Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Kompleksitas Inflasi Global dan Pengendaliannya (2)

Rabu, 1 Juni 2022 | 20:32 WIB
Oleh Ryan Kiryanto \") (redaksi@investor.id)

Ketika bank-bank sentral negara lain sudah menaikkan suku bunga acuannya, langkah yang ditempuh Bank Indonesia (BI) hingga saat ini tidak demikian.

Dengan pertimbangan taktis dan strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan dan kestabilan nilai tukar rupiah di tengah laju inflasi inti yang terkendali, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 23-24 Mei 2022 lalu memutuskan tetap mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.

Keputusan itu sejalan dengan pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar, serta tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, di tengah tingginya tekanan eksternal terkait ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina serta percepatan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara maju dan berkembang.

Dengan cermat BI condong menggunakan instrumen non bunga acuan untuk mengendalikan inflasi sesuai yang diekspektasikan, yakni mempercepat normalisasi kebijakan likuiditas melalui kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah secara bertahap, berlaku mulai awal Juni hingga awal September 2022.

Dengan demikian, perbankan memiliki ruang yang memadai untuk dapat mengelola likuiditasnya supaya tetap ample sehingga rencana ekspansi kredit tetap berjalan sesuai rencana bisnis banknya. Lebih-lebih BI juga memberikan insentif remunerasi sebesar 1,5% terhadap pemenuhan kewajiban GWM setelah memperhitungkan insentif bagi bank-bank dalam penyaluran kredit kepada sektor prioritas dan UMKM dan/atau memenuhi target Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM).

Sejalan dengan upaya pengendalian inflasi melalui instrumen moneter, pemerintah Indonesia aktif menggunakan kebijakan non ekonomi-moneter, yakni kebijakan terkait pengembangan ekonomi hijau sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Sebagai negara kepulauan dengan 17.000 pulau yang 65% penduduknya tinggal di wilayah pesisir, Indonesia tergolong rentan terhadap perubahan iklim. Mitigasi perubahan iklim sangat penting untuk menjaga keberlanjutan kehidupan manusia dan menjaga ketahanan ekonomi dalam jangka menengah hingga panjang.

Menuju nol bersih emisi (net zero emission/NZE) merupakan upaya memitigasi perubahan iklim yang akan mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) secara nominal, sekaligus meningkatkan pendapatan per kapita hingga 2,5 kali lipat dari sebelumnya yang business as usual. Hal ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk bergerak menuju pembangunan nasional yang berkelanjutan dengan mengutamakan transisi yang lebih adil dan terjangkau (inklusif).

Pemerintah Indonesia berkomitmen menangani perubahan iklim melalui dokumen nationally determined contribution (NDC) yang menargetkan penurunan emisi pada 2030 sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan dukungan internasional.

Komitmen tersebut telah diperbarui melalui penyampaian Updated NDC pada 2021, di dalamnya memuat strategi jangka panjang rendah karbon dan ketahanan iklim 2050 (Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050) yang menargetkan pencapaian NZE pada 2060 atau lebih awal.

Agenda keberlanjutan juga menjadi salah satu pertimbangan utama dalam setiap pembiayaan di sektor keuangan. Namun demikian, dibutuhkan konvergensi terminologi bagi pelaku pasar dan pemangku kepentingan yang lebih luas.

Salah satu tujuan kebijakan keuangan berkelanjutan adalah memastikan bahwa seluruh pelaku sektor jasa keuangan dan pemangku kepentingan menggunakan kosakata umum dan transparan mengenai terminologi keuangan berkelanjutan.

Pemanfaatan sumber daya alam dan kondisi lingkungan yang baik merupakan aset dan modal utama perekonomian. Selayaknya manajemen aset, sumber daya alam dan kondisi lingkungan dikelola dengan baik agar dapat menyokong perekonomian yang tangguh secara berkelanjutan.

Ilustrasi
Ilustrasi

Sektor keuangan dapat berperan sebagai katalis untuk mempercepat penerapan aktivitas ekonomi yang berdampak positif terhadap lingkungan dalam membangun perekonomian yang tangguh. Sehingga dibutuhkan pemahaman yang sama mengenai kategori kegiatan usaha melalui taksonomi hijau.

Taksonomi hijau menjadi penting karena dapat memberikan keseragaman pemahaman yang lebih baik dan memudahkan bagi sektor jasa keuangan mengklasifikasi aktivitas hijau dalam mengembangkan portofolio produk dan/atau jasa keuangan. Taksonomi hijau diharapkan dapat membantu proses pemantauan berkala dalam implementasi penyaluran kredit/pembiayaan/investasi ke sektor ekonomi berkategori hijau (green economic sector).

Taksonomi hijau mengklasifikasikan aktivitas ekonomi untuk mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Tujuan strategisnya adalah mendorong inovasi penciptaan produk/proyek/inisiatif hijau sesuai dengan standar ambang batas oleh pemerintah.

Sejauh ini terdapat 2.733 sektor dan subsektor yang telah dikaji, 919 di antaranya dapat dipetakan pada subsektor/kelompok/kegiatan usaha serta terklarifikasi mengenai ambang batasnya oleh kementerian teknis terkait. Ke depannya, taksonomi hijau diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengungkapan laporan keberlanjutan sektor jasa keuangan dan perbaikan kinerja lingkungan pada kegiatan ekonomi dan investasi.

Sistem insentif dan disinsentif seyogianya diterapkan supaya implementasi kegiatan ekonomi dan sektor jasa keuangan senantiasa comply dengan prinsip environmental, social and governance (ESG) sebagai pilar utama ekonomi hijau dapat diwujudnyatakan. (Selesai)

*) Ekonom dan Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan (Tulisan ini merupakan pandangan pribadi).

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com