Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

(Bagian-1)

Mengapa Perekonomian Amerika Serikat Tidak Dikategorikan Resesi?

Selasa, 2 Agustus 2022 | 22:00 WIB
Ryan Kiryanto *) (redaksi@investor.id)

Pada Investor Daily edisi 19 Juli 2022 penulis sudah mengekspos analisis terkait anomali perekonomian Amerika Serikat (AS), ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang cenderung melandai dibarengi dengan inflasi yang melonjak tajam (mencapai 9,1% di Juni 2022). Itulah yang disebut dengan stagflasi.

Kini, apa yang menjadi kegalauan penulis menjadi kenyataan. Departemen Perdagangan AS melaporkan produk domestik bruto (PDB) AS mengalami kontraksi tahunan sebesar 0,9% pada kuartal II-2022. Penurunan kedua kalinya secara berturut-turut ini membuat Negeri Paman Sam --julukan AS-- secara teknis mengalami resesi.

Advertisement

Namun demikian, Biro Riset Ekonomi Nasional AS mendefinisikan resesi “sebagai penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi AS, yang menyangkut aktivitas seluruh perekonomian selama lebih dari beberapa bulan” (Reuters, 28/7/2022). Maksudnya, laporan PDB AS itu menunjukkan penurunan kinerja ekonomi yang dipicu adanya lonjakan inflasi yang tinggi, melemahnya sentimen konsumen, dan volatilitas rantai pasokan.

Maka, tidak salah jika banyak analis dan ekonom menilai secara teknis AS masuk ke jurang resesi setelah mencetak pertumbuhan ekonomi tahunan negatif alias kontraksi sebesar 1,6% pada kuartal I/2022. Diterangkan secara umum bahwa resesi ditandai dengan kontraksi dalam PDB secara tahunan (year on year/yoy) dalam dua kuartal berturut-turut.

Itulah yang memancing pernyataan sekaligus pertanyaan: perekonomian AS “secara teknis” berada dalam resesi, apa selanjutnya? (Prevedere, 29/7/2022). Maka, diingatkan kepada para pemimpin bisnis bahwa akan ada perubahan arah gerak kebijakan moneter AS di sisa tahun ini. Untuk itu para pebisnis diharapkan aktif memantau perkembangan indikator ekonomi utama paling dekat untuk sisa 2022 sebagai titik pijak untuk menetapkan kebijakan bisnis.

Ilustrasi
Ilustrasi

Menolak Klaim Resesi Ekonomi

Kontraksi ekonomi AS pada kuartal II-2022 seolah menegaskan pengambilan keputusan The Fed, bank sentral AS, melalui Komite Pertemuan Pasar Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) menaikkan suku bunga acuan (Fed fund rate/FFR) sebesar 75 basis points (bps) pada pertemuan 26 dan 27 Juli lalu.

Kesemua 12 anggota Komite yang memberikan suara mendukung keputusan untuk menaikkan suku bunga sebesar 75 bps. Dengan demikian FOMC telah menaikkan FFR sebesar 225 bps sejak Maret, laju pengetatan yang belum pernah dialami selama lebih dari 40 tahun. Komite kembali menunjuk pada fakta bahwa “inflasi tetap tinggi”. Memang, tingkat inflasi indeks harga konsumen (IHK) secara tahunan naik dari 8,6% pada Mei menjadi 9,1% pada Juni, yang lebih tinggi dari yang diperkirakan sebagian besar pelaku pasar dan sebagian besar anggota FOMC.

Bagi sebagian besar anggota FOMC yang 12 orang, inflasi tetap menjadi yang terdepan di benak mereka. Komite sangat berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ke level target 2%. Tetapi FOMC juga membuat referensi ke data terbaru yang menunjukkan bahwa laju aktivitas ekonomi telah menurun.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pengetatan yang lebih besar kemungkinan akan disesuaikan, tergantung pada data yang masuk. Data pasar tenaga kerja yang kuat dan/atau data inflasi yang berlanjut kemungkinan akan mendorong Komite untuk menaikkan FFR sebesar 75 bps lagi pada September. Sebaliknya, data pasar tenaga kerja yang lemah dan/atau inflasi yang lebih rendah kemungkinan akan menghasilkan kenaikan FFR yang lebih rendah.

Yang pasti, FOMC menurunkan penilaiannya terhadap keadaan kegiatan ekonomi saat ini. Setelah pertemuan FOMC Juni, Komite mencatat aktivitas ekonomi secara keseluruhan tampaknya telah meningkat. Tetapi pernyataan terkini dimulai dengan kalimat berikut yang kurang menggairahkan: “Indikator pengeluaran dan produksi baru-baru ini telah melemah.”

Dalam hal itu, indeks layanan ISM (The Institute of Supply Management), yang mengukur laju aktivitas di sektor jasa, telah bergerak lebih rendah dalam beberapa bulan terakhir, meskipun tetap di atas garis yang memisahkan ekspansi dari kontraksi. Indeks yang sebanding untuk sektor manufaktur juga bergerak lebih rendah pada Juni.

Jadi, meskipun FOMC memproyeksikan PDB riil meningkat lebih tinggi pada kuartal kedua, namun cetakan negatif sepenuhnya tetap ada. Jika demikian, PDB riil akan mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut, meskipun seperti yang telah dibahas secara lebih rinci dalam laporan baru-baru ini, hasil itu tidak selalu berarti bahwa ekonomi saat ini sedang dalam resesi.

Apapun dasar pertimbangan keputusan bulat The Fed menaikkan FFR secara agresif sejak Maret 2022 lalu menguatkan pandangan bahwa langkah agresif memang harus diambil untuk menjinakkan inflasi yang menyentuh level 9,1% dan berpeluang menembus double digit. The Fed melihat bahwa sulit menggunakan kebijakan lain kecuali hanya melalui pengetatan kebijakan moneter dengan segala konsekuensinya.

Dengan demikian, The Fed dan pemerintah AS sadar penuh dengan segala konsekuensi penaikan FFR secara agresif tersebut, yakni mengendurnya perekonomian secara ekstrim setelah mampu melejit di sepanjang 2021 lalu. Perekonomian AS menunjukkan pemulihan yang impresif pada tahun 2021, di mana rilis kedua PDB kuartal IV-2021 direvisi naik menjadi 7% dari rilis awal 6,9%. Dengan revisi tersebut, sepanjang 2021 PDB AS tercatat melesat 5,7% yoy, menjadi yang tertinggi sejak 1984.

Itulah sebabnya Menteri Keuangan AS, Janet Yellen menolak dikatakan secara teknis ekonomi AS masuk zona resesi. Menurut Yellen, terkontraksinya ekonomi AS itu merupakan tanda perlambatan yang tak terelakkan. Dia optimistis, ekonomi AS masih memiliki kekuatan yang luas, terutama dalam data tenaga kerja. Hal inipun sudah diekspos oleh media ini (Investor Daily, 29 Juli 2022).

Yellen sebetulnya tidak mengesampingkan kemungkinan resesi. Hal itu karena The Fed dan Pemerintahan Joe Biden tengah berusaha keras untuk menurunkan inflasi dari level tertinggi 40 tahun terakhir, yakni 9,1%. Inilah yang mendasari pemikiran Yellen yang menolak untuk mengakui ekonomi AS sedang dalam keadaan resesi, di mana kebanyakan orang AS mendefinisikan resesi serupa dengan yang telah terjadi di masa lalu: kehilangan pekerjaan yang substansial dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, bisnis tutup, kegiatan sektor swasta sangat melambat, anggaran keluarga di bawah tekanan besar. Bagi Yellen, semua itu bukan yang dilihat sekarang.

Perhatian utama Pemerintahan AS saat ini tertuju pada inflasi dan kenaikan biaya. Sementara kontraksi PDB di kuartal II-2022 sebagian besar disebabkan oleh perubahan persediaan barang swasta yang bergejolak dan hambatan dari pengeluaran pemerintah yang lebih rendah. Namun, data pertumbuhan belanja konsumen, terutama pada layanan, cukup menggembirakan. Laporan ini menunjukkan ekonomi AS sedang bertransisi menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pangsa Asia terhadap total utang global telah meningkat dari sebesar 25% sebelum krisis keuangan global menjadi sebesar 38% pascapandemi, yang berdampak pada meningkatnya kerentanan kawasan Asia terhadap perubahan lanskap keuangan global.

AS Tidak Sendirian

Sebenarnya perlambatan atau pelemahan ekonomi tidak hanya dialami oleh AS. Dalam IMF New Blog: Asia’s Economies Face Weakening Growth, Rising Inflation Pressures (29/7/2022) disebutkan bahwa ekonomi Asia menghadapi pelemahan pertumbuhan dan meningkatnya tekanan inflasi.

Menurut blog Dana Moneter Internasional (IMF), prospek ekonomi global telah menjadi gelap, dan pertumbuhan di seluruh Asia dan Pasifik siap untuk melambat lebih jauh di tengah dampak berkelanjutan dari invasi Rusia ke Ukraina dan guncangan lainnya. Pertumbuhan ekonomi di Asia dan Pasifik diproyeksikan melambat menjadi 4,2% tahun ini, atau 0,7% lebih rendah dari yang diperkirakan pada April dan lebih lambat dari pertumbuhan 6,5% pada 2021. IMF menurunkan perkiraan 2023 menjadi 4,6%, atau turun 0,5% dari perkiraan sebelumnya.

Risiko yang IMF soroti dalam perkiraan April lalu —termasuk pengetatan kondisi keuangan yang terkait dengan kenaikan suku bunga bank sentral di AS dan harga komoditas yang melonjak karena perang di Ukraina— terwujud. Hal itu pada gilirannya memperparah limpahan pertumbuhan regional dari perlambatan ekonomi Tiongkok.

Negara ekonomi terbesar kedua di dunia dan terbesar pertama di Asia ini mengalami perlambatan signifikan pada kuartal kedua karena kebijakan nol-Covid-19 (Zero Covid-19 policy) mendorong penguncian untuk kota-kota besar dan pusat-pusat rantai pasokan. Oleh karena itu, perkiraan pertumbuhan setahun penuh untuk Tiongkok diturunkan menjadi 3,3% dari perkiraan April yang sebesar 4,4%. Untuk 2023, perekonomian Tiongkok diperkirakan tumbuh 4,5%, atau turun 0,6% dari perkiraan April lalu.

Penyesuaian ekonomi Tiongkok tentu saja akan berdampak pada mitra dagang regionalnya seperti Jepang dan Korea Selatan, dua negara ekonomi regional terbesar yang terintegrasi erat dengan rantai pasokan global dan Tiongkok. Dampak itu akan terlihat pada pertumbuhan ekonomi yang melambat karena permintaan eksternal lebih lemah dan gangguan pada rantai pasokan.

Namun terlepas dari perlambatan ekonomi Tiongkok, tanda-tanda pemulihan dalam aktivitas ekonomi di negara-negara Asia lainnya telah muncul karena beberapa pembatasan pandemi pada mobilitas sekarang ini secara bertahap dilonggarkan. Sebagai contoh, ketahanan sektor manufaktur dan pulihnya sektor pariwisata mendukung pemulihan bertahap di Malaysia, Thailand, dan negara-negara kepulauan Pasifik.

Perbaikan ekonomi di negara-negara Asia itu setidaknya mampu mengompensasi arus keluar modal asing karena terdampak kenaikan suku bunga acuan di negara-negara maju di Eropa dan AS. Yang menjadi concern saat ini adalah pangsa Asia terhadap total utang global telah meningkat dari sebesar 25% sebelum krisis keuangan global menjadi sebesar 38% pascapandemi, yang berdampak pada meningkatnya kerentanan kawasan Asia terhadap perubahan lanskap keuangan global.

Sri Lanka adalah contoh kasus ekstrim, di mana kenaikan utangnya menjadi sedemikian luar biasa sehingga aktivitas ekonominya kehilangan akses ke pasar modal global, yang menyebabkan gagal bayar kewajiban eksternalnya.

IMF juga memperingatkan perlunya diwaspadai meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan dan memburuknya rantai pasokan. Kenapa? (Bersambung ke tulisan bagian kedua).

Link Tulisan Bagian-2: Mengapa Perekonomian Amerika Serikat Tidak Dikategorikan Resesi?

*) Ekonom, Co-Founder dan Dewan Pakar Institute of Social, Economics and Digital/ISED.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN