Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Kenormalan Baru Ekonomi Tiongkok dan Implikasinya (Bagian I)

Rabu, 21 September 2022 | 13:00 WIB
Ryan Kiryanto *) (redaksi@investor.id)

Perkembangan ekonomi Tiongkok sejak pandemi Covid-19 melanda negeri itu hingga saat ini menarik untuk dicermati karena magnitute-nya bagi perekonomian dunia, kawasan dan Indonesia. Proses pemulihan ekonomi Tiongkok setidaknya bergantung pada keberhasilan penanganan segera pada tiga persoalan besar yang membelitnya.

Yaitu, strategi intervensi pemerintah pusat Tiongkok untuk menstabilkan pasar properti domestiknya; melanjutkan langkah pengendalian terhadap pandemi Covid-19 yang diperkirakan kian melonggar seiring nihilnya kasus positifnya; dan tersedianya paket stimulus yang memadai sebagai respons atas stabilisasi pasar properti dan pengendalian pandemi.

Baca Bagian II: Kenormalan Baru Ekonomi Tiongkok dan Implikasinya (Bagian II)

Setelah hampir tiga tahun Tiongkok dicekam oleh pandemi Covid-19 sejak pertama kali terkuak di provinsi Wuhan pada akhir 2019, pemerintah Tiongkok jatuh bangun mengendalikan pandemi untuk secepatnya memulihkan roda perekonomian. Namun, negeri daratan yang begitu luas dan besar ini berulang kali didera oleh lonjakan kasus positif Covid-19 yang memaksa diterapkannya kebijakan lockdown atau penguncian secara ketat.

Bahkan dari 2021 hingga 2022 ini ditetapkan kebijakan yang extraordinary yang dikenal dengan kebijakan nihil Covid-19 (Zero Covid-19 policy) melalui strategi penguncian lebih ketat. Selama masa pengendalian pandemi itu pula Tiongkok telah kehilangan momentum pemulihan ekonomi hingga pada akhirnya di tahun ini ada alasan kuat untuk percaya bahwa situasi dan kondisi terburuk telah berakhir. Pertandanya adalah pertumbuhan ekonomi kembali ke jalurnya menuju pemulihan yang berkelanjutan.

Kebijakan Strategis yang Terukur

Kini prospek pemulihan ekonomi negara dengan penduduk terbesar di dunia itu mulai terlihat. Dari berbagai literatur, setidaknya terdapat empat alasan yang mengamini pandangan tersebut yang mempertegas bahwa periode terburuk di Tiongkok sudah berakhir.

Pertama, periode terburuk bagi pasar properti sudah terlewati dengan kebijakan responsif yang diterbitkan pemerintah Tiongkok. Sistem perbankan ditopang dengan baik untuk mampu menyerap guncangan di pasar properti sehingga tidak menimbulkan risiko sistemik. Pemerintah pusat secara kolaboratif mendorong pemerintah daerah untuk berperan menemukan solusi guna memastikan para pengembang dapat menyelesaikan proyek yang sempat terbengkalai karena pandemi untuk menggairahkan kembali para konsumen properti.

Kedua, saat ini situasi pandemi telah stabil dengan kebijakan Dynamic Zero Covid Control hingga akhir tahun ini sehingga relaksasi kebijakan sebagai wujud normalisasi akan diterapkan untuk mendorong kembali aktivitas ekonomi, investasi dan bisnis di seantero Tiongkok. Perbaikan sistem kesehatan nasional juga menguatkan kepercayaan pemerintah dan pelaku dunia usaha untuk memulai era baru Tiongkok pascapandemi.

Ketiga, pemerintah Tiongkok secara proaktif menggulirkan stimulus ekonomi sesuai yang ditargetkan. Berbeda dengan periode pasca-2008 saat global financial crises, program saat ini terbatas ruang lingkupnya, namun secara material mampu mendukung pertumbuhan ekonomi. Paket tambahan senilai US$ 146 miliar diumumkan pada 25 Agustus 2022, yang dirancang untuk mendukung kegiatan investasi dan konsumsi.

Secara khusus, anggaran pembiayaan infrastruktur melalui pinjaman pemerintah daerah dan disetujuinya sejumlah proyek baru untuk mengawali kegiatan konstruksi yang telah anjlok selama pandemi juga dapat mempercepat pemulihan ekonomi. Kebangkitan sektor properti dan konstruksi yang bersifat padat modal dan padat karya ini mendorong lebih cepat pemulihan ekonomi meskipun belum mampu mendekati level pra pandemi, namun perekonomian tidak sampai menuju resesi.

Tahun 2021 lalu perekonomian Tiongkok tumbuh eksotis sebesar 8,1% karena faktor low bases effect setelah pada 2020 tumbuh sangat rendah, yakni 2,3% di tengah tekanan pandemi. Pertumbuhan ekonomi 2020 adalah yang terburuk sejak 1976. Setahun sebelumnya, tepatnya 2019, ekonomi Tiongkok masih mampu tumbuh cukup baik sebesar 6,1%, meskipun angka ini merupakan yang terburuk dalam 29 tahun terakhir.

Keempat, penetapan kebijakan moneter yang longgar dan konsisten diterapkan oleh bank sentral Tiongkok, People’s Bank of China (PBOC), juga sangat membantu pemulihan ekonomi negara tersebut. Yang menarik, kebijakan moneter longgar ini diterapkan di saat negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat (AS) justru sedang agresif menaikkan suku bunga acuan untuk memerangi inflasi yang melambung tinggi dan berdampak pada perlambatan ekonomi mereka.

Menariknya, PBOC lebih memilih pemberian stimulus untuk mendorong ekspansi kredit daripada menurunkan suku bunga acuan guna mendukung pemulihan ekonomi. Menurut Gubernur PBOC Yi Gang, bank sentral memiliki ruang sangat besar untuk menyesuaikan kebijakan moneter jika pandemi dan perang dagang dengan AS terus berlanjut.

Pilihan yang tepat dan terukur adalah melanjutkan kebijakan moneter melalui jalur non suku bunga acuan atau kebijakan makroprudensial yang tetap akomodatif untuk mendukung pemulihan ekonomi secara agregat. Saat ini suku bunga riil relatif rendah setelah memperhitungkan inflasi, yang menandakan kemungkinan kecil pemangkasan suku bunga acuan dalam skala besar.

Maka, PBOC lebih fokus pada perubahan kuantitas pembiayaan dan pinjaman sosial secara keseluruhan daripada menggunakan instrumen suku bunga acuan. Dengan kata lain, PBOC enggan memangkas suku bunga acuan, lantaran proyeksi inflasi harga konsumen tetap stabil di level 2,1%. PBOC juga masih memiliki instrumen moneter lain, yakni rasio persyaratan cadangan untuk bank atau program pinjaman guna memperluas pembiayaan keseluruhan dalam perekonomian.

Prospek ekonomi Tiongkok sekarang ini jauh lebih positif sehingga memberikan dampak positif juga bagi perekonomian dunia, kawasan dan negara-negara mitra dagang utamanya.

Selain suku bunga riil yang rendah, alasan lain bagi PBOC untuk berhati-hati dengan penurunan suku bunga acuan adalah karena ekonomi sedang terbebani oleh kebijakan penguncian akibat pandemi, sehingga penurunan suku bunga acuan di tengah inflasi yang rendah tidak akan efektif mendorong pemulihan ekonomi. Pilihan yang lebih rasional dan efektif adalah menargetkan jumlah pembiayaan agregat yang luar biasa besar sehingga untuk mengungkit roda perekonomian sejalan dengan pelonggaran penguncian.

Dengan penerapan kebijakan moneter yang longgar disertai kebijakan fiskal yang ekspansif diharapkan perekonomian Tingkok mampu tumbuh positif pada kisaran 3,3-3,7% tahun ini dan tumbuh lebih tinggi lagi pada kisasan 4,5-5,0% di 2023.

Dampak Positifnya

Dari gambaran di atas, dapat dikatakan prospek ekonomi Tiongkok sekarang ini jauh lebih positif sehingga memberikan dampak positif juga bagi perekonomian dunia, kawasan dan negara-negara mitra dagang utamanya. Mempertimbangkan status Tiongkok sebagai negara dengan ukuran perekonomian terbesar kedua di dunia karena memiliki total produk domestik bruto (PDB) sebesar US$ 20 triliun atau berkisar 18% terhadap total PDB dunia, maka bangkitnya perekonomian negara ini akan menggairahkan perekonomian dunia juga.

Tiongkok merupakan sumber impor penting bagi industri manufaktur di sebagian besar negara kawasan Asia Pasifik. Dengan pelonggaran kebijakan penguncian dan terurainya gangguan rantai pasokan akan mendorong kelancaran ekspor input barang dari Tiongkok ke negara-negara importir, yang selanjutnya dapat menurunkan tekanan inflasi.

Dalam hal ini Hong Kong, Singapura, Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Korea Selatan sebagai penguasa kawasan Asia Pasifik paling diuntungkan dengan kelancaran distribusi bahan baku dan barang jadi dari dan ke Tiongkok. Karena kegiatan perdagangan internasional negara-negara tersebut menjadi kontributor besar dari PDB masing-masing.

Tiongkok, yang menjadi pasar penting bagi banyak komoditas global, adalah importir produk terbesar di dunia seperti minyak mentah, tembaga, kedelai, batu bara, dan bijih besi. Sejauh mana dampak pemulihan ekonomi Tiongkok terhadap perbaikan harga komoditas global? Bagaimana pula dampak bagi Indonesia yang menjadi mitra dagang Tiongkok? (Bersambung ke Bagian II)

*) Ekonom, Co-Founder dan Dewan Pakar Institute of Social, Economic and Digital (ISED)

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com