Menu
Sign in
@ Contact
Search
Tri Winarno

Tri Winarno

Krisis Energi akan Semakin Dalam

Selasa, 9 Agustus 2022 | 00:07 WIB
Tri Winarno *) (redaksi@investor.id)

Akankah krisis energi yang sedang berlangsung ini akan sama dengan krisis energi karena adanya guncangan harga minyak dunia tahun 1970?

Pertanyaan itu sekarang menjadi sangat relevan, mengingat saat ini konsumen sangat terpukul dengan tingginya harga BBM, pelaku bisnis was-was dengan pasokan minyak dunia, pemangku kebijakan di bank sentral mengalami kesulitan mengendalikan inflasi dan menjinakkan nilai tukar, otoritas fiskal tak berdaya memikul beban utang yang semakin menggunung, dan negara-negara berkembang mengalami tekanan neraca pembayaran yang semakin hari semakin bikin khawatir.

Jawabannya adalah benar bahwa saat ini kita sedang menghadapi krisis energi sama dengan krisis minyak tahun 1970-an, bahkan semakin hari krisis energi ini akan semakin dalam. Pada 1970 kita hanya mengalami krisis minyak, sekarang ini krisis meliputi gas alam, batu bara, dan bahkan energi yang dihasilkan oleh tenaga nuklir.

Sehingga krisis energi ini menjadi semakin menambah laju inflasi yang sulit dikendalikan, menjadi pemicu kepanikan pasar uang dan komoditas, serta menjadi potensi pemicu stagflasi global. Bersama-sama dengan krisis geopolitik yang timbul dari perang Rusia-Ukraina, krisis energi ini akan semakin mempertajam perseteruan antara blok Barat dan blok Rusia-Tiongkok.

Krisis energi saat ini tidak dimulai dengan adanya invasi Rusia ke Ukraina, tetapi terjadi sejak tahun lalu ketika permintaan energi dunia mengalami lonjakan karena berakhirnya pandemi Covid-19.

Diawali dengan penurunan pasokan batu bara di Tiongkok, sehingga harga batu bara mengalami peningkatan drastis. Kemudian pasar LNG global mengalami pengetatan sehinga harga gas dunia meroket yang disertai dengan lonjakan harga minyak dunia yang tak terkendali.

Normalnya, dengan adanya kenaikan harga energi, negara seperti Rusia akan menambah pasokan gas alam ke pelanggan utama mereka, seperti Eni Eropa di atas volume kontrak yang telah disetujui. Namun sekarang Rusia hanya memenuhi pasokan sesuai dengan kontraknya walaupun sebenarnya Rusia dapat menambah pasokan sesuai dengan permintaan pasar. Kenapa? Saat ini tampaknya Rusia sengaja menekan harga energi supaya naik ke level yang mencekik. Sesuatu yang memperlihatkan bahwa Rusia sudah lama mempersiapkan perang terhadap Ukraina.

Sebab kebutuhan energi Uni Eropa tergantung pada pasokan Rusia, yaitu sekitar 35-40% dipasok oleh Rusia. Presiden Rusia Vladimir Putin berasumsi bahwa Eropa akan memprotes invasinya ke Ukraina tetapi pada akhirnya Uni Eropa tidak akan berdaya dan akan membiarkan Ukraina tenggelam dicaplok Rusia.

Ilustrasi
Ilustrasi

Ke depan, lima faktor yang menyebabkan krisis energi global akan semakin memburuk dibandingkan krisis minyak tahun 1970-an.

Pertama, Putin telah membuka front kedua di dalam koflik dengan Ukraina dengan cara memangkas kontrak gas alam ke Uni Eropa. Dan baru-baru ini dengan alasan teknis, Rusia telah memangkas pasokan gas alamnya ke Eropa sebesar 20% dari kontrak awal. Tujuan Putin adalah mencegah Eropa menimbun gas alam untuk kebutuhan musim dingin mendatang, sehingga harga energi akan semakin tinggi yang berakibat pada memburuknya ekonomi global dan guncangan politik dunia.

Dalam pidatonya pada bulan Juni di St. Petersburg International Economic Forum, Putin menegaskan bahwa Uni Eropa harus membayar mahal atas dukungan mereka terhadap Ukraina dalam NATO. Ketika masalah sosial dan ekonomi memperburuk situasi di Uni Eropa, maka masarakatnya akan terpecah menjadi dua kubu. Sehingga akan terjadi perubahan elite kepemimpinan di Eropa yang lebih populis dalam waktu yang tidak akan terlalu lama.

Akibatnya sekarang, Jerman sedang mengantisipasi penjatahan gas untuk warganegaranya. Menko Ekonomi Jerman, Robert Habeck, memperingatkan bahwa Eropa akan menghadapi “Lehman-style contagion” (mengacu pada krisis finansial 2008) kalau Eropa tidak mampu mengelola guncangan ekonomi yang akan datang akibat dari krisis energi ini.

Kedua, kesepakatan damai terbaru dan menghidupkan kesepakatan 2015 dengan Iran tentang masalah nuklir Iran akan sulit terwujud. Sehingga sanksi penjualan migas Iran tidak akan dicabut oleh Barat, sehingga migas Iran tidak akan menambah pasokan migas dunia dalam waktu segera.

Ketiga, Saudi Arabia (termasuk Uni Emirate Arab) tidak akan mampu lagi menambah pasokan minyaknya walaupun kunjungan Presiden AS Joe Biden kemarin berusaha untuk membujuk mereka menambahkan produksi dalam waktu cepat. Negara pengekspor minyak yang lain juga tidak akan mampu memompa minyaknya melebihi kapasitasnya sekarang karena masalah investasi dan perawatan sejak pandemi.

Keempat, permintaan minyak Tiongkok mengalami penurunan yang signifikan karena adanya kebijakan “zero-Covid” lockdowns, yang telah memangkas aktivitas ekonomi Negeri Tirai Bambu selama ini. Akan tetapi begitu kebijakan lokcdowns Tiongkok tersebut dicabut, maka ekonomi Tiongkok akan menggeliat lagi, sehingga akan terjadi peningkatan konsumsi dan demand minyak global yang signifikan.

Terakhir, kita selama ini mengamati adanya permasalahan di pasokan minyak mentah yang serius, bahkan permasalahan di pengolahan minyak menjadi BBM akan lebih komplek lagi. Permasalahan sektor pengolahan minyak mentah menjadi bensin, diesel, solar dan avtur menjadi masalah yang akan memperburuk krisis migas saat ini. Sebab, sistem dalam sektor pengolahan BBM ini mengalami interkoneksi yang tinggi. Misalnya, Rusia mengirim BBM ke Eropa, sedangkan Eropa mengekspor gasoline ke pantai timur AS dan seterusnya.

Belum lagi masalah kapasitas maksimal produksi BBM di AS yang sudah mencapai 95%. Sehingga sistem produksi BBM tidak akan mampu mengimbangi permintaan BBM global. Misalnya, pengolahan BBM di Rusia hanya bisa berjalan jauh di bawah kapasitas produksi, sehingga menyebabkan kelangkaan beberapa produk BBM di Eropa; dan akibatnya pasokan bensin tidak cukup mencapai Amerika Utara. Produksi BBM di Tiongkok juga hanya mampu memproduksi 70% dari kapasitas produksinya.

Secara global, akibat pandemi dan adanya aturan baru serta permasalahan ekonomi yang telah terjadi, pengurangan produksi BBM diperkirakan sebesar 4 juta barrel per hari. Maka jika ditambahkan dengan adanya risiko kecelakaan, putusan kebijakan yang buruk dan bencana alam yang akan menimpa pengolahan BBM, situasi produksi BBM yang akan datang akan semakin memburuk.

Namun demikian masih terdapat secercah harapan, karena beberapa negara masih dapat meningkatkan produksi minyaknya. Kanada, yang merupakan produsen minyak terbesar keempat setelah AS, Saudai Arabia, dan Rusia, dapat menambah produksinya walaupun sangat terbatas. Produksi minyak Shale AS juga dapat ditambah hingga 800 ribu sampai dengan satu juta barrel per hari.

Faktor lain yang dapat memitigasi krisis energi adalah perubahan harga dan respons konsumen terhadap perubahan harga. Pada bulan Mei 2022, permintan bensin AS kurang 7% dari Mei 2019, saat sebelum pandemi. Diperkirakan karena adanya kerja dari rumah maka kebutuhan bensin di AS dapat berkurang signifikan.

Bagi negara yang 70% konsumsi BBM-nya berasal dari impor, maka perjalanan ekonominya ke depan akan mengalami tekanan yang serius dari berbagai front. Negara tersebut akan semakin menghadapi defisit neraca transaksi berjalan, defisit neraca keuangan, defisit neraca pembayaran, dan pembengkakan defisit fiskal.

Pelambatan ekonomi global tentu akan mengerem laju kenaikan harga energi. Berdasarkan asesmen S&P global purchasing managers’ index, telah terjadi pelambatan ekonomi global, dengan aktivitas manufaktur di AS mengalami penurunan signifikan yang mirip dengan kondisi pada waktu pandemi dan krisis keuangan global tahun 2008. Begitu juga dengan kondisi di Uni Eropa yang mengalami pelambatan aktivitas manufaktur terendah selama 16 bulan terakhir ini.

Penurunan ekonomi tersebut akan berdampak pada penurunan permintaan dan harga energi. Tetapi kondisi tersebut akan menguji kesatuan Eropa dan akan memunculkan pemimpin baru yang lebih populis di negara Barat.

Enam bulan ke depan akan sangat kritis bagi dunia, terutama bagi negara-negara yang mengalami empat musim: mampukah mereka melewati musim dingin ke depan tanpa penderitaan yang berarti?

Dan, menurut Menteri Energi Jerman, Robert Habeck, negara-negara Barat akan membuat keputusan yang pahit dan harus, yaitu mereka akan membakar batu bara lebih banyak lagi untuk kebutuhan energinya. Dalam waktu mendatang yang semakin sulit, harus terdapat kerja sama yang transparan antara industri dan pemerintah dalam mengelola kebutuhan energi.

Bagi negara yang 70% konsumsi BBM-nya berasal dari impor, maka perjalanan ekonominya ke depan akan mengalami tekanan yang serius dari berbagai front. Negara tersebut akan semakin menghadapi defisit neraca transaksi berjalan, defisit neraca keuangan, defisit neraca pembayaran, dan pembengkakan defisit fiskal. Kisah nilai tukarnya akan selalu diwarnai dengan tema depresiasi atau bahkan devaluasi. Karena itu, perjalanan ekonomi ke depan akan semakin berat. Kalau pengelolaan ekonomi tidak bijak dan cermat, risiko lain seperti sosial, politik dan keamanan akan semakin mendidih.

*) Pengamat Kebijakan Ekonomi.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com