Menu
Sign in
@ Contact
Search
Adi Budiarso, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan, BKF, Kementerian Keuangan.

Adi Budiarso, Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan, BKF, Kementerian Keuangan.

Optimisme dan Tantangan Perekonomian

Selasa, 9 Agustus 2022 | 12:00 WIB
Adi Budiarso *) dan Risyaf Fahreza **) (redaksi@investor.id)

Keraguan dapat dengan mudah menyebar luas. Seperti yang pernah John Maynard Keynes katakan, “Once doubt begins it spreads rapidly.” Bukan tanpa alasan Keynes mengatakan hal tersebut. Sebab sebuah kata acapkali menghadirkan imaji, pun membentuk ekspektasi. Ketika disampaikan berulang-ulang, ia dapat saja berubah menjadi sebuah realita.

Kali ini sejarah berulang, di mana resesi kembali menjadi kata yang mulai sering didengungkan, setidaknya dalam berbagai artikel ekonomi. Pasalnya, risiko perekonomian global sedang meningkat dengan adanya tekanan inflasi yang bersumber dari harga energi dan pangan, termasuk akibat dari perang di Ukraina.

Risyaf Fahreza, Analis Kebijakan, BKF, Kementerian Keuangan.
Risyaf Fahreza, Analis Kebijakan, BKF, Kementerian Keuangan.

Kenaikan laju inflasi awalnya dianggap oleh The Fed bersifat sementara atau transitory. Namun, lambat laun kata “transitory” mirip dengan petilasan tua yang mulai ditinggalkan seiring dengan menanjaknya inflasi dari waktu ke waktu. Tingginya inflasi berdampak pada penurunan daya beli masyarakat. Ketika daya beli masyarakat menurun, tingkat konsumsi juga akan turut melemah sehingga akan berdampak pada pelemahan aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut juga diperparah dengan adanya pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris, yang berpotensi menaikkan cost of fund. Wajar apabila negera-negara yang sedang mengalami laju inflasi yang tinggi dihadapkan pada kekhawatiran terjadinya resesi.

Di berbagai belahan dunia, inflasi bahkan dianggap mulai tak terkendali. Contohnya adalah Turki. Inflasi bulan Juni tercatat sebesar 78,6% year-on-year (yoy). Di negara Latin Amerika, Venezuela menjadi negara dengan tingkat inflasi tertinggi, yaitu sebesar 167,2% yoy. Bahkan di negara maju, inflasi juga telah menjadi masalah tersendiri. AS menjadi salah satu negara maju dengan tingkat inflasi tertinggi, yaitu sebesar 9,1% yoy, atau rekor inflasi dalam 40 tahun terakhir. Demikian halnya inflasi di Kawasan Eropa pada bulan Juni 2022 telah mencetak rekor baru, yaitu sebesar 8,6% yoy. Di Jerman bulan lalu inflasi tercatat sebagai yang tertinggi sejak era reunifikasi, yaitu sebesar 7,9% yoy.

Di kawasan Asia, Korea Selatan mencatat laju inflasi sebesar 6% yoy, atau yang tertinggi hampir dalam 25 tahun terakhir. Sementara itu, Sri Lanka --yang sedang ramai diberitakan karena mengalami krisis--, laju inflasinya adalah sebesar 54,6% yoy pada bulan Juni 2022. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Sri Lanka pada triwulan I-2022 terkontraksi sebesar 1,6%, dan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) Sri Lanka mencapai lebih dari 100%. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Inflasi di Indonesia masih sangat terkendali di level 4,35%, dengan pertumbuhan ekonomi di level 5,01% pada triwulan I-2022. Dari sisi fiskal pun Indonesia jauh lebih solid, rasio utang Indonesia terjaga di level 40%. Bahkan, melalui upaya konsolidasi fiskal, Pemerintah akan terus menjaga rasio utang di level yang lebih rendah.

Ditilik dari penyebabnya, tingginya inflasi terjadi karena shortage pasokan di tengah meningkatnya permintaan, terutama pada komoditas energi dan pangan. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah berlarutnya konflik antara Rusia dan Ukraina. Hal ini menyebabkan prospek pasokan ke depan diperkirakan juga masih akan ketat. Bahkan, sejumlah analis mulai memperingatkan adanya potensi krisis energi dan pangan global. Hal tersebut turut memengaruhi ekspektasi negatif perekonomian global ke depan.

Direktur Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, menegaskan bahwa memang “ekonomi dunia saat ini tidaklah secerah langit di Bali” saat FMCBG G20 meeting minggu lalu, yang menegaskan bahwa IMF harus menurunkan kembali forecast pertumbuhan ekonomi global.

Ekspektasi suram terhadap perekonomian bahkan mulai meluas di AS. Dampaknya, investor mulai berburu obligasi tenor panjang dan melepas obligasi tenor pendek sehingga memunculkan kembali fenomena inverted yield curve. Fenomena ini merupakan suatu kondisi di mana imbal hasil US treasury bond tenor panjang lebih rendah dibandingkan dengan tenor jangka pendek. Ibarat ilmu titen --atau kepekaan yang muncul dari ingatan akan sebuah peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya--, fenomena ini seringkali diyakini sebagai tanda akan datangnya resesi di AS. Fenomena tersebut muncul di berbagai kalender krisis, seperti misalnya krisis tahun 1970-an dan 2008.

Ilustrasi
Ilustrasi

Dengan situasi yang berkembang tersebut, beberapa negara di dunia diprediksi akan kembali jatuh pada jurang resesi. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah krisis utang di Sri Lanka dapat saja berimbas kepada Indonesia?

Dalam sebuah survey yang dirilis oleh Bloomberg beberapa hari lalu, peluang Indonesia masuk ke jurang resesi hanya sebesar 3%. Probability tersebut jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan sejumlah negara lain, seperti AS (38%), Korea Selatan (25%), dan Tiongkok (20%). Bahkan dibandingkan dengan negara di Kawasan Asean, Indonesia masih lebih baik. Malaysia, Vietnam, dan Thailand memiliki peluang masuk ke resesi lebih besar, yaitu masing-masing sebesar 13%, 10%, dan 10%.

Optimisme bersama harus dijaga, namun dengan tetap waspada. Sikap optimistis akan membawa perekonomian Indonesia keluar dari bayang-bayang krisis. Sebaliknya, keraguan akan menjadi sandungan bagi jalur pemulihan ekonomi nasional dan benalu bagi upaya Presidensi G20 Indonesia untuk terus menggelorakan semangat “recover together dan recover stronger” secara multilateral.

Kuatnya Fundamental Domestik

Bukan tanpa sebab mengapa probability Indonesia masuk ke resesi sangat kecil. Ditinjau dari fundamental ekonomi, perekonomian Indonesia terpantau sangat risilien. Lembaga internasional seperti World Bank dan IMF bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 masing-masing adalah sebesar 5,1% dan 5,3%, atau lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi mayoritas negara berkembang.

Dari kesiapan menghadapi tekanan eksternal, cadangan devisa Indonesia berada pada level US$ 136,4 miliar, atau cukup mumpuni untuk membiayai 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, sekaligus memberikan tenaga tambahan bagi stabilitas nilai tukar. Selanjutnya, sektor riil juga terus menunjukkan tren positif. Ekspor bulan Juni mencapai US$ 26,1 miliar atau tumbuh signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 21,5 miliar. Dari sisi impor, terjadi kenaikan impor bahan baku atau penolong sebesar 30,96% dan barang modal sebesar 19,7% di bulan Juni. Artinya, mesin produksi di dalam negeri masih terus bergerak cukup kencang.

Dari sektor keuangan, yield surat utang Pemerintah relatif stabil dibandingkan dengan negara emerging markets lainnya yang mengalami lonjakan yield. Demikian pula dengan minat investor terhadap surat utang Pemerintah Indonesia yang relatif baik, yang tercermin dari masih solidnya incoming bids. Selanjutnya, stabilitas sistem keuangan juga dalam kondisi baik, dengan profil risiko yang terkendali. Kuatnya fundamental ekonomi didukung oleh policy mix yang mampu memberikan rasa aman pada perekonomian, baik dari sisi fiskal, moneter, maupun reformasi fundamental di sektor keuangan yang sedang terus diupayakan.

Dengan catatan positif tersebut, tak ada alasan bagi kita untuk tidak optimis. Optimisme bersama harus dijaga, namun dengan tetap waspada. Sikap optimistis akan membawa perekonomian Indonesia keluar dari bayang-bayang krisis. Sebaliknya, keraguan akan menjadi sandungan bagi jalur pemulihan ekonomi nasional dan benalu bagi upaya Presidensi G20 Indonesia untuk terus menggelorakan semangat “recover together dan recover stronger” secara multilateral.

*) Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan.

**) Analis Kebijakan, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com