Menu
Sign in
@ Contact
Search

Memacu BLK Hasilkan Wirausahawan dan Inovator

Kamis, 31 Mei 2012 | 08:07 WIB
Oleh Arif Minardi (redaksi@investor.id)

Masalah ketenagakerjaan merupakan kunci daya saing suatu bangsa. Sayangnya, pertumbuhan angkatan kerja di Indonesia yang sekitar 2,91 juta per tahun, sebagian besar atau sekitar 80% di antaranya tenaga kerja tidak terlatih.

Berdasarkan data dari 13 asosiasi industri/lembaga pengembangan masyarakat, sebanyak 1,9 juta tenaga kerja berusia muda tersebut dibutuhkan untuk memenuhi berbagai jenis usaha dan jenjang pekerjaan. Asosiasi usaha jasa pengamanan, misalnya, membutuhkan 628.000 tenaga kerja muda untuk mengisi posisi operator, super visor, dan manajer. Sementara itu, asosiasi jasa logistik dan angkutan barang membutuhkan 28 ribu pekerja.

Kebutuhan terbesar dicatat Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang menyebutkan keperluan mencapai sekitar 1,2 juta orang hingga 2014. Sungguh sulit untuk mengisi posisi- posisi yang dibutuhkan itu, karena yang tersedia adalah tenaga kerja tidak terlatih.

Akibatnya, tingkat pengangguran pun cukup tinggi, yakni 7,61% di mana 19,99% (data 2011) di antaranya penganggur usia muda. Dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik maupun dunia, rata-rata pengangguran usia muda di Indonesia memang cukup tinggi.

Mengingat besarnya pengangguran usia muda, maka diperlukan langkah- langkah konkret untuk mengurai persoalan tersebut melalui keterpaduan kegiatan pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan penempatan kerja.

Konvergensi TIK
Jika dikaji lebih mendalam, pangkal mula persoalan sesungguhnya terletak pada kurang mampunya para kepala daerah merencanakan portofolio profesi yang harus dikembangkan di daerahnya. Lihat saja, ada jenis profesi kerja yang sudah usang dan jenuh terus diperhatikan, sebaliknya, jenisjenis profesi yang menjadi kebutuhan dunia di masa depan justru tidak disiapkan secara baik.

Pada era konseptual sekarang ini mestinya pemerintah memberikan peran kepada Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mempersiapkan keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Pada saat ini dunia tengah memasuki era konseptual (conceptual age), ditandai dengan konvergensi teknologi, informatika, dan komunikasi (TIK) yang memacu pertumbuhan ekonomi kreatif.

Sayangnya, negeri ini belum memiliki sistem nasional pengembangan ketenagakerjaan yang terkait dengan aspek luas ekonomi kreatif. Akibatnya, negeri ini dibanjiri oleh produk industri kreatif asing yang menyedot devisa negara.

Dibutuhkan sinergi antara praktisi industri kreatif, perguruan tinggi dan BLK. Dengan demikian program latihan kerja bisa mengatasi pengangguran intelektual sekaligus mencetak young entrepreneur yang siap bertarung dalam kompetisi global. Tak bisa dimungkiri lagi bahwa perguruan tinggi di negeri ini sekarang telah menjadi pabrik pengangguran intelektual. Setiap tahun pengangguran intelektual meningkat 20%.

Masalah itu diperparah lagi dengan rendahnya soft skill atau keterampilan di luar kompetensi utama para sarjana. Pemerintah pusat dan daerah seharusnya serius mengatasi pengangguran dengan cara yang inovatif dan berbasis teknologi terkini. Apalagi, sekarang ini adalah era konseptual, di mana ekonomi yang berbasis pengetahuan (knowledge economy) dan struktur masyarakat berpengetahuan (knowledge society) akan menjadi penentunya.

Dalam konteks di atas ekonomi pengetahuan bertumbuh karena adanya daya kreativitas dan kemampuan berinovasi. Dengan demikian latihan kerja di BLK mesti disesuaikan dengan materi yang cocok dengan era perkembangan zaman. Ada baiknya kita menengok solusi ketenagakerjaan di Amerika Serikat, dimana latihan kerja di sana mengarah kepada pembentukan wirausahawan sekaligus inovator.

Menurut data statistic 30% dari semua wirausahawan di Amerika Serikat berusia sekitar 30 tahun atau dikategorikan sebagai generasi muda. Hal itu terwujud karena keberhasilan pemerintah dalam mengelola angkatan kerja dan memberikan infrastruktur ketenagakerjaan dengan metode dan standar yang bagus.

Pada era konseptual sekarang ini peran latihan kerja sangat penting. BLK sebaiknya juga menjadi ruang atau wahana kreativitas untuk memperbaiki proses kreatif dan daya inovasi masyarakat. Wahana kreativitas itu tidak hanya infrastruktur gedung, tapi dilengkapi dengan berbagai kegiatan workshop produk kreatif secara langsung maupun lewat perangkat teknologi informasi dan komunikasi. Metode dan materi latihan kerja sebaiknya dibuat banyak ragam, terutama terkait dengan keragaman produk dan budaya lokal.

Optimalisasi BLK
Pada era liberalisasi tenaga kerja sekarang ini segmen lapangan kerja memerlukan standar kerja dengan cara pelatihan. Sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah menata kembali fasilitas BLK untuk meningkatkan kompetensi bidang industri kreatif. Dengan pertumbuhan angkatan kerja yang cukup tinggi, pentingnya pemerintah mengoptimalkan peran dan menambah jumlah BLK di daerah-daerah. Optimalisasi hendaknya juga memperluas aspek ragam profesi yang diajarkan.

Alangkah sedihnya kita melihat kondisi BLK banyak yang terbengkalai, hingga gedungnya rusak dan peralatannya menjadi besi tua. Mestinya, dengan ledakan jumlah pengangguran sekarang ini, pemerintah segera menambah kapasitas BLK dengan berbagai ragam profesi. Gerakan antipengangguran yang dilakukan oleh Menakertrans sebaiknya diwarnai dengan revitalisasi BLK yang bermuatan industri kreatif berbasis lokalitas. Efektivitas pelaksanaan pendidikan di BLK perlu segera dirumuskan. Begitu juga dengan skema pembiayaan BLK harus dicukupi, disertai pengawasan yang ketat agar dana tersebut tidak bocor.

Masalah lain yang menyedihkan adalah selama ini para pengajar atau instruktur BLK kurang mendapatkan pengayaan atau peningkatan wawasan. Akibatnya, keahlian mereka yang diberikan kepada peserta kursus menjadi kedaluwarsa. Meskipun sudah terlambat, pemerintah dalam hal ini Kemenakertrans dituntut untuk segera melakukan langkah cepat guna mengoptimalkan daya tampung BLK. Muatan yang diberikan oleh BLK hendaknya mampu memenuhi tren kebutuhan pasar tenaga kerja local hingga di luar negeri.

Berbagai portofolio kompetensi pasar tenaga kerja di luar negeri hendaknya juga menjadi muatan utama di BLK. Diharapkan keberadaan BLK juga mampu membangun positivitas yang kuat bagi calon tenaga kerja. Karena profesi apa pun bentuknya bila ditekuni secara konsisten dan bersungguh-sungguh, hal itu akan mendatangkan reward yang baik.

Penulis adalah anggota Komisi IX DPR RI

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com