Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Neneng Herbawati, Praktisi PR & Founder I GICO Advisory.

Neneng Herbawati, Praktisi PR & Founder I GICO Advisory.

Industri Komunikasi dan Platform Digital Kian Strategis

Jumat, 14 Januari 2022 | 13:47 WIB
Neneng Herbawati *)

CEO Berkshire Hathaway, Warren Buffet, dalam unggahan sebuah video di sebuah jejaring sosial baru-baru ini membuat pernyataan yang menarik perhatian. Investor AS legendaris itu memberi tips kepada insan muda bahwa pada tahun 2022 mereka bisa berpenghasilan 50% lebih banyak dari hal-hal yang sudah mereka lakukan. Bagaimana caranya? Mengasah keterampilan komunikasi.

Menurut Buffet, dengan mengasah keterampilan komunikasi, baik tertulis mau pun lisan, seseorang bisa mendapatkan 50% lebih banyak dari nilainya saat ini karena dapat meningkatkan derajat dan karier kita dalam jang ka panjang.

Kendati telah memiliki kekayaan berlimpah dan berprofesi sebagai CEO salah satu perusahaan investasi terbesar di dunia, Buffet mengakui bahwa dia sangat takut berbicara di depan umum. Bahkan saking gugupnya berbicara di depan umum, ada kalanya Buffet muntah. Demi memperbaiki kemampuannya dalam berkomunikasi,

Buffet pun mengambil kursus di Dale Carnegie. Buffet mungkin bukan sarjana dan tidak bergelar doktor. Namun, kursus komunikasi tersebut mengubah hidupnya. Kita bisa saja memiliki semua kapasitas intelektual di dunia, tetapi kita harus dapat menyampaikannya kepada orang lain.

Transmisi penyampaian yang paling tepat dan efektif untuk hal tersebut adalah komunikasi. Bukan sekadar komunikasi, tetapi komunikasi yang baik. Bagaimana Buffet menggambarkan betapa pentingnya komunikasi yang menarik?

“Jika Anda tidak dapat berkomunikasi, itu seperti mengedipkan mata pada seorang gadis da lam kegelapan: tidak ada yang terjadi.”

Kepemimpinan Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) melalui Ke menterian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) juga menyiapkan strategi komunikasi yang berbeda dan lebih baik pada 2022.

Kemkominfo, terutama Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP), yang bertugas sebagai orkestrator atau leading sector dalam menanggulangi berbagai disinformasi, melakukan beberapa langkah untuk mengurangi atau mencegah beredarnya disinformasi dan ragam informasi negatif di tengah-tengah masyarakat.

Narasi Tunggal dan Peran Komunikasi

Ilustrasi industri komunikasi: Investor Daily
Ilustrasi industri komunikasi: Investor Daily

Jokowi sendiri juga sampai mengeluarkan instruksi khusus soal pentingnya narasi tunggal dalam komunikasi publik pemerintah kepada rakyat. Hal ini menandakan sinyal yang kentara. Bahwa pemimpin negara yang baru saja menjadi ketua dari Presidensi G20 ini memandang peran krusial komunikasi untuk mengelola negeri berpenduduk lebih dari 270 juta jiwa.

Jika kepentingan Warren Buffet adalah untuk meningkatkan kualitas atau nilai personal seseorang melalui komunikasi se hingga dapat meningkatkan penghasilannya, kepentingan pemerintah adalah mencegah peredaran disinformasi serta konten-konten negatif di ruang- ruang publik yang dapat mengganggu jalannya program pemerintahan.

Selain itu, kenyamanan dan keamanan masya rakat dalam melakukan komunikasi publik juga menjadi perhatian. Benang merahnya jelas. Bahwa peran komunikasi dirasakan semakin strategis pada tahun-tahun mendatang.

Tren di industri komunikasi dan public relation pun akan semakin penting dan memiliki posisi kian vital di tengah-tengah percaturan bisnis, pemerintahan, sosial dan kemasyarakatan.

Hasil riset McKinsey Global Institute ber tajuk “Otomasi dan Masa Depan Pekerjaan di Indonesia: Pekerjaan yang Hilang, Muncul dan Berubah” yang dipublikasikan September 2021 sangatlah menarik.

Pada tahun 2030, Indonesia di prediksi memasuki era otomasi di 16% aktivitas kerja yang berimbas pada hilangnya pekerjaan sekitar 23 juta pekerja. Ini terjadi di saat Indonesia dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang paling stabil di dunia dan akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor tujuh di dunia.

Kemajuan di bidang praktik komunikasi telah menciptakan beragam profesi yang makin berkembang. Menurut The Office of Career Service Manchester University, saat ini sedikitnya ada 160 profesi lulusan pendidikan tinggi ilmu komunikasi.

Profesi ini terentang dari bidang kehumasan (public relations), periklanan, komunikasi kesehatan, komunikasi politik, komunikasi  pembangunan, hingga profesi yang melibatkan media baru. Profesi komunikasi ini akan dan terus berkembang di era disrupsi.

Stephen Dupont, Vice President PR Relation dan Branded Content Pocket Hercules, memaparkan sejumlah tren yang akan mendorong perubahan di sektor profesi komunikasi, khususnya public relation. Pertama, tentu saja media sosial. Dengan Facebook, Google, dan sekarang TikTok, ke depan entah akan muncul platform media sosial apa lagi?

Kedua, dunia media dan para profesional di dalamnya. Seperti apakah platform media setelah kemunculan blogs, wordpress, medium dan podcast? Apakah akan semakin banyak jurnalis yang meninggalkan profesi mereka?

Lalu, bagaimana kita akan mempromosikan media di masa depan? Kemudian, influencer. La lu, perkembangan teknologi. Tren teknologi akan membuat kita semua –pada akhirnya– men definisikan ulang bagaimana cara kita berkomunikasi dengan stakeholder.

Faktor lain yang turut memengaruhi tren masa depan, tentu saja, keberlangsungan kegiatankegiatan yang selama ini (sebelum Covid-19) dilakukan secara offline, akan seperti apa setelah Covid-19? Tidak ketinggalan, bu daya juga turut memengaruhi pergerakan tren komunikasi di masa yang akan datang.

Di dalam praktik bisnis, baik di level nasional maupun global saat ini, terdapat banyak perusahaan yang menawarkan layanan konsultasi di bidang komunikasi.

Perkembangan teknologi digital pun turut mentransformasi bisnis di segmen ini. Sebagaimana di segmen ritel dan jasa layanan kesehatan dan logistik, ke depan, marketplace pun akan menjadi hal yang lazim di industri komunikasi.

Salah satu contoh platform marketplace untuk konsultan lepas di industri komunikasi adalah Publicist di Amerika yang didirikan oleh Lara Vanden berg pada 2020, untuk mendukung industri komunikasi dan pemasaran yang berubah ce pat karena Covid-19.

Apakah di Indonesia ada marketplace seperti ini? Ada! Briefer, sebuah platform kolaborasi untuk para konsultan atau pekerja lepas di industri komunikasi telah di luncurkan pada November 2021.

Di era gig economics, marketplace komunikasi se per ti Publicist dan Briefer hadir sebagai sebuah aplikasi bagi pa ra freelancer profesional di bi dang komunikasi. Aplikasi ini menghubungkan freelancer dan pelaku usaha UMKM dan korporasi yang membutuhkan jasa praktisi di bidang komunikasi dengan mudah dan efisien.

Pandemi Covid-19 bisa dibilang merupakan tahun titik perubahan dan akselerasi transformasi di dunia komunikasi. Banyak orang berubah menjadi ahli public relation and communication untuk menyelamatkan reputasi mereka dan meraih kepercayaan konsumen.

Begitu pun, ‘hanya’ karena sebuah tweet, bisa berujung pada boikot produk dari sebuah perusahaan atau bahkan penurunan saham perusahaan. Ini adalah era di mana sebuah gerak kecil aktivitas PR dapat membawa cuan atau malah malapetaka bagi sebuah perusahaan.

Kemahakuasaan media sosial telah melahirkan banyak hal, namun yang utama adalah transparansi. Transparansi total di mana saja, kapan saja dan siapa saja. Akibatnya, media sosial mengguncang industri PR tanpa bisa dikenali. Menurut Maxim Behar dalam bukunya “The Global PR Revolution: How Thought Lea ders Succeed in the Transformed World of PR”, media sosial telah menyebabkan revolusi PR pertama dan satu-satunya yang nyata dalam lebih dari 100 tahun sejarah industri ini.

Terlepas dari bagaimana bisnis PR berkembang selama bertahun-tahun, namun PR selalu menjadi transmisi atau semacam jembatan antara klien, media, dan publik. Perubahan ini menuntut para komunikator untuk luwes beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi. Kita dituntut lebih lentur dan tangkas. Selamat Tahun Baru 2022!

*) Praktisi PR & Founder I GICO Advisory.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN