Menu
Sign in
@ Contact
Search
Tri Winarno

Tri Winarno

The Fed Semakin Agresif

Rabu, 21 September 2022 | 09:00 WIB
Tri Winarno *) (redaksi@investor.id)

Pada pertemuan tahunan Jackson Hole Symposium baru-baru ini, yang merupakan acara tahunan paling bergengsi para gubernur bank sentral dunia, Gubernur US Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell menyampaikan pesan kuat yang tidak biasa tentang bagaimana the Fed berencana memerangi inflasi tinggi yang dialami Amerika Serikat (AS) saat ini.

The Fed telah meningkatkan suku bunga acuannya (Federal Funds Rate/FFR) sangat tajam, sebesar 75 basis points, pada bulan Juni dan Juli. Tetapi pernyataan Powell sangat jelas bahwa kenaikan tingkat bunga acuan tersebut tidak akan berhenti sampai di situ atau bahkan tidak akan lebih kecil dari itu.

Bahkan sebaliknya, dia menyampaikan bahwa kenaikan tingkat suku bunga acuan the Fed akan semakin besar dan semakin ‘brutal’ dalam waktu-waktu yang tak terlalu lama ke depan. Karena, walaupun kenaikan tingkat bunga acuan the Fed berdampak pada penderitaan masyarakat dan usaha di AS, tetapi kegagalan memulihkan stabilitas harga yang menjadi mandate utama bank sentral akan menjadi lebih perih bagi masyarakat dan pelaku bisnis warga AS.

Pernyataan Powel tersebut mengakibatkan Indeks S&P 500 terjungkal sampai dengan 3,4%, bahkan dengan semua sektor mengalami penurunan. Banyak pelaku bisnis ketakutan, karena kalau the Fed menaikkan tingkat bunga acuannya lebih besar lagi, maka investasi akan menurun drastis dan pengangguran dipastikan akan meningkat, tidak hanya bagi ekonomi AS tetapi juga akan terjadi di seluruh belahan bumi.

Besar kemungkinannya bahwa kebijakan pengetatan moneter yang agresif akan menyebabkan ekonomi, pasar uang, dan kesejahteraan masyarakat akan sangat menderita. Seperti antibiotik, apabila diberikan berlebihan memang akan menyembuhkan infeksinya, tetapi memiliki dampak sampingan pada organ tubuh yang lain jadi remuk. Begitu pula dengan kebijakan moneter yang sangat ketat, seperti pemberian antibiotik yang overdosis.

Sebenarnya ada analisis yang kurang pas terhadap penyebab inflasi di AS yang saat ini diyakini oleh the Fed, yaitu tentang salah persepsi the Fed tentang pasar tenaga kerja AS yang menurut Powel: ”The US labor market ‘is particularly strong’.” Memang benar bahwa upah pekerja di AS mengalami peningkatan yang tajam. Rata-rata terjadi peningkatan upah pekerja AS per jam sebesar 5,2% year on year (yoy) pada Juli 2022, dan terjadi peningkatan lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan harga.

Sepertinya the Fed akan tetap pada pendirian semula, yaitu akan melakukan kebijakan moneter yang semakin ketat. Kalau ini tetap dilakukan, dampaknya akan semakin menurunkan kesejahteraan warga AS. Dalam konteks global, akan terjadi tekanan berat terhadap perekonomian internasional, terutama terhadap negara-negara emerging markets.

Kebijakan pengetatan moneter the Fed tersebut didasari oleh asesmen the Fed terbaru tentang kaitan inflasi tinggi di AS dan kenaikan upah pekerja AS. Tetapi ada salah persepsi dalam kaitan antara peningkatan upah yang sangat kuat di AS saat ini dan kenaikan inflasi AS.

Sebab, pandemi Covid-19 telah menyebabkan gejala ekonomi baru di negara maju terutama AS yang dikenal sebagai “the Great Resignation”. Fenomena aneh tersebut terjadi karena warga AS yang meninggalkan pasar tenaga kerja selama pandemi, saat ini belum kembali bekerja walaupun Covid-19 telah mereda. Gejala tersebut telah mengungkap keseimbangan baru dalam pasar tenaga kerja di AS yang selama ini tidak terlihat. Seumpama gunung di dasar laut, baru akan terlihat kalau air lautnya surut.

Coba amati tipikal keluarga di AS, dengan komposisi dua dewasa dan beberapa anak. Ketika tingkat upah sangat rendah, maka kedua orang dewasa tersebut harus bekerja penuh waktu untuk mendapatkan penghasilan yang cukup dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar mereka. Tetapi kalau upah per jamnya semakin tinggi, orang tua mereka akan bekerja lebih sedikit, sehingga salah satu dari mereka akan tinggal di rumah dan menemani anak-anaknya ke sekolah atau tempat kursus demi perbaikan kualitas pendidikan anak-anaknya.

Anggaplah ekonomi AS saat ini terjadi kondisi keseimbangan tenaga kerja dengan upah rendah, sehingga kedua orang tua di masing-masing keluarga di AS harus kerja penuh. Karena semua rumah tangga melakukan hal yang sama, maka akibatnya di pasar tenaga kerja kelebihan pasokan pekerja. Sehingga upah pekerja menjadi rendah, yang berarti kedua orang tua di AS harus tetap bekerja penuh waktu. Dan selesailah keseimbangan pasar tenaga kerja AS dengan upah murah.

Sekarang anggaplah masih terjadi pandemi, dan anak-anak mereka tidak dapat pergi ke sekolah karena ada pembatasan mobilitas orang atau bahkan lockdown. Hal ini akan memaksa salah satu dari orang tuanya harus tetap tinggal di rumah untuk mengawasi dan menjadi guru untuk anak-anaknya di rumah, bahkan berlaku bagi keluarga yang tergolong berpendapatan rendah sekalipun.

Kemudian, ketika pandemi mereda dan anak-anak kembali ke sekolah, pasti akan terjadi lagging orang dewasa yang kembali ke pasar kerja. Tak semua orang dewasa bisa langsung kembali ke dunia kerja. Apalagi karena sudah menjadi kebiasaan tinggal di rumah, dan atau dapat bekerja dari rumah. Sehingga ketika pasar tenaga kerja kembali normal, maka terjadilah kelangkaan tenaga kerja, yang berakibat pada kenaikan upah pekerja.

Akhirnya, bahkan setelah kebiasaan tersebut berkurang, ekonomi bisa berakhir di keseimbangan upah yang lebih tinggi. Begitu keseimbangan baru pasar tenaga kerja tercapai, bahkan walaupun upahnya tinggi, pasar tenaga kerja masih akan ketat, karena terjadi pengurangan orang yang mencari pekerjaan, dan keseimbangan baru tersebut tetap di situ.

Banyak yang mencatat bahwa relatif sedikit orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran dewasa ini. Ini tentu menjadi kejutan jika pasar tenaga kerja berada di luar titik keseimbangannya. Padahal masalahnya tidak begitu. Karena fakta yang sebenarnya adalah ekonomi AS mengalami pergeseran menuju keseimbangan upah yang lebih tinggi akibat dampak pandemi yang terjadi di pasar tenaga kerja AS.

Karena itu, kenaikan upah pekerja di AS dewasa ini adalah cerminan dari penyesuaian tersebut. Dengan demikian, jika kita meleset mengamati fenomena tersebut dan menganggap kenaikan upah dewasa ini hanya semata-mata karena kenaikan inflasi, maka akan berujung pada reaksi kebijakan moneter yang semakin brutal. Inilah salah satu pintu masuk kesalahan the Fed dalam mengakses perekonomian AS dewasa ini, jika the Fed tetap keukeuh menaikkan tingkat bunga kebijakannya melebihi kewajaran alias berlebihan.

Sepertinya the Fed akan tetap pada pendirian semula, yaitu akan melakukan kebijakan moneter yang semakin ketat. Kalau ini tetap dilakukan, dampaknya akan semakin menurunkan kesejahteraan warga AS. Dalam konteks global, akan terjadi tekanan berat terhadap perekonomian internasional, terutama terhadap negara-negara emerging markets. Negara-negara tersebut akan mengalami himpitan ekonomi yang semakin berat, baik lewat mekanisme transmisi perdagangan maupun mekanisme transmisi keuangan. Yang pasti mata uang dolar AS akan semakin menguat dan akan terjadi persaingan peningkatan bunga acuan di penjuru dunia. “Miris,” kata Pak Harto.

*) Mantan Ekonom Senior BI

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com