Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Manuel Adhy Purwanto, Investment Connoisseur Moduit

Manuel Adhy Purwanto, Investment Connoisseur Moduit

Prospek Pertumbuhan Ekonomi 2022

Rabu, 12 Januari 2022 | 12:00 WIB
Manuel Adhy Purwanto *)

Gejolak ekonomi akibat pandemi Covid-19 sebenarnya telah menurun sejak November 2021. Aktivitas publik yang menandai gairah perekonomian mulai terbentuk, khususnya saat penurunan intensitas pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Namun, sejak masuknya varian baru Covid-19, yakni Omicron, terjadi turbulensi psikologis baru bagi pegiat ekonomi di Indonesia.

Rasa waspada pengusaha dan pemerintah tidak bisa dimungkiri. Sebab, target pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2021 berada di sekitar 4%-5%. Jika Omicron “mengganas”, bukan tak mungkin, gelombang ketiga Covid-19 terjadi. Efeknya, kondisi perekonomian nasional kembali melandai, dampaknya tentu saja ke seluruh pihak, terutama masyarakat. Semua bisa luluh lantak kembali.

Namun, mendekati pengujung 2021, strategi pemerintah dalam menangkal Covid-19 dengan varian terbaru Omicron dinilai selaras dalam mencegah transmisi virus. Hal itu mendorong bertumbuhnya ekonomi nasional. Indikatornya jelas, yakni inflasi per 3 Desember 2021 berada pada level yang rendah dan terkendali yaitu sebesar 0,25% dan perkiraan inflasi 2021 sebesar 1,55%. Lalu, bagaimana kita melihat dinamika tahun perbaikan ini?

 

Momentum Tahun Perbaikan

Angin segar pertumbuhan nasional muncul dari sektor investasi. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 17 Desember 2021 mencatat bahwa pandemi membawa pertumbuhan jumlah investor yang naik sebesar 89,58% dibandingkan dengan periode yang sama akhir 2020. Pada periode tersebut jumlah Single Investor Identification (SID) investor pasar modal juga meningkat dan mencapai 7,35 juta SID. Ini artinya terjadi akselerasi pertumbuhan pada tahun perbaikan di 2021.

Tidak sampai di sana, pada 2021 yang disebut sebagai tahun perbaikan ekonomi, stabilitas ekonomi dan sistem keuangan telah kembali membaik dan terjaga. Buktinya, pada triwulan II dan III, pertumbuhan ekonomi telah menunjukkan ekspansi, masing-masing sebesar 7,07% year on year (yoy) dan 3,51%. Cermin pertumbuhan lainnya adalah dari sektor kredit, di mana per Oktober 2021 tumbuh sebesar 3,24% yoy dengan risiko kredit yang masih berada dalam rentang aman.

Siklus perekonomian nasional juga bergeliat. Pada periode Januari-September 2021, disebut bahwa realisasi investasi telah mencapai Rp 659,47 triliun. Efeknya, dalam proyeksi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi tersebut bisa menciptakan lapangan kerja sebesar 914 ribu tenaga kerja. Itu berarti, penyerapan tenaga kerja makin masif, dan ini berkontribusi bagi perkembangan ekonomi nasional.

Ilustrasi
Ilustrasi

Rentetan momentum tahun perbaikan selain dari pertumbuhan ekonomi juga dari pasar yang bergerak ke arah positif. Dilansir dari Katadata, secara keseluruhan, penjualan mobil periode Januari-November 2021 mencatatkan angka sebesar 790.524 unit, naik 66,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang berada pada angka 474.900 unit. Kenaikan penjualan mobil ini, selain mengakhiri tren perlambatan pada bulan September dan Oktober, juga memberi indikasi bahwa pasar telah bergeliat positif.

Di samping itu, neraca perdagangan Indonesia bulan November 2021 juga melanjutkan tren surplus selama 19 bulan berturut-turut, yakni mencapai US$ 3,51 miliar. Pertumbuhan ini didorong kinerja eskpor bulan November 2021 yang mencapai US$ 22,84 miliar, tertinggi sejak tahun 2000. Geliat ekspor ini menandakan terus menguatnya sisi produksi terutama untuk mendukung ekspor.

Laju pertumbuhan nasional juga didorong oleh gairah financial technology (fintech) yang kompatibel dengan iklim ekonomi nasional. Bahkan, akselerasi pembayaran digital, seperti penggunaan dompet digital, meningkat tajam sebagai ekses pandemi. Mengutip riset dari Kantar Research, transaksi digital meningkat sampai 25%. Ini menandakan bahwa dari segala sisi, ekonomi nasional pada 2021 tidak terlalu jatuh dibandingkan dengan pada 2020. Ini memberi ruang pada 2022 sebagai tahun kebangkitan ekonomi nasional.

 

Meneropong Ekonomi 2022

Jika 2021 dianggap sebagai tahun perbaikan, tahun 2022 oleh banyak analis disebut sebagai tahun pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks ini, kebangkitan ekonomi, yang sebelumnya pada 2020 ditekan pandemi, akan kembali merangkak naik. Dalam agenda Business Challenges 2022, Desember 2021 lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi 2022 akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bahkan lebih teknis dalam memperkirakan arah pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi 2022 berada di kisaran 4,7% yoy hingga 5,5% yoy. Bukan hanya BI, bahkan lembaga pemeringkat Fitch Ratings memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih tinggi, yang diprediksi bisa meroket pada angka 6,8% yoy.

Jika semua pihak mampu memberikan rasa optimisme yang baik pada laju pertumbuhan ekonomi, respons pasar tentunya akan positif. Namun, jika respons pasar terganggu dengan isu ekonomi domestik, stabilitas nasional yang gaduh, dan target vaksinasi nasional yang tidak tercapai, maka mungkin saja, prospek ekonomi 2022 mengalami kendala.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia merespons sikap optimistis pemerintah dengan melihat sektor-sektor yang akan meningkat pada 2022. Enam sektor bisnis yang diprediksi menggeliat ialah kuliner, properti, aneka barang dan jasa, teknologi informasi dan komunikasi, pakaian jadi, serta bisnis otomotif. Selain itu, akselerasi akan terjadi pada sektor e-commerce, sebab pada 2022 tren digitalisasi pada sektor pendidikan, kesehatan dan fintech akan berlanjut, bahkan hingga 2025.

Fintech diperkirakan memainkan peran penting pada pertumbuhan ekonomi 2022. Hal ini selaras dengan beberapa poin penting yang menjadi rujukan terciptanya pertumbuhan tersebut; perkembangan pesat bank digital dan perkembangan layanan online to offline (O2O). Sebab, perkembangan digital di Indonesia dinilai sudah masuk dalam kategori level atas, sehingga pelaksanaan aktivitas ekonomi akan makin masif karena dukungan fintech tersebut.

Agar prospek pertumbuhan ekonomi pada 2022 berjalan baik, seluruh pemangku kepentingan harus mampu melakukan kolaborasi stabilisasi ekonomi. Dalam konteks ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengingatkan bahwa kunci dalam memulihkan perekonomian nasional adalah dengan cara meramu kebijakan fiskal dan moneter yang sesuai. Itu artinya, pemerintah harus mampu menerapkan iklim ekonomi yang aktif, dan pelaku ekonomi juga harus atraktif pada iklim ekonomi tersebut.

Tantangan utama pada ekonomi 2022 tentu saja adalah respons pasar. Jika semua pihak mampu memberikan rasa optimisme yang baik pada laju pertumbuhan ekonomi, respons pasar tentunya akan positif. Namun, jika respons pasar terganggu dengan isu ekonomi domestik, stabilitas nasional yang gaduh, dan target vaksinasi nasional yang tidak tercapai, maka mungkin saja, prospek ekonomi 2022 mengalami kendala. Meski begitu, arah kebangkitan ekonomi 2022 sudah mulai mengarah pada sentimen pasar yang positif di pengujung Desember 2021 lalu.

 

*) Investment Connoisseur Moduit

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN