Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Mengawali dengan Tanam Pohon

Sabtu, 15 Januari 2022 | 21:12 WIB
Nirwono Joga *)

Hari Gerakan Satu Juta Pohon Sedunia yang diperingati 10 Januari mengawali rangkaian kegiatan hari peringatan/perayaan yang biasa dilakukan sepanjang tahun. Tujuan peringatan ialah mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pohon bagi keberlangsungankehidupan makhluk hidup di bumi.

Sang Khalik membuat perumpamaan kalimat yang baik; pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya untuk manusia agar mereka selalu ingat (QS Ibrahim: 24-25).

Seruan untuk menanam pohon ialah ajakan kebajikan kepada kita untuk turut memulihkan alam dan mencegah kemungkaran berupa kebencanaan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana alam di Indonesia sepanjang 2021 sebanyak 3.092 kejadian, 1.298 di antaranya berupa bencana banjir. Bencana banjir diperkirakan meningkat saat puncak musim penghujan di awal 2022. Tidak ada kota/kabupaten yang luput dari ancaman bencana banjir.

Perubahan peruntukan lahan dan penebangan pohon menjadi sumber penyebab degradasi kualitas lingkungan, serta bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang permukiman, yang menimbulkan kerugian harta dan korban jiwa.

Ironisnya dampak perubahan iklim berupa bencana hidrometeorologis akan makin mengancam kehidupan kota dan kita.

Pohon dibutuhkan untuk merehabilitasi hutan dan lahan sebagai wadah konservasi keanekaraga man hayati baik flora dan fauna. Pun menyerap karbon dioksida (CO2) dalam rangka mitigasi perubahan iklim, serta berkontribusi terhadap penyediaan sandang, pangan, energi, dan ketersedia an air tanah bagi kesejahteraan masyarakat.

Pohon merupakan kekayaan alam tak ternilai harganya yang wajib disyukuri dan dilindungi. Pohon harus diurus, dirawat, di pelihara, dan dikembangbiakkan dengan tulus ikhlas, sebagai perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Menanam pohon merupakan pengejawantahan hubungan yang tulus dengan Allah (Habluminallah), sesame manusia (Habluminannas), serta alam (Hablumminalam).

Kitab suci mempertegas keberlanjutan semesta alam tergantung pada upaya pelestarian pohon. Pohon buah Tin (Ficus carica) disebut di Alquran Surat At-Tin. Pohon Bodhi (Ficus religiosa) menaungi candi Borobudur. Pohon kiara payung (Filicium decipiens) mengelilingi candi Prambanan sebagai simbol “tangga ke langit”.

Pohon kamboja (Plumeria alba) dipercaya masyarakat Afrika, kemudian dianut masyarakat Hindu, untuk mengusir roh jahat sehingga banyak ditanam di pura atau pemakaman. Pohon beringin (Ficus benjamina) kembar di tengah alun-alun menggambarkan filosofi hidup, dan menjadi penanda pusat kota di Jawa.

Allah menurunkan air hujan dari langit, lalu ditumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh- tumbuhan yang menghijau dan indah (QS Al An’am: 99, QS An Nahl: 10-11). Dalam menanam pohon harus memenuhi syarat kecocokan jenis pohon, ketepatan cara dan waktu penanaman, serta kemudahan pemeliharaan pascatanam.

Untuk itu, butuh kebun bibit untuk menyiapkan bibit pohon dalam jumlah massal. Pohon sebagai makhuk hidup tentu mengalami siklus tumbuh kembang, sehat, sakit, dan mati (usia tua, ditebang, tumbang). Pohon memiliki hak hidup, sama seperti warga kota. Pohon perlu dilengkapi kartu identitas dan terdaftar (program registrasi dan asuransi pohon), sehingga lokasi dan kondisi pohon dapat dilacak dan diketahui status terkininya: pohon sehat, sakit, keropos, patah, atau akan tumbang.

Pohon perlu dilindungi, dikelola dan dimanfaatkan secara berkesinambungan bagi kesejahteraan masyarakat. Pohon telah menjadi penyeimbang keindahan kehidupan kita dan perwujudan peradaban ekologis kota (QS Al Hajj: 5).

Pohon menghasilkan oksigen dan menyerap air secara alami. Satu hektare ruang terbuka hijau (RTH) dengan 16 pohon besar berkanopi 20 meter menghasilkan 0,6 ton oksigen per hari atau setara 219 ton per tahun. Pohon sejumlah ini juga menyerap 2,5 ton CO2 per tahun atau rata-rata 6 kilogram CO2 per batang tiap tahun. Sejumlah pohon tersebut juga menyimpan 900 meter kubik air tanah per tahun, menurunkan suhu 5-8 derajat Celsius, meredam kebisingan 25-80%, dan mengurangi kekuatan angin 75-80%.

Satu pohon besar berdiameter batang 30-50 sentimeter tinggi 15-20 meter mampu menyerap CO2 2,3 kilogram per jam (55,2 kilogram per hari) dan menghasilkan O2 1,7 kilogram per jam (40,8 kilogram per hari). Rata-rata satu orang dewasa memerlukan O2 sebanyak 2,9 kilogram per hari. Berarti satu pohon bisa melayani O2 bagi 14 orang. Jika 1,4 kilogram O2 seharga Rp 600 ribu, satu orang harus membayar jasa lingkungan ke pohon sebesar Rp 1,249 juta per hari (Rp 37,47 juta per bulan; Rp 449,64 juta per tahun) untuk bernapas. Maka, tanamlah pohon!

*) Koordinator Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN