Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ronald Nangoi, Pemerhati Bisnis Internasional

Ronald Nangoi, Pemerhati Bisnis Internasional

Amerika Serikat di Tengah Persaingan Global (Bagian 1)

Senin, 20 Juni 2022 | 21:02 WIB
Oleh Ronald Nangoi *) (redaksi@investor.id)

Makin maraknya pelaku bisnis dari negara-negara ekonomi baru, khususnya Tiongkok, dapat ditinjau dari perspektif bisnis internasional. Tidak hanya perusahaan Amerika Serikat (AS), perusahaan-perusahaan dari Tiongkok, seperti State Grid, China National Petroleum, dan Sinopec Group, masuk dalam sepuluh bisnis terbesar dalam Global 500 Fortune.

Perusahaan-perusahaan dari Negeri Tirai Bambu telah mengubah posisi 10 perusahaan teratas melalui peningkatan daya saing global.

Kebangkitan Tiongkok dan kekuatan-kekuatan ekonomi baru lainnya menciptakan tantangan bagi ekonomi dan bisnis AS. Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok sebesar US$ 16,8 triliun, berada di urutan kedua setelah PDB AS sebesar US$ 22,9 triliun pada 2021. Meskipun demikian, Tiongkok memiliki paritas daya beli (purchasing power parity/PPP) yang lebih tinggi daripada AS (IMF, 2021).

Yang barangkali mencemaskan AS adalah bahwa Tiongkok telah mengambil-alih posisinya sebagai pengekspor terbesar dunia, sehingga menjadi ancaman di pasar global. Tiongkok juga telah mengembangkan bisnis secara global, terutama di AS. Pada awal 2000-an, Tiongkok memiliki permintaan terkuat untuk aset Amerika antar-investor asing di AS (lihat Gabor Steingart, The War for Wealth, New York: McGrawHill, 2008). Sejumlah perusahaan besar Amerika, seperti American Multi-Cinema (AMC), General Motors (GM), Hilton Hotels, dan General Electric Appliance Division, telah diakuisisi investor Tiongkok (https://www.madeinamerica.com/chinese-investors/). Ekspansi bisnis Tiongkok di negara ini mencerminkan meningkatnya daya saing Tiongkok.

Semua ini dapat menimbulkan keraguan akan daya saing bisnis AS, meski faktanya AS tetap menjadi kekuatan ekonomi penting. Pada tahap tertentu, melemahnya daya saing ekonomi AS makin menciptakan ketegangan hubungan ekonomi dan bisnis AS dengan kekuatan-kekuatan ekonomi lainnya. Daripada memperkuat daya saing bisnis yang sarat akan persaingan yang sehat, AS lebih bersikap protektif. Di samping perang Ukraina-Rusia, berlarut-larutnya ketegangan hubungan ekonomi dikhawatirkan dapat menciptakan deglobalisasi bisnis, mengurangi permintaan barang dan jasa global sekaligus meningkatkan pengangguran.

Ilustrasi
Ilustrasi

Dominasi Ekonomi AS

Masyarakat bisnis global sebenarnya prihatin akan berkurangnya daya saing AS. Selama beberapa dekade setelah Perang Dunia II, AS mendominasi barang dan pasar strategis penting (ponsel, komputer, produk listrik, kapal, dan pesawat) (https://www.csis.org/analysis/us-competitiveness-where-do-we-stand-what-do-we-do-now). Tidak berlebihan pendapat bahwa AS telah menjadi model ekonomi dan bisnis bagi kekuatan-kekuatan ekonomi besar seperti Jepang dan negara-negara industri baru Asia lainnya, termasuk Tiongkok, yang mengadopsi sistem kapitalis AS.

AS telah memberi kontribusi signifikan terhadap meluasnya kebebasan politik dan liberalisasi ekonomi sesuai prinsip demokrasi. Yang pertama adalah dekolonisasi, dan yang kedua adalah globalisasi ekonomi. AS, bersama dengan negara-negara Eropa, mendukung organisasi multilateral seperti World Trade Organization (WTO) dan International Monetary Fund (IMF)/World Bank, dalam mempromosikan cita-cita perdagangan bebas yang diperkenalkan oleh ekonomi klasik.

Menurut mantan Duta Besar Singapura untuk PBB Kinoshe Mahbubani (2005), Amerika berusaha menciptakan tatanan dunia baru berdasarkan aturan hukum dan institusi serta proses multilateral yang memungkinkan negara lain tumbuh dan berkembang.

Pandangannya mencerahkan tentang bagaimana AS telah menunjukkan dukungan politik dan ekonomi terhadap kemerdekaan negara-negara terjajah serta perkembangan ekonomi Jepang dan negara-negara Eropa, terutama setelah Perang Dunia II, dan kemudian Tiongkok dan India.

Sepengetahuan kita, AS berperan penting dalam pembebasan Asia dari penjajahan Eropa dan Jepang karena memiliki nilai-nilai demokrasi yang kuat. Kemudian, negara ini mendorong perkembangan ekonomi masyarakat internasional pada masa pascaperang dengan semangat perdagangan bebas. Oleh karena itu, Mahbubani berargumen bahwa Amerika memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan Tiongkok, India, dan Jepang, yang semuanya merupakan masyarakat Asia terkemuka.

Ketiga negara itu telah membuka dan mengintegrasikan ekonomi ke ekonomi global dengan dukungan AS. Alhasil, negara-negara ini berhasil mengembangkan ekonomi dengan memanfaatkan aktivitas bisnis di seluruh dunia. AS telah mengembangkan bisnis dengan berinvestasi di luar negeri dalam bentuk produksi outsourcing (untuk produksi global) dan Supply Chain Management (SCM).

Karena ekonominya kuat, AS mampu memainkan peran yang begitu signifikan. Negara ini memiliki masyarakat terdidik yang menunjang daya saing industri dan bisnis. Selain teknologi canggih, sistem pendidikan Amerika seharusnya berkontribusi pada tingginya produktivitas angkatan kerja AS. Selain itu, kita tidak dapat mengabaikan kontribusi sekolah-sekolah bisnis AS yang bergengsi dan para profesornya terhadap pengembangan keterampilan bisnis dan manajerial di AS dan di seluruh dunia.

Beberapa model bisnis dan manajemen, seperti International Product Life Cycle (IPLC), teori keunggulan monopolistik, teori internasionalisasi, kapasitas dinamis, teori eklektik produksi internasional, SCM, Six-Sigma, organisasi belajar, dan benchmarking, telah dikembangkan di sektor bisnis oleh para akademisi Amerika. Kita lihat saja SCM yang diterapkan tidak hanya oleh perusahaan-perusahaan besar Amerika, seperti Walmart dan PepsiCo, tetapi juga perusahaan-perusahaan Tiongkok, seperti Alibaba di masa kini

. Model value chain Michael Porter ini mencerminkan cara kerja perusahaan besar AS, dengan aktivitas operasi terintegrasi melalui SCM dalam menghasilkan barang dengan nilai pelanggan.

Selanjutnya berkat undang-undang anti-monopoli, AS mencapai ekonomi yang kuat karena menciptakan distribusi pendapatan yang setara bagi pekerja perusahaan dan konsumen. Undang-undang ini melindungi persaingan serta mencegah monopoli/oligopoli, merangsang perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk atau jasa.

Perspektif kolumnis Ruchir Sharma (2013) sangat masuk akal. Sharma berpandangan bahwa sejak pemberlakuan undang-undang antimonopoli, ekonomi Amerika mengalami pergeseran konstan ranking orang kaya dan berkuasa, termasuk orang dan perusahaan, daripada berkuasanya para “perampok baron“ sebagaimana dialami sebelum tahun 1920an.

Ketika pangsa AS dalam ekonomi dunia menurun, maka neraca perdagangan tetap negatif, daya beli akan berkurang, dan kemampuan inovasinya akan tertinggal dari para pesaing di Asia.

Menghadapi Persaingan Global

Ekonomi Asia telah bertumbuh di era liberalisasi perdagangan, yang diawali dengan ekspansi ekonomi Jepang pada 1970-an dan berlanjut dengan kebangkitan negara-negara industri baru (NIB) Asia dan juga kekuatan-kekuatan ekonomi baru. Jika AS adalah pengekspor dan pemberi pinjaman terbesar di dunia pada waktu sebelumnya, maka negara-negara Asia, Amerika Latin, dan Eropa di masa selanjutnya berkontribusi pada kegiatan produksi Amerika Utara. Eksportir terbesar telah berubah menjadi importir terbesar di dunia (lihat Gabor Steingart, The War for Wealth, New York: McGrawHill, 2008).

Akibatnya, menurut Gabor Steingart, AS akan terus tertinggal dalam persaingan internasional. Ketika pangsa AS dalam ekonomi dunia menurun, maka neraca perdagangan tetap negatif, daya beli akan berkurang, dan kemampuan inovasinya akan tertinggal dari para pesaing di Asia.

Tidak berlebihan pendapat bahwa bisnis dan manajemen AS telah mendorong globalisasi bisnis. Kegiatan lintas batas menjadi lazim akibat globalisasi bisnis, yang telah memungkinkan tidak hanya pertukaran barang dan faktor tetapi juga alih teknologi, manajemen, ide, dan informasi. Dengan mengadopsi praktik bisnis dan manajemen dari AS dan negara-negara Barat, Jepang, Tiongkok, dan negara-negara lain yang berkembang pesat telah mendapat manfaat dari globalisasi bisnis. Mestinya perkembangan ini cukup ‘fair’ karena AS menuai banyak keuntungan dari kegiatan investasi asing di seluruh dunia.

Kita bisa mendapat gambaran evolusi perdagangan internasional AS dengan menggunakan teori IPLC Raymond Vernon. Teori ini diperkenalkan pada saat AS menjadi kekuatan dominan di panggung dunia. Menurut hemat saya, IPLC berguna untuk menjelaskan bisnis AS dan penurunan perdagangan.

Untuk mempertahankan pasar ekspor, perusahaan-perusahaan AS beranjak ke tahap produksi internasional melalui investasi asing langsung ke pasar tersebut. Perusahaan-perusahaan dapat memotong biaya transportasi dan komunikasi, namun menarik masuknya pesaing-pesaing asing, yang berdampak pada meningkatkan persaingan asing di pasar ekspor AS. Akibatnya, penjualan ekspor Amerika terus turun. Produsen asing kemudian memasuki pasar AS, bersaing dengan perusahaan Amerika di pasar Amerika (Don Ball et al, International Business: The Challenge of Global Competition, Hampshire: McGraw-Hill, 2012). Fakta bahwa AS mengalami defisit perdagangan dengan Tiongkok dapat disebabkan oleh persaingan impor di AS yang kiranya berada pada tahap akhir dari IPLC. Daya saing AS menurun? (Bersambung ke Bagian 2)

*) Pemerhati Bisnis Internasional

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN