Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Adi Budiarso, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan, BKF, Kementerian Keuangan.

Adi Budiarso, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan, BKF, Kementerian Keuangan.

Mengawal Stabilitas Sektor Keuangan

Senin, 20 Juni 2022 | 14:05 WIB
Adi Budiarso *) dan Risyaf Fahreza **) (redaksi@investor.id)

Indonesia boleh berbangga diri. Pasalnya di tengah hantaman badai pandemi Covid-19, ekonomi Indonesia kembali cepat berdiri. Sejumlah lembaga internasional bahkan mengakui bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang berhasil menangani pandemi dengan sangat baik.

Yang terbaru, Senior Resident Representative IMF untuk Indonesia, James P. Walsh, dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa Indonesia telah berada di jalur yang tepat untuk mencapai pemulihan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.

Pengakuan positif tersebut tentu menjadi pelecut semangat untuk terus mengawal perekonomian Indonesia di tengah masih tingginya risiko global saat ini. Memang, dunia sedang kembali menghadapi situasi yang tidak menentu. Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani Indrawati, dalam sebuah kesempatan bahkan telah mewanti-wanti bahwa dunia saat ini sedang menghadapi triple challenges: inflasi tinggi, suku bunga tinggi, dan risiko pelemahan ekonomi.

Peringatan tersebut harus dibaca serius. Sebab, dalam beberapa pekan terakhir triple challenges yang dimaksud telah mendera sektor keuangan global. Di antara beberapa sentimen yang muncul, salah satu yang paling ditakutkan oleh pelaku pasar adalah kebijakan agresif the Fed, atau bank sentral Amerika Serikat (AS). Di tengah tingginya laju inflasi di AS, pelaku pasar khawatir bahwa the Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan lebih agresif dibanding yang sudah-sudah. Padahal, the Fed telah mengerek suku bunga acuan sebesar 150 bps ke level 1,5-1,75% hanya dalam waktu tiga kali pertemuan bulanan.

Risyaf Fahreza, Analis Kebijakan, BKF, Kementerian Keuangan.
Risyaf Fahreza, Analis Kebijakan, BKF, Kementerian Keuangan.

Selain the Fed, sejumlah bank sentral di negara lain juga mulai menaikkan suku bunga acuan. Contohnya adalah Bank of England. Bank sentral di Inggris tersebut bahkan telah terlebih dahulu menaikkan suku bunga acuan, dari 0% menjadi 1,25% dalam beberapa kali kesempatan. Lagi-lagi alasannya adalah untuk mengendalikan tingginya inflasi. Dengan inflasi global yang tinggi, rezim suku bunga rendah memang ibarat sudah menatap tiang gantung sejarah.

Inflasi memang telah menjadi masalah pelik di sektor keuangan. Saat ini, sejumlah negara telah menghadapi ancaman inflasi tertinggi dalam sejarah. Para pelaku pasar bahkan memperkirakan inflasi masih akan terus melaju. Istilah transitory yang pernah digunakan untuk menggambarkan laju inflasi pada tahun lalu tampaknya sudah tidak relevan lagi. Ditambah lagi dengan adanya trade restriction di sejumlah negara, inflasi diperkirakan masih akan menjadi batu sandungan bagi stabilitas sektor keuangan global.

Gelombang sentimen negatif tersebut tentu perlu diwaspadai. AS sebagai episentrum gelombang, sektor keuangannya telah merasakan tekanan berat. Sebagai contoh di pasar saham, indeks saham S&P 500 di AS telah melemah sebesar 22,9% secara year to date (ytd) per 17 Juni 2022, atau memimpin pelemahan indeks saham global. Bahkan, pada beberapa pekan lalu, indeks saham di AS mengalami pelemahan harian terbesar sejak Juni 2020.

Selain di pasar saham, gelombang pasang juga menyasar sektor keuangan seperti perbankan. Di AS, permintaan kredit perumahan dilaporkan turun ke level terendah dalam 22 tahun terakhir. Pada awal Juni 2022, permohonan aplikasi pembiayaan perumahan turun sebesar 6,5%, sementara untuk refinancing perumahan turun sebesar 5,6%. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya pinjaman ke level tertinggi sejak global financial crisis tahun 2009.

Kabar Baik dari Dalam Negeri

Gelombang pasang yang saat ini mulai dirasakan di AS tidak boleh dianggap sepele mengingat konektivitas sektor keuangan antarnegara yang sangat erat. Namun beruntungnya, Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Di saat sejumlah negara mengalami shock, kondisi sektor keuangan Indonesia relatif masih terjaga dengan sangat stabil.

Di pasar saham, indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga 17 Juni 2022 menguat sebesar 5,4% ytd. Capaian tersebut merupakan yang terbaik di kawasan. Bahkan, IHSG merupakan satu-satunya indeks yang mencatatkan kinerja positif di antara indeks saham utama di kawasan Asia. Penguatan IHSG salah satunya didorong oleh kepercayaan investor terhadap prospek pemulihan ekonomi Indonesia. Hal tersebut diperkuat dengan masuknya aliran dana asing ke pasar saham Indonesia yang telah mencapai sebesar Rp 70,58 triliun.

Dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), kepercayaan investor terhadap surat utang Pemerintah Indonesia juga terus meningkat. Kepercayaan tersebut tercermin dari incoming bids yang tetap solid dan stabil. Dengan dukungan kepercayaan investor, yield SBN mampu terjaga di kisaran 7%. Padahal, yield surat utang di sejumlah negara berkembang melonjak tinggi seiring dengan melonjaknya yield US treasury.

Pun demikian dengan fungsi intermediasi perbankan. Seiring dengan pemulihan ekonomi yang terus menguat, kredit perbankan mampu tumbuh sebesar 9,1% pada bulan April 2022 secara year-on-year (yoy), atau terus menguat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,65% (yoy). Ditinjau dari segmennya, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu kontributor pertumbuhan kredit, dengan mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 16,75% secara yoy. Dari sisi risiko, rasio kredit bermasalah terhadap total kredit juga stabil di kisaran 2,99% pada April 2022.

Indonesia telah belajar dari krisis-krisis yang terjadi sebelumnya, bahwa kebijakan yang sinergis, kredibel, dan terorkestrasi dengan baik akan mampu menjadi game changer untuk keluar dari situasi krisis. Namun demikian, pemerintah tidak boleh lengah.

Meskipun stabilitas sektor keuangan Indonesia relatif masih terjaga dengan baik, upaya untuk memperkuat stabilitas terus dilakukan melalui berbagai reformasi dan bauran kebijakan. Dari sisi fiskal, Kementerian Keuangan terus memperkuat reformasi fiskal, baik di sisi pendapatan, belanja maupun pembiayaan. Reformasi di sisi fiskal juga diimbangi oleh kebijakan moneter yang presisi dalam mendukung percepatan pemulihan ekonomi dan stabilitas sektor keuangan. Tidak hanya itu, lembaga lain seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga telah melakukan pekerjaan yang sinergis dalam mendukung agenda perekonomian nasional.

Sinergi kuat antara empat lembaga tersebut pada akhirnya terbukti menjadi benteng pertahanan yang kokoh dalam menjaga stabilitas sektor keuangan. Indonesia telah belajar dari krisis-krisis yang terjadi sebelumnya, bahwa kebijakan yang sinergis, kredibel, dan terorkestrasi dengan baik akan mampu menjadi game changer untuk keluar dari situasi krisis. Namun demikian, pemerintah tidak boleh lengah. Sebab, kewaspadaan tinggi dan sinergi semua pihak dalam menjaga stabilitas sektor keuangan Indonesia merupakan sebaik-baiknya sikap.

*) Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan, BKF, Kementerian Keuangan.

**) Analis Kebijakan, BKF, Kementerian Keuangan.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN