Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Menanti Kabar Baik dari Pertemuan Davos 2023

Senin, 16 Jan 2023 | 22:40 WIB
Ryan Kiryanto *) (redaksi@investor.id)

Perhelatan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) kembali ke jadwal normal pertemuan tahunan setelah absen digelar secara fisik saat pandemi Covid pada 2021. Tahun lalu, WEF yang biasanya digelar pertengahan Januari, dilakukan secara tatap muka pada Mei 2022. Tahun ini, Davos, kawasan tetirah yang berselimutkan salju di musim dingin, kembali menerima ribuan peserta WEF 2023, digelar mulai hari ini hingga 20 Januari 2023.

Tema yang diusung WEF 2023 adalah “Cooperation in a Fragmented World”, atau kira-kira bagaimana kerja sama di situasi dunia yang terbelah atau terfragmentasi. Konon sekitar 2.700 pemimpin ekonomi dan bisnis, juga pemimpin dan tokoh pegiat sipil hadir di Jambore orang-orang prominen sedunia itu.

Pertemuan “elite dan bergengsi” ini berlangsung ketika saat ini dunia saat ini berada pada titik infleksi kritis. Beragam krisis yang sedang berlangsung membutuhkan tindakan kolektif yang benar dan berani. Berbagai krisis yang mendera dunia perlu segera dituntaskan melalui dialog konstruktif dan kolaboratif.

WEF 2023 melihat berbagai kekuatan politik, ekonomi dan sosial telah menciptakan fragmentasi yang menajam di tingkat global dan nasional. Untuk menangani akar masalah dari tergerusnya rasa percaya antarbangsa dan antarnegara, maka dipandang perlu untuk memperkuat kerja sama antara pemerintahan dan sektor bisnis, menciptakan kondisi bagi pemulihan yang kuat dan bertahan lama.

Advertisement

Itulah pernyataan Klaus Schwab, pendiri dan ketua eksekutif WEF, dalam keterangannya, 10 Januari 2023 lalu. Menurutnya, pada saat yang sama perlu ada pengakuan bahwa pembangunan ekonomi perlu membuat situasi makin tangguh dan berkelanjutan agar tidak ada yang tertinggal. Ini persis dengan spirit “recover stronger, recover together” yang masih terpateri di setuap negara di dunia.

Tantangan Kepemimpinan Global

Dalam paparan berjudul “Davos, global trade, innovation and more: The Daily Read weekender”, tepat yang ditulis oleh McKinsey and Company edisi 14 Januari 2023 dengan judul menarik, yakni “Mengapa Davos lebih penting dari sebelumnya: Tantangan global membutuhkan kepemimpinan global”.

Pada 2023 ini, pertemuan tahunan WEF ini akan menjadi yang terbesar dalam sejarahnya, yang mungkin mengejutkan banyak pihak skeptis yang telah menulis tentang akhir globalisasi. Muncul penafsiran kini para pemimpin di seluruh dunia menyadari bahwa globalisasi perlu ditata ulang, bukan ditinggalkan atau diceraiberaikan, karena setidaknya dua alasan.

Pertama, ekonomi global—di mana arus bahan baku dan barang-barang manufaktur antardaerah, dan orang-orang, data, dan modal yang dibutuhkan perdagangan ini—sangat tidak mungkin dibatalkan. Laporan terbaru McKinsey Global Institute menemukan bahwa ikatan ekonomi yang mengikat kuat dan tidak mungkin untuk dilepaskan.

Kedua, tantangan terbesar saat ini tidak ada prioritisasi terhadap garis batas, karena setiap negara berada dalam “kampung global” yang saling terkoneksi. Negara dan ekonomi di mana-mana terfokus oleh tantangan membangun ketahanan dalam menghadapi gangguan besar-besaran (termasuk mengantisipasi pandemi di masa depan), mengedukasi masyarakat dunia untuk menggunakan bahan bakar non fosil dengan harga terjangkau, dan membangun sistem global di mana setiap orang menikmati kemakmuran.

Tidak ada solusi untuk masalah terbesar di dunia yang tidak melibatkan para pemimpin perusahaan terbesar di dunia dan pembuat kebijakan nasional dan internasional. Itulah sebabnya, 52 tahun setelah pertemuan pertama, pertemuan 2023 di Davos ini diharapkan mampu menghimpun sejumlah pemimpin dari pemerintah, bisnis, dan masyarakat sipil untuk secara bersama dan konstruktif membahas keadaan dunia dan prioritas untuk tahun depan.

Ide-ide terobosan yang ditempa sejak hari ini, Senin 16 Januari 2023, menjadi benih kolaborasi baru yang mampu memperbaiki kerusakan-kerusakan ekonomi di seluruh dunia baik karena pandemi Covid-19 maupun perang di Ukraina yang telah berjalan hampir setahun ini.

Pengelolaan Isu-isu Strategis

Berbagai isu strategis bersifat global dibahas untuk menciptakan tujuan dan kepentingan bersama. Salah satunya adalah terkait pengelolaan risiko global di 2023 untuk dicarikan solusinya. Diskusi ini menggunakan laporan data dari Survei Persepsi Risiko Global 2022-2023 untuk memahami risiko yang mungkin dihadapi dunia selama 10 tahun mendatang. Setidaknya dalam dua tahun ke depan, krisis biaya hidup dipandang sebagai risiko terbesar, sementara selama 10 tahun ke depan risiko lingkungan lebih mendominasi.

Ada bukti yang berkembang bahwa pemerintah yang dinamis dan bisnis yang digerakkan oleh tujuan ekonomi bersedia membentuk era baru kerja sama publik-swasta menjadi investasi dalam teknologi baru. Untuk menciptakan "pasar masa depan" yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat utama, diperlukan pendekatan proaktif dan perencanaan strategis yang lebih besar.

Maka, pemerintah harus bertindak sebagai "investor resor pertama" untuk mengundang minat sektor swasta yang lebih luas dan investasi di bidang teknologi dan sektor dengan potensi tertinggi untuk membangun pasar masa depan.

WEF 2023 juga akan membahas prospek lapangan kerja pascapandemi Covid-19. Maklum, pandemi telah mempercepat datangnya masa depan pekerjaan. Dari meningkatnya laju adopsi teknologi hingga perluasan pekerjaan jarak jauh, pasar tenaga kerja menghadapi perubahan cepat yang harus coba diimbangi oleh pekerja.

Pekerjaan yang mendukung inklusi sosial dan kelestarian lingkungan juga dinilai sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Salah satu disertasi dalam WEF 2023 ini berupaya mengukur kebutuhan akan “pekerjaan sosial” dan “pekerjaan hijau” di 10 negara pada 2030 untuk memenuhi target inklusi dan iklim.

Penggunaan teknologi digitalisasi selama masa pandemi juga menjadi materi diskusi yang intensif. Ini lantaran percepatan peralihan ke sistem kerja jarak jauh selama pandemi, ditambah dengan serangan siber dengan profil tinggi, telah menghasilkan kesadaran utama atas keamanan siber di antara para pembuat keputusan utama di organisasi dan negara.

Salah satu isu paling menarik untuk dibahas adalah terkait pengelolaan industri rendah karbon atau dekarbonisasi. Di sini terdapat Net-Zero Industry Tracker yang merupakan platform pelacakan yang mendukung munculnya industri rendah karbon pada akhir dekade ini. Mengingat bahwa sektor industri menyumbang hampir 40% dari konsumsi energi global dan lebih dari 30% emisi gas rumah kaca global, maka transformasi dan pelacakan sektor-sektor ini sangat penting untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050.

Relevan dengan isu ini, petumbuhan ekonomi yang masif yang meninggalkan dampak polutan bagi lingkungan juga akan dikaji lebih dalam. Salah satu bahasannya adalah bagaimana mengubah hubungan kota dengan alam. Ditengarai kota-kota menyumbang 80% dari total produk domestik bruto (PDB) dunia, namun pertumbuhan eksponensial mereka dalam beberapa dekade terakhir telah mengorbankan alam. Selain merusak ekosistem lokal dan memicu hilangnya habitat, daerah perkotaan bertanggung jawab atas lebih dari 75% emisi karbon global.

Terkait isu keberlanjutan, akan dikaji upaya menyeimbangkan transisi energi dan ketahanan energi untuk masa depan nol bersih. Diperkirakan untuk mencapai emisi nol bersih, dunia harus menginvestasikan US$ 3,5 triliun lebih banyak setiap tahun daripada yang diinvestasikan saat ini.

Ketahanan ekonomi Indonesia yang terbukti selama masa pandemi melalui implementasi serangkaian (bauran) kebijakan yang tepat, terukur, preemptive dan forward looking menjadi cahaya terang bagi perekonomian dunia.

Dalam konteks menata ulang globalisasi, yang dimaksudkan di sini adalah diversifikasi, bukan fragmentasi atau pemisahan. Tidak ada negara atau kawasan yang mendekati swasembada sendiri. Sekitar 40% perdagangan global sangat terkonsentrasi, dengan hanya beberapa negara yang memasok semua yang lain dengan beberapa produk penting. Ketika ketegangan meningkat, mereka yang mengelola hubungan perdagangan global dapat menemukan cara untuk melakukan diversifikasi. Tidak ada blok-blokan atau polarisasi.

Maka, tepat jika semangat inklusivitas dijadikan sebagai keunggulan kompetitif setiap negara. Lebih lanjut, perusahaan global menemukan bahwa inklusi membantu mereka memanfaatkan pasar yang kurang terlayani.

Catatan Penutup

Delegasi Indonesia mencakup unsur pemerintah, otoritas, pengusaha dan tokoh masyarakat sipil bisa memanfaatkan WEF 2023 untuk kepentingan strategis nasional baik di ranah diplomasi internasional; ekonomi, perdagangan dan investasi; sosial dan budaya; maupun untuk memperluas jejaring.

Dengan keberhasilan Indonesia sebagai Presidensi G20 melalui penyelenggaraan G20 Summit 2022 pada November tahun lalu di Bali, kini tentu suara Indonesia lebih banyak didengar dan dirujuk oleh para peserta WEF 2023. Ketahanan ekonomi Indonesia yang terbukti selama masa pandemi melalui implementasi serangkaian (bauran) kebijakan yang tepat, terukur, preemptive dan forward looking menjadi cahaya terang bagi perekonomian dunia. Kini ekonomi Indonesia menjadi magnet bagi negara-negara lain di dunia.

Maka, berbagai side event seperti bilateral meeting, one on one meeting, investor forum dan business matching bisa dioptimalkan untuk meraih manfaat sebesar-besarnya dari keikutsertaan delegasi Indonesia dalam WEF 2023 ini.***

*) Ekonom, Dewan Pakar Institute of Social, Economic and Digital/ISED dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia/LPPI)

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com