Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Erick Rompas, Pemerhati ekonomi dan founder PT Bina Investama Global.

Erick Rompas, Pemerhati ekonomi dan founder PT Bina Investama Global.

UMKM, Peluang, dan Tantangan

Senin, 17 Januari 2022 | 20:59 WIB
Erick Rompas *)

Periode pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin akan memasuki tahun ketiga pada 2022. Seluruh kementerian/ lembaga pun telah menetapkan program beserta target pembangunan yang harus dicapai di berbagai sektor.

Khusus untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Presiden Jokowi meminta agar sektor tersebut turut berperan serta dalam mengurangi impor. Permintaan itu disampaikan kepala negara kepada Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dan diungkapkan oleh Teten dalam konferensi pers “Refleksi 2021 & Outlook 2002” di Jakarta, Kamis, 30 Desember 2021.

Menurut Teten, pemerintah berkomitmen mendorong pembiayaan UMKM yang bergeser dari sektor perdagangan ke sektor riil. Alasannya, sektor riil dapat menopang pembukaan lapangan pekerjaan lebih luas sekaligus memperkuat kemandirian pangan nasional.

Oleh karena itu, Kemenkop melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir KUMKM menetapkan 40% pembiayaannya untuk sektor riil. Harapannya kebijakan tersebut memacu pembiayaan perbankan dan nonperbankan lebih terkonsolidasi ke dalam ekosistem sektor riil.

Lantas, bagaimana peluang dan tantangan terkait arahan Presiden dan tindak lanjut Menkop tersebut?

Masih Butuh Impor

Sekadar kilas balik, situasi perekonomian dunia sepanjang tahun 2021 masih diliputi oleh ketidakpastian akibat pandemic Covid-19.

Kendati demikian, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksikan perekonomian dunia tahun 2021 dapat tumbuh 5,9%, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang terkontraksi 3,1%. Untuk 2022, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 4,9%.

Pemicunya adalah ketidakpastian lantaran pandemi Covid-19 dan cakupan vaksinasi masih rendah dan belum merata di seluruh dunia.

IMF pun memperingatkan ada potensi gangguan rantai pasok yang dapat bermuara kepada kenaikan harga. Ketika berbicara soal rantai pasok, maka mau tidak mau, perdagangan global dan korelasinya dengan kinerja dagang Indonesia menjadi pokok bahasan. Kementerian Perdagangan memproyeksikan surplus dagang akan mencapai US$ 37 miliar pada 2021. Khusus untuk ekspor, nilainya hingga November 2021 telah mencapai US$ 209 miliar, tertinggi setelah rekor ekspor per 2011.

Sedangkan impor dalam kurun waktu Januari-November 2021 mencapai US$ 174 miliar, tumbuh 37,53% dari US$ 127,13 miliar pada Januari-November 2020. Berdasarkan jenisnya, produk impor yang masuk ke Tanah Air masih didominasi bahan baku/ penolong, barang modal, dan barang konsumsi.

Walaupun begitu, impor tidak selamanya buruk. Sebab, impor menjadi salah satu indikator perekonomian bergerak, terutama di sektor riil.

Peluang dan Tantangan

Ilustrasi UMKM: Investor Daily
Ilustrasi UMKM: Investor Daily

“Saya ingin menegaskan lagi, UMKM merupakan pilar penting kebangkitan ekonomi kita,” begitu kata-kata Jokowi yang kerap disampaikan dalam sejumlah kesempatan. Kembali ke keinginan kepala negara agar UMKM turut berperan mengurangi impor, mau tidak mau perlu peningkatan kapasitas pelaku UMKM dalam negeri dari berbagai sisi agar mampu bersaing di sektor riil. Utamanya dalam memproduksi barang dan jasa di bidang pangan maupun bidangbidang lain.

Sebagai titik tolak, peralihan pelaku UMKM dari sektor informal menjadi formal merupakan sebuah keniscayaan. Untuk itu, pemerintah harus berkomitmen menyediakan kemudahan dari sisi perizinan.

Sebab, tanpa izin, UMKM tidak dapat masuk ke sektor formal un tuk mendapatkan akses permodalan. Apalagi, sudah bukan rahasia, tanpa modal yang cukup, su lit untuk mengembangkan skala usaha.

Kemenkopukm melalui LPDBKUMKM telah berkomitmen menyalurkan 40% pembiayaan ke sektor riil. Namun, ini tentu tidak cukup. Perusahaan pembiayaan dalam negeri, khususnya Holding BUMN Ultramikro, perlu 'turun tangan' menunjang pembiayaan tersebut.

Berbekal pengalaman dan jejaring yang luas, Holding BUMN Ultramikro dapat menjadi solusi menghadirkan pembiayaan dalam pengembangan UMKM di sektor riil.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pelaku UMKM. Contoh sederhana misalnya pelaku UMKM di bidang fesyen muslim.

Sudah jadi rahasia umum kalau hijab impor begitu mudah di lokapasar, bahkan dengan harga yang begitu murah untuk setiap helai kain. Mengapa demikian? Sebab, ongkos produksi di negara asal produk begitu rendah, termasuk dari sisi SDM.

Oleh karena itu, pemerintah perlu menggandeng para pelaku usaha tekstil terkemuka dan desainer ternama dalam memberikan pelatihan dan pendampingan. Harapannya agar skill set para pelaku UMKM mengalami peningkatan. Dengan ditunjang pemodalan yang cukup, maka ka pasitas usaha yang digeluti berpotensi meningkat.

Di tengah perkembangan teknologi dan dinamika global, perdagangan digital dalam pasar global memiliki peluang yang masif. Alih-alih diserbu produk impor, pelaku UMKM Indonesia harus dapat menembus pasar ekspor melalui lokapasar.

Semua itu tentu tidak mudah. Syarat utamanya adalah kualitas produk yang dihasilkan harus memenuhi standardisasi negaranegara tujuan ekspor.

Pada akhirnya, ikhtiar Presiden agar pelaku UMKM dapat turut serta berperan mengurangi impor bukanlah sesuatu yang mustahil. Namun demikian, semua membutuhkan kerja kolektif para pihak, tidak hanya pelaku UMKM, melainkan juga pemerintah baik di level pusat maupun daerah.

*) Pemerhati Ekonomi dan Founder PT Bina Investama Global.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN