Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Ketika Bank Asing Mulai Melirik Pasar UMKM

Kamis, 26 Juli 2012 | 12:13 WIB
Oleh Indra Siswanti

Membicarakan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), takkan pernah habis-habisnya. Ini wajar karena peran UMKM dalam pekenomomian Indonesia cukup besar dan sudah terbukti tahan uji menghadapi krisis, baik pada 1998 maupun saat krisis global 2008.

Data Bank Indonesia menyebutkan, porsi kredit UMKM hingga akhir April 2012 sebesar 20,65% dari total kedit perbankan nasional. Angka tersebut turun dari 21,80% pada April 2011. Sementara itu, menurut data Kemenkop UMKM tahun 2011, kontribusi koperasi dan UMKM terhadap pendapatan domestic bruto (PDB) nasional mencapai 56,5%, dan menyerap ternaga kerja mencapai 66,74%.

Makanya tidak mengherankan jika saat ini semua bank berlomba-lomba meraup keuntungan dari pasar UMKM, mulai dari bank persero, bank swasta nasional, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), bank campuran, hingga bank asing. Alasannya, yakni sektor UMKM punya pasar menguntungkan dan memiliki peluang cukup besar.

Data Bank Indonesia menyebutkan, pada April 2012 penyaluran kredit UMKM tercatat sebesar Rp 491,72. Ini naik dari April 2011 yang tercatat sebesar Rp 411,01, atau naik 19,64%. Dari jumlah kredit UMKM yang dikucurkan itu, bank bersero adalah penyalur terbesar, yakni Rp 218,69 triliun (44,47%), diikuti bank swasta nasional devisa sebesar Rp 183,75 triliun (37,37%), Bank Pembangunan Daerah (BPD) Rp 38,63 ttriliun (7,86%), Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Rp 23,58 triliun (4,80%), bank swasta nasional non devisa Rp 20 triliun (4,07%), serta bank asing dan bank campuran sebesar Rp 7,058 triliun (1,44%)

Harus Lebih Agresif
Meski tampak kecil, keberadaan bank asing dalam kredit UMKM tetap menarik dicermati. Selama ini bank-bank asing lebih asyik bermain dan menikmati sektor kredit konsumtif yang memiliki keuntungan dan pangsa pasar cukup besar. Namun, seiring berjalannya waktu, bank-bank asing pelan-pelan mulai membidik peluang lain yang ada. Dengan potensi UMKM yang sangat besar di Indonesia, bukan tak mungkin bank-bank asing akan lebih agresif lagi bermain di ceruk kredit UMKM.

Lantas bagaimana dengan bank BUMN, bank swasta nasional, dan BPR yang sudah terlebih dahulu terjun di pasar UMKM? Ini justru sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh bank-bank tersebut. Dengan semakin banyak bank yang bermain di ceruk UMKM maka akan semakin terjadi persaingan untuk membidik atau merebut nasabah. Persoalannya tinggal bagaimana bank-bank tersebut menyusun strategi untuk menarik pasar UMKM.

Setiap bank pasti memiliki strategi masing-masing sesuai karakteristik yang dimilikinya. BPR yang memang memiliki ciri khusus sebagai bank yang ahli dalam pembiayaan mikro, pasti memiliki kelebihan dibandingkan dengan bank-bank BUMN dan bank swasta nasional. Keberadaan kantor-kantor BPR yang tersebar di kawasan pinggiran kota justru sangat menguntungkan karena hal itu mendekati pasar industri mikro.

Lalu bagaimana dengan bank asing? Bank asing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan bank asing adalah modal yang cukup besar dan teknologi yang cukup canggih. Proses pencairan kredit biasanya cukup singkat sehingga memudahkan
nasabah UMKM untuk bisa mengakses permodalan dari bank.

Kekurangan bank asing hanyalah dalam hal penyebaran kantor yang masih terpusat di kota-kota besar dan jumlah kantor cabang yang tidak banyak. Walaupun demikian bank lokal sebaiknya jangan terlena dengan keadaan saat ini, karena banyak bank asing kini mulai gencar membuka kantor-kantor cabangnya di berbagai daerah.

Standard Chartered Bank, misalnya, kini sudah membuka 26 kantor cabang di delapan kota, termasuk tujuh pusat layanan usaha kecil menengah (UKM) dan dua layanan baru, yaitu Business Plus dan Business Essentials. Hingga Juni 2012 Standard Chartered Bank telah menyalurkan kredit UKM senilai Rp 2,4 triliun atau tumbuh 33% dari periode Desember 2011.

Devolopment Bank of Singapore (DBS) saat ini juga sudah mempunyai 40 kantor cabang dan 11 kantor cabang pembantu yang tersebar di Indonesia. DBS juga sudah mempunyai tenaga spesialis di bidang industri UMKM dengan strategi memberikan pelayanan kredit yang cepat, mudah, fleksibel, dan relationship oriented.

Dongkrak Ekonomi Rakyat
Jadi, langkah terbaik yang harus dilakukan oleh bank-bank lokal —agar ceruk pasar tidak dikuasai oleh bank-bank asing — adalah harus agresif memberikan kredit UMKM. Rasanya tidak ada alasan bagi bank lokal untuk tidak meningkatkan penyaluran kredit UMKM, karena jelas tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kredit UMKM tersebut.

Bank-bank lokal pun sebaiknya mulai mengubah pemikiran bahwa kredit sektor UMKM itu memiliki risiko tinggi. Coba simak angka kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada Maret 2012 yang tercatat sebesar 3,92%. Itu artinya masih jauh dari batas maksimal 5% dan tergolong relatif masih baik. Bahkan bunga kredit UMKM sangat menguntungkan karena lebih tinggi dibandingkan dengan bunga kredit untuk korporasi.

Karena itu, bank-bank nasional (domestik) jangan terlena dengan kondisi ini. Jangan sampai bank-bank lokal baru bangkit justru setelah ceruk pasar mulai dikuasai oleh bank asing. Keberadaan bank asing saat ini harus dijadikan cambuk bagi bank lokal untuk terus bangkit dan lebih gencar lagi dalam penyaluran kredit UMKM. Dari sudut nasabah, keberadaan bank asing dalam ceruk kredit UMKM justu akan lebih menguntungkan, karena, dengan semakin banyak bank yang memberikan kredit UMKM maka akan semakin banyak pilihan bagi nasabah UMKM untuk menentukan kepada bank mana dia akan meminta kredit.

Sikap terbaik yang harus dilakukan oleh bank-bank lokal adalah jangan membuang peluang untuk menyalurkan kredit UMKM. Keberanian mengucurkan kredit UMKM, seraya terus meningkatkan mutu pelayanan, serta juga tetap menjaga prinsip kehati-hatian, pasti akan membawa banyak berkah, tidak saja bagi bank tapi juga bagi ekonomi masyarakat yang mendapatkan kucuran kredit perbankan. (*)

Indra Siswanti, dosen Manajemen Perbankan ABFI Institute Perbanas

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN