperkuat basis produksi. Menguasai jaringan perdagangan dalam negeri dan luar negeri menjadi bagian inheren dari pilihan kebijakan tersebut.

Fragmentasi kebijakan harus dihindari, dan konsolidasi kebijakan harus diinisiasi. Hanya dengan cara itu, kita akan mampu melunasi utang. Kita bayangkan bahwa masa pemulihan di samping menempuh jalan terjal, juga tetap ada risiko yang harus terus diwaspadai.

Menurut pandangan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani, beberapa risiko yang perlu diwaspadai ada lima titik, yaitu risiko asset bubbles, price instability, commodity shocks, debt crisis, dan risiko geopolitik.

Ada juga tren seperti diprediksi WEF bahwa pandemi menimbulkan pengangguran, dan belum tentu ada jaminan bahwa kelompok ini akan kembali mendapatkan pekerjaan.

Alasannya sangat masuk akal, pemulihan ekonomi adalah peningkatan efisiensi. Efisiensi yang terbentuk dikhawatirkan akan terus dipertahankan perusahaan dengan melibatkan digitalisasi. Sebab itu, WEFmemprediksi dalam 1-2 tahun ke depan ada potensi terjadinya krisis pekerjaan. Berarti ada 6 risiko yang harus dihadapi, termasuk 5 yang disebutkan di atas.

Kita sepakat untuk tidak bersikap skeptis dan pesimistis menghadapi fenomena dan dinamika ekonomi sesudah pandemic Covid-19. Kita setuju bersikap optimistis tetapi juga harus realistis menghadapi tantangan yang ada.

Panggilan tugas yang berat adalah melakukan restrukturisasi ekonomi, konsolidasi kekuatan untuk menjawab ancaman dan tantangan, termasuk munculnya isu lama tapi baru yakni proteksionisme.

Situasi normal baru, ketidakpastian baru. Inilah yang masih akan kita hadapi. Wajar jika kemudian IMF maupun Bank Dunia sering merevisi angka pertumbuhan ekonomi global maupun negara emerging economy, seperti Indonesia. Price instability sudah terjadi. Harga minyak bumi naik, Brent pada level US$ 79,28 per barel, Light Sweet US$ 75,88 per barel. Diperkirakan masih ada potensi terus naik.

Ilustrasi merawat investasi di Indonesia
Ilustrasi merawat investasi di Indonesia

Kini terjadi juga krisis energi di Tiongkok, Inggris, dan India. Harga gas alam naik karena naiknya permintaan komoditas yang

rendah emisi. Harga batu bara juga lagi baik, mencapai US$ 200 per ton.

Komoditas penyumbang emisi karbon akan menghadapi ancaman price instability, dan commodity shock. Kegagalan untuk menstabilkan harga dan ketidakmampuan mengontrol kenaikan harga atau sebaliknya tentu menjadi ancaman serius bagi perekonomian yang ekspornya masih tergantung pada komoditas.

Fenomena Dutch Dease menjadi ancaman bagi negara-negara pengekspor sumber daya alam. Orientasi kebijakan harus bergeser ke arah hilirisasi dan substitusi impor, sekaligus melaksanakan substitusi ekspor dari semula berbasis komoditas menjadi berbasis manufaktur.

Semua negara menanti pemulihan ekonomi, dan sembari itu semua negara berharap terjadi stabilisasi di zona geopolitik dan zona geokonomi global agar pemulihan dan pertumbuhan eko nomi yang terjadi berkelanjutan.

Ekspektasinya adalah terciptanya zona damai dan zona makmur bagi kesejahteraan umat manusia penghuni dunia yang kini mencapai sekitar 7 miliar jiwa yang butuh mata pencaharian dan standar hidup yang layak.

Investasi, industri dan perdagangan harus bangkit, bukan sekadar harus tumbuh tapi perlu berkelanjutan karena ada faktor liabilitas yang berbiaya mahal, yaitu biaya perubahan iklim,biaya pelunasan utang masingmasing negara.

Status invesment grade jelas kita butuhkan agar investor dalam negeri maupun asing percaya bahwa Indonesia mempunyai kemampuan bayar yang tinggi atas berbagai liabilitas, dengan risiko gagal bayar yang rendah.

Merawat investasi, industri dan perdagangan menjadi keniscayaan untuk menggerakkan perekonomian nasional. Penerapan Online Single Submission harus didahului dengan Online One Policy System. Pertumbuhan investasi, industri dan perdagangan harus tinggi di atas laju pertumbuhan ekonomi.

Pada triwulan II-2021 (y-on-y), investasi fisik tumbuh 7,54%, industri pengolahan tumbuh 6,56%, dan perdagangan tumbuh 9,44%, di mana ekonomi tumbuh 7,07% (sumber BPS). Ini titik awal pemulihan yang bagus, semoga berlanjut.

Penelitian World DataLab menyimpulkan bahwa pandemi Covid-19 hanya menjadi hambatan sementara bagi tumbuh pesatnya perekonomian dunia.

*) Pemerhati Ekonomi dan Industri.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN