Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Prestasi dan Reputasi Ekonomi

Jumat, 24 Desember 2021 | 15:25 WIB
Fauzi Aziz *)

Ini lagu lama, tapi tetap menarik, yakni tentang output and economic outcome. Prestasi dan reputasi ekonomi suatu Negara sangat tergantung dari output dan economic outcome yang dihasilkan.

Definisinya jelas bahwa output adalah hasil yang dicapai berupa barang dan jasa dalam jangka waktu tertentu, misal 1 tahun. Sedangkan outcome pada dasarnya adalah hasil yang terjadi setelah pelaksanaan kegiatan ekonomi dalam jangka waktu tertentu misal 1 tahun.

Dalam kerangka ekonomi, maka output berupa produk domestic bruto (PDB), sedangkan outcome pada dasarnya berupa pertumbuhan PDB dan peningkatan kesejahteraan rakyat dalam jangka waktu tertentu. Lagu lama ini penting terus diputar karena hal ini beririsan dengan persoalan tata kelola. Proses ini telah berjalan dari zaman ke zaman. Kuncinya yang paling menentukan terletak pada faktor kualitas, efisiensi dan produktivitas dalam memproses input hingga menghasilkan PDB serta pertumbuhan dan kesejahteraan rakyat.

Input pada dasarnya unsur dari luar berupa sumber daya manusia, dana, sarana dan prasarana, serta kebijakan dan regulasi maupun progam yang menyertainya. NKRI dari masa ke masa sudah menjalankan proses dan kegiatan ekonomi dalam rangka pelaksanaan pasal 33 UUD 1945 dengan segala pernak perniknya.

Meskipun demikian, jika kita ikuti berbagai data dan informasi yang dianalisis oleh BPS dan para ahli ekonomi, secara umum mem berikan indikasi bahwa output dan economic outcome yang dihasilkan masih high cost dan menghasilkan ketimpangan, baik ketimpangan antarkelompok pendapatan, maupun kesenjangan antarsektor dan antarwilayah Jawa dan luar Jawa. Jika ditelusuri sebab musababnya, kita akan menemukan sebuah jawaban bahwa tata kelola dalam alokasi dan distribusi sumber daya belum diurus dengan baik.

BPS menjawab dengan sebuah informasi bahwa perekonomian Indonesia secara spasial triwulan II-2021 kontribusi Jawa masih 57,92%, yang berarti di luar Jawa baru nyumbang 41,08%. Contoh lain bahwa pada periode yang sa ma, pertumbuhan ekonomi tri wulan II-2021 (y-on-y) menurut pengeluaran 84,93% PDB berasal dari konsumsi rumah tangga dan investasi.

Dengan demikian, sumbangan yang berasal dari belanja pemerintah, ekspor-impor hanya 15,07% terhadap PDB.

Secara objektif harus diakui bahwa hingga kini tata kelola sistem perekonomian nasional belum efisien, yang berarti masih terlalu boros dalam alokasi dan distribusi sumber daya.

Dengan demikian kita juga harus secara berimbang menyampaikan bahwa capaian kinerja hingga triwulan II-2021 (y-on-y) telah menghasilkan PDB sebesar Rp 4.175,8 triliun dan pertumbuhan ekonomi 7,07%, tetapi masih dibayar relatif mahal karena high cost economy.

Tugas kita bersama bersama mengubah wajah ekonomi yang masih high cost menuju ke sistem ekonomi yang low cost. Yang selalu tampak di depan mata antara lain adalah biaya investasi masih tinggi, dengan ICOR di sekitar 5-6, tertinggi di sejumlah Negara Asean lainnya yang berada pada kisaran 4.

Biaya logistik belum sepenuhnya turun drastis, angkanya masih di sekitar 24% terhadap PDB. Di Asean rata-rata adalah 21%. Biaya bunga pinjaman investasi masih sekitar 10-11%, padahal pemulihan ekonomi butuh suku bunga rendah. Dari total biaya logistik, sekitar 60% berupa beban biaya pengangkutan darat, laut dan udara. Indonesia masih mengimpor sekitar 70% bahan baku/ penolong yang berarti bahwa devisa hasil ekspor sekitar 70% pula terpakai untuk membiayai impor.

Selebihnya untuk membayar utang luar negeri dan kewajiban internasional lain seperti biaya untuk merawat lingkungan hidup dan lain-lain.

Input, proses, output dan outcome berada dalam satu sistem tarikan napas. Jika salah satu mata rantainya putus, pasti akan menimbulkan gangguan dan hambatan dalam kegiatan ekonomi.

Di sisi input, para pemangku kebijakan dan pengelola program telah cukup banyak berbuat demi perekonomian nasional. Ber ulangkali disebut pentingnya melakukan perubahan struktural.

Ada hasilnya secara nyata, namun memang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan terciptanya produktivitas perekonomian nasional. Ada indikasi awal yang baik yaitu konsumsi rumah tangga dan investasi menyumbang 84,93% terhadap PDB.

Ternyata investasi yang dilakukan belum sepenuhnya bisa mendongkrak ekspor dan menekan impor. Ini salah satu pertanda bahwa masih ada soal dalam tata kelola input, proses, output dan outcome.

Secara lebih makro berar ti kita masih menghadapi masalah dalam pola hubungan antara investasi, industri, dan perdagangan yang mata rantainya masih putus-putus. Padahal sistemnya menghendaki mata rantai yang tidak putus-putus. Tampaknya lagu lama yang melegenda tersebut perlu re-setting agar putarannya efisien. Indonesia 4.0 semua pihak sepakat menjadi arus utama dalam tata kelola input, proses, output dan outcome agar bekerja dengan efisien.

Semua entitas berkebutuhan dengan aplikasi Indonesia 4.0. Berarti bahwa Indonesia butuh ekosistem baru yang bisa menjadi pemandu jalannya progam perubahan struktural. Semua pemangku kepentingan pasti butuh progam tersebut asalkan semuanya harus bermuara pada perbaikan tata kelola di sisi input, proses, output dan economic outcome. Rumah tangga ekonomi negara maupun rumah tangga ekonomi perusahaan dan rumah tangga ekonomi keluarga butuh aplikasi Indonesia 4.0. Indonesia Tangguh dan Indonesia Tumbuh butuh tatanan baru dan ekosistem baru.

*) Pemerhati Ekonomi dan Industri.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN