Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga. Sumber: BSTV

Nirwono Joga. Sumber: BSTV

Adaptasi di Alam Normal Baru

Sabtu, 20 Juni 2020 | 19:25 WIB
Nirwono Joga *)

Tema peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni tahun ini adalah Time for Nature. Fokus perayaan ialah peranan alam dalam menyediakan infrastruktur dasar yang mendukung kehidupan bumi dan pengembangan manusia.

Kota-kota di dunia hanya menempati 3% daratan di bumi, tetapi berkontribusi pada 75% emisi karbon dan 80% konsumsi seluruh energi.

Pemanasan global dan perubahan iklim adalah kondisi kekinian yang membekap kehidupan kota dan kita.

Pandemi Covid-19 saat ini juga membawa perubahan mendasar pada kehidupan kota, hubungan sosial masyarakat, pertumbuhan ekonomi bangsa, dan kelestarian lingkungan. Masa depan bumi dan kota pun dipertaruhkan.

Oleh karena itu, tatanan normal baru kehidupan kota harus mengadaptasi bagaimana kita merencanakan, merancang, membangun, dan mengelola kota sesuai protokol kesehatan sekaligus melindungi bumi. Kota harus lestari dan berkelanjutan.

Berinvestasi pada pembangunan kota dan bisnis yang berkelanjutan adalah berinvestasi untuk masa depan. Jadi, mewujudkan kota lestari mesti dilakukan untuk mengatasi permasalahan kota. Mewujudkan kota lestari merupakan upaya untuk membuat hidup penduduk di kota lebih berkualitas.

Mewujudkan kota lestari mesti dilandasi tata ruang kota yang benar, hunian layak, serta membuat kota sehat dan sejahtera bagi warganya. Dengan demikian, kota berkembang menjadi kota humanis. Pemerintah harus menyusun strategi kota lestari agar warga memiliki standar hidup yang lebih baik, menyediakan hunian layak, lingkungan sehat, dan kesempatan kerja setara.

Pemerintah harus menempatkan dimensi manusia sebagai subjek pembangunan kota dengan memberi jaminan akses warga untuk tinggal di kota yang sehat, hak bermukim yang layak, memperluas peluang usaha, dan meningkatkan layanan fasilitas umum (pendidikan, kesehatan, dan administrasi kependudukan).

Hak bermukim yang layak dikembangkan berdasarkan asas kebersamaan, kebebasan, kesetaraan, harga diri, dan keadilan sosial bagi semua. Warga didorong untuk berpartisipasi aktif mendapatkan keadilan hak bermukim untuk meningkatkan kualitas kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan.

Pemerintah dapat menyediakan hunian vertikal (apartemen, flat, rusun) yang mudah diakses, cukup berjalan kaki atau bersepeda menyusuri taman, serta dekat jaringan transpor tasi massal. Hunian didukung infrastruktur dasar (jalan, saluran air, jalur evakuasi, rumah sehat), jaringan utilitas (air bersih, gas, listrik, internet), serta instalasi pengolahan air limbah dan tempat pengolahan sampah.

Kota harus terpadu. Orang bepergian dari satu titik ke titik lain dengan mudah, termasuk untuk berpindah dari satu moda transportasi ke moda lain, maupun seturun dari moda transportasi untuk lanjut ke tempat tujuan.

Di pihak lain, warga pun menerapkan gaya hidup normal baru. Pola hidup bersih dan sehat diterapkan, mulai dari makan makanan sehat dan bergizi, rajin berolahraga, dan istirahat yang cukup. Tetap mengutamakan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Jika terpaksa keluar rumah maka wajib memakai masker, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau mandi selepas beraktivitas keluar rumah. Tetap jaga jarak fisik dan menghindari kerumuman.

Gaya hidup normal baru harus tetap aktif dan produktif tetapi tetap ramah lingkungan. Kota harus bersih dan sehat, lingkungan kota bebas sampah agar terhindar dari penyakit lingkungan.

Untuk itu, masyarakat harus peduli terhadap upaya pengurangan dan penanganan sampah. Sistem tata kelola penanganan sampah harus terintegrasi, yakni meliputi pembatasan sampah plastik di tingkat produsen, pembatasan/ pengurangan/pelarangan sampah plastik di masyarakat (pasar rakyat, pasar modern, ritel), mendorong partisipasi masyarakat (kampung, kantor, pabrik, sekolah bebas sampah plastik-kresek-styrofoam).  

Proses pengolahan sampah dilakukan berjenjang dari tingkat rumah tangga, RT/RW, kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten, berbasis komunitas lokal (permukiman) atau lokasi (kawasan industri, perkantoran, pusat perbelanjaan, pasar).

Kunci keberhasilan penanganan dan pengolahan sampah ada di tangan masyarakat di tingkat rumah tangga. Jika pengurangan sampah berhasil dilakukan sejak dari hulu (sumber sampah), maka penanganan sampah di hilir pun akan menjadi lebih mudah dan ringan. Fenomena pemanasan global dan perubahan iklim menuntut langkah nyata perubahan tata kelola air secara berkelanjutan.

Kota harus mengelola air secara terintegrasi penuh agar seluruh air bisa digunakan dan tidak langsung dibuang ke laut. Air harus bisa disimpan dan digunakan secara optimal dalam bentuk apa pun, selama masih berada di daratan. Tata kelola air kota dikembangkan bertahap dari tingkat kota penyedia air, kota yang mampu mengelola pembuangan air, kota yang memiliki sistem drainase tertata, kota yang bisa melindungi lingkungan air, kota yang mampu mendaur ulang air, hingga menjadi kota sadar air.

Kota harus membangun daerah tangkapan untuk ketersediaan air, menyediakan ekosistem tata air yang baik, mendukung komunitas sadar tata kelola air, serta menegakan aturan tentang perlindungan lingkungan air. Saatnya alam mengambil jeda dan manusia beradaptasi dengan alam di era normal baru.

*) Koordinator Peneliti Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN