Menu
Sign in
@ Contact
Search
Tri Winarno

Tri Winarno

Inflasi AS Membandel

Kamis, 6 Oktober 2022 | 10:30 WIB
Oleh Tri Winarno *) (redaksi@investor.id)

Inflasi di Amerika Serikat (AS) masih tetap membandel, pada Agustus 2022 kenaikan indeks harga konsumen tahunannya mencapai 8,3%. Ini sangat mengecewakan para konsumen dan pelaku usaha di AS, di tengah kebijakan moneter bank sentral AS (the Fed) yang sangat ketat dengan peningkatan bunga kebijakan (Fed Funds Rate) yang semakin mencekik perekonomian AS maupun global.

Sebagaimana disampaikan US Federal Reserve Chair, Jerome Powell dalam pertemuan di Jackson Hole, the Fed akan tetap keukeuh pada pandirian semula untuk menekan laju inflasi AS hingga mencapai target 2%.

Dengan demikian langkah gubernur bank sentral AS dalam mengendalikan laju inflasi AS dipastikan akan dengan cara menekan sisi demand-nya. Akibat dari kebijakan moneter super ketat AS tersebut, mendorong dolar AS semakin menguat hingga mencapai nilai paritasnya terhadap euro dan pounsterling, serta mencapai nilai tertinggi dengan yen selama 20 tahun, yang pada akhirnya menekan inflasi yang dipicu oleh harga barang-barang impor.

Namun perlu diingat bahwa saat ini melonjaknya inflasi global, khususnya di AS, bukan semata-mata dipicu oleh kenaikan permintaan domestik. Faktor lain yang signifikan mendorong laju inflasi di AS adalah tertekannya sisi penawaran, seperti terganggunya rantai produksi global karena China’s restrictive zero-Covid policy, dampak perang Rusia vs Ukraina terhadap harga energi dan makanan, serta peningkatan upah pekerja di AS.

Faktor penyebab inflasi yang bersumber dari sisi penawaran tersebut di luar kontrol kebijakan bank sentral AS (the Fed). Akan tetapi uniknya, ekonomi AS berada pada posisi yang secara potensial akan mampu mengatasi sumber penyebab inflasi dari sisi penawaran tersebut. Sebab, AS masih relatif mandiri dalam kebutuhan energi dan sumber bahan makanannya, berlimpah dengan pekerja migran, kapasitas produksi yang memadai, serta tersedianya sumber kapital yang dibutuhkan untuk meningkatkan sektor manufaktur.

Contohnya, AS kurang terpengaruh terhadap melonjaknya harga energi –yang merupakan penggerak utama inflasi yang terjadi saat ini--, karena AS merupakan salah satu negara net energy exporter. Tahun 2021, AS mengekspor energinya yang mencapai 25,2 quadrillion British thermal units (Btu), melebihi impor energinya yang mencatat 3,8 quadrillion Btu. Pada kuartal I-2022, AS mengekspor liquefied natural gas (LNG) melebihi negara manapun di dunia ini. Kebalikannya, Uni Eropa mengimpor energi sebesar 58% dari yang mereka konsumsi pada tahun 2020. Fakta menunjukkan bahwa kesemua 27 anggota Uni Eropa merupakan net energy importers sejak 2013.

Walaupun upah pekerja di AS mengalami peningkatan yang spektakuler beberapa bulan ini –biaya buruh per unit (unit labour costs) melonjak 9,3% dari musim panas 2021 dan Juni 2022–, AS terus menarik dan bergantung pada aliran pekerja migran. Kebijakan itu untuk menekan inflasi yang bersumber dari kenaikan upah buruh, walaupun tentu dampaknya terhadap penurunan inflasi di AS ada jeda.

Menurut Migration Policy Institute yang berpusat di Washington DC, 13,7% dari penduduk AS (atau 44,9 juta orang) merupakan warga pendatang pada tahun 2019, dibandingkan kurang dari 10% pada akhir abad XX. Sejak tahun 2005, lebih dari satu juta orang per tahun rata-rata memperoleh status sebagai warga negara tetap AS.

Memang masih ada perdebatan sengit di antara ekonom-ekonom AS tentang sejauh mana peningkatan jumlah imigran berdampak pada penurunan upah buruh di AS. Tetapi, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Cato Journal pada 2017, secara rata-rata, peningkatan 10% jumlah imigran ke AS berkorelasi dengan penurunan upah buruh di AS sebesar 2%. Bahkan seandainya dalam jangka pendek upah buruh tidak mengalami penurunan, peningkatan jumlah pekerja migran akan meningkatkan tersedianya pekerja di pasar tenaga kerja AS, sehingga akan menurunkan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan upah selama kebijakan imigran AS masih terbuka seperti saat ini.

Ekonomi AS memiliki kapasitas manufaktur sebesar 18% kapasitas manufaktur dunia. Kapasitas manufaktur AS berada pada peringkat kedua setelah Tiongkok. Sektor manufaktur AS memproduksi barang industri senilai US$ 2,3 triliun dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) ekonomi AS, mempekerjakan sekitar 12 juta tenaga kerja, dan sektor manufaktur AS telah pulih sepuluh tahun sebelum pandemi Covid-19. Menurut McKinsey, ekonomi AS menambah 1,3 juta tenaga kerja di rentang tahun 2010 dan 2019.

Tatkala berkecamuk pandemi Covid-19 terjadi gangguan pada rantai produksi global sehingga memaksa peningkatan harga-harga barang impor di AS, terutama untuk barang-barang yang dikonsumsi oleh rumah tangga AS. Karena selama ini rumah tangga AS sangat bergantung pada barang impor untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Akibat ada kendala pasokan, sekarang perusahaan di AS semakin gencar untuk meningkatkan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Hal tersebut menandakan bahwa masyarakat AS saat ini lebih mengutamakan ketahanan daripada diversifikasi dan harga murah. Sehingga saat ini sedang terjadi proses kembalinya produksi manufaktur ke dalam ekonomi AS.

Sudah dapat dipastikan bahwa dengan kembalinya produksi ke dalam negeri AS (reshoring) maka akan berdampak pada peningkatan biaya tenaga kerja. Karena produsen membawa kembali pekerja ke dalam sistem ekonomi di AS dengan tingkat upah yang lebih tinggi. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, ekonomi AS akan dapat menghindari kenaikan harga barang yang tidak wajar akibat ketergantungannya pada produk impor.

Dengan kapasitas produksi domestik yang kuat maka akan dapat membentengi ekonomi AS terhadap inflasi yang dipicu dari barang impor. Dan dengan kembalinya produksi manufaktur ke dalam negeri, maka AS akan tahan terhadap volatilitas harga, sehingga inflasi AS ke depan diharapkan akan semakin rendah.

Sekilas, untuk sementara ini memang tampak tanda-tanda inflasi AS mulai mereda. Harga barang-barang impor di AS (mengeluarkan variabel tarif) turun 1,4% pada bulan Juli untuk pertama kali sejak tujuh bulan. Sementara itu, inflasi inti barang dan jasa (mengeluarkan variabel harga makanan dan energi) turun menjadi 5,9% pada Juli dari 6,5% di bulan Maret, sebelum naik lagi pada Agustus ini. Perlu dicatat bahwa inflasi yang dipicu oleh sisi supply tersebut memang diluar kontrol the Fed, namun AS mempunyai alat kebijakan yang memadai untuk memitigasi dampaknya.

Begitulah perkembangan asesmen inflasi AS saat ini, dan kita tidak dapat berharap terlalu banyak bahwa target the Fed menurunkan inflasi AS hingga 2% bisa terealisasi dalam waktu segera. Diperkirakan inflasi AS akan berada pada kisaran 4-5%, sehingga akan mengembalikan tingkat kepercayaan masyarakat AS terhadap pengendalian inflasi. Faktanya, dari perspektif investasi, sulit mencari tandingan ekonomi AS, yaitu suatu negara dengan sumber daya alam berlimpah, tata kelola yang efektif, sejarah imigrasi yang paling terbuka di dunia, dan mata uangnya paling perkasa di jagat raya. Kesemua itu menjadi faktor paling ideal untuk dapat memenangkan perang terhadap inflasi.

Sebagai perbandingan, banyak negara saat ini sangat tergantung pada ekonomi global. Dalam kondisi dunia seperti saat ini, negara-negara yang semakin tergantung pada ekonomi global, maka ekonominya akan sangat rentan terhadap dinamika global.

Saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan reorientasi ekonomi nasional dengan semakin mengurangi ketergantungan terhadap gejolak perekonomian global. Kata “kemandirian” adalah kata sakti yang akan dapat menjanjikan ketahanan ekonomi nasional, sehingga ke depan ekonomi kita akan semakin kuat dan rakyat semakin sejahtera.

Mencermati perkembangan pengendalian inflasi di AS, memang inflasi AS sampai saat ini masih membandel karena the Fed hanya mampu mengontrol dari sisi permintaannya. Sedangkan dari sisi produksi, tergantung dari institusi lain dan efektivitas pengaruhnya pun ada lagging (jeda). Sehingga target the Fed menurunkan inflasi berada pada kisaran 2% masih jauh dari harapan. Paling banter inflasi AS hanya akan tercapai pada kisaran 5%. Sehingga dapat dipastikan the Fed masih akan gencar memerangi inflasi dengan menggunakan piranti bunga acuan (Fed Funds Rate). Karena itu, jalan ekonomi global ke depan terlihat masih akan tertatih-tatih.

Yang pasti untuk saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan reorientasi ekonomi nasional dengan semakin mengurangi ketergantungan terhadap gejolak perekonomian global. Kata “kemandirian” adalah kata sakti yang akan dapat menjanjikan ketahanan ekonomi nasional, sehingga ke depan ekonomi kita akan semakin kuat dan rakyat semakin sejahtera.

Reorientasi dan ketahanan adalah kata sederhana tetapi mengimplementasikannya membutuhkan keberanian, kerja keras, dan kerja cerdas bagi setiap pemangku kebijakan di berbagai lini maupun di berbagai sektor. Kalau hanya bermalas-malasan sambil menunggu ‘badai reda’ tentu sangat berisiko, karena kita tidak pernah tahu kapan krisis ini akan berakhir.

*) Mantan Ekonom Senior Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com