Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ronald Nangoi, Pemerhati Bisnis Internasional

Ronald Nangoi, Pemerhati Bisnis Internasional

Amerika Serikat di Tengah Persaingan Global (Bagian 2)

Senin, 20 Juni 2022 | 22:05 WIB
Oleh Ronald Nangoi *) (redaksi@investor.id)

Globalisasi eksternal yang dipromosikan Amerika Serikat (AS) justru telah memperkuat kekuatan-kekuatan ekonomi baru, yang bahkan siap melewati AS yang kurang berdaya saing. Ibarat kekuatanku adalah kelemahanku (My Strength is My Weakness).

Menurut Thomas L. Friedman, penulis buku The World is Flat (London: Penguin Books, 2006), bumi itu datar, yang berarti dunia saat ini memungkinkan lebih banyak pemain bisnis dari negara-negara berkembang melakukan perdagangan internasional. Makin banyak pemain dapat memasuki ekonomi global di era globalisasi bisnis, terutama di bidang jasa dan high-end manufakturing—bidang yang telah lama didominasi oleh Amerika, Eropa, dan Jepang.

Kita mungkin berpendapat bahwa ketidakseimbangan perdagangan antara AS dan Tiongkok mencerminkan kurangnya daya saing AS. Salah satu argumennya adalah bahwa perusahaan AS telah mengalihkan investasi ke luar negeri, sehingga melemahkan industri dalam negerinya.

“Industri Amerika menarik diri dari banyak negara bagian AS, sementara pada saat yang sama berinvestasi besar-besaran di luar negeri,” tulis Steingart.

Dia menekankan bahwa modal negara mengalir ke Asia dan Eropa, di mana pasar-pasar domestik bertumbuh luas. AS mulai mengimpor barang dari negara-negara Asia pada 1960-an. Awalnya dari Jepang, kemudian negara-negara industri baru Asia, dan akhirnya Tiongkok. Pada tahun 1995, perdagangan dengan negara-negara Asia menyumbang 42% impor AS, menurut Steingart.

Kebangkitan Tiongkok dan kekuatan-kekuatan ekonomi baru lainnya telah menciptakan tantangan bagi ekonomi dan bisnis AS. Bahkan memunculkan keraguan akan daya saing bisnis AS, meski faktanya AS kini tetap menjadi kekuatan ekonomi penting.

Ilustrasi
Ilustrasi

Ada beberapa isu politik-ekonomi kontroversial yang bisa dijadikan penjelas atas kondisi daya saing AS. Pertama, di era ketegangan hubungan perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok, Presiden Donald Trump, AS justru lebih bersikap protektif. Padahal proteksionisme dapat mengurangi daya saing di AS, meski bisnis internal masih kuat. Kebijakan ini tidak sesuai dengan perdagangan bebas, yang berpotensi merusak kemajuan ekonomi negara dan perusahaan global.

Proteksionisme terhadap barang-barang impor dari negara-negara seperti Tiongkok tidak sepenuhnya menguntungkan AS. Sebab, mayoritas barang ekspor Tiongkok diproduksi di daratan di bawah kendali rantai pasokan (supply chain) perusahaan patungan Amerika.

Kedua, AS memusatkan upaya pembangunan ekonomi pada bidang keuangan, teknologi, dan media yang tidak berwujud, serta mengabaikan sektor manufaktur. Ekonom Amerika Paul Samuelson, seperti dikutip oleh Steingart, “melihat Amerika bergerak ke arah ‘ekonomi perkantoran’ non-industri yang akan sulit bagi mereka yang tidak dapat bertahan dengan pengembalian investasi asing”. Bahkan industri AS melakukan investasi asing untuk memantau pasar mereka dan mengelola rantai pasokan di luar negeri.

Sebaliknya, negara-negara seperti Tiongkok dan India telah menerapkan model bisnis dan manajemen SCM, serta mengalami kemajuan dalam industri non-manufaktur, dan hal inilah yang mengurangi keunggulan kompetitif AS di beberapa sektor ini (Friedman, 2006). Alhasil, jika AS mendapat untung dari produk berteknologi tinggi pada era 1990-an, yang terjadi kemudian adalah AS membeli lebih banyak barang berteknologi tinggi pada 2000-an daripada yang diekspor (Steingart, 2008).

Terbukti bahwa kekuatan-kekuatan ekonomi baru sejauh ini telah berhasil mengembangkan ekonomi dengan meningkatkan daya saing manufakturnya. Kekuatan-kekuatan ekonomi ini bahkan dianggap telah membuat keajaiban ekonomi di Asia dan dunia dengan menggeser kekuatan ekonomi ke kawasan ini. Jepang adalah ekonomi Asia pertama yang meningkatkan kinerja ekspor berdaya saing dengan berfokus pada industri manufaktur, yang diikuti dengan kebangkitan negara-negara industri baru (NIB) Asia, Tiongkok, dan negara berkembang lainnya (Sharma, 2013).

Isu politik-ekonomi kontroversial lain adalah kecenderungan oligarki dalam menjalankan demokrasi AS. Oligarki bisa saja disebabkan oleh konsentrasi ekonomi, yang mengurangi persaingan bisnis di dalam negeri. Karena kekayaan beralih ke kalangan eksekutif kaya, pemegang saham, dan ketidakadilan ekonomi, sehingga pendapatan pekerja dan daya beli konsumen stagnan yang berakibat menurunkan daya saing. Menurut Steingart, pendapatan kelas bawah dan menengah turun pada 1980-an, sementara pendapatan kelas elite meningkat.

Keadaan tersebut memungkinkan sejumlah kecil elite atau oligarki yang tidak mewakili kelas menengah dan bawah Amerika memiliki lebih banyak kekuatan politik dan ekonomi. Oleh karena itu, demokrasi AS wajar dipertanyakan.

Sikap bermusuhan tidak memberi jalan keluar. Masyarakat bisnis Asia, seperti Tiongkok, Jepang, dan negara-negara berkembang lainnya, banyak bergantung pada AS, bahkan harus berterima kasih akan dampak kemajuan AS terhadap kemajuan kekuatan-kekuatan ekonomi baru.

Memperkuat Daya Saing

Teori International Product Life Cycle (IPLC) Vernon, pada tahap tertentu, dapat menjelaskan melambatnya ekonomi dan perdagangan AS akhir-akhir ini. Defisit perdagangan di AS saat ini mencerminkan fakta bahwa pasar domestik negara tersebut lebih banyak mengimpor, terutama dari negara-negara yang baru bertumbuh, daripada mengekspor. Hasilnya, kegiatan bisnis AS di pasar internasional telah mencapai tahap terakhir dari IPLC, yaitu persaingan impor di pasar AS.

Hal ini menunjukkan bahwa pergeseran industri AS ke manufaktur di luar negeri justru melemahkan daya saing internal negara. Alasan lain yang mungkin menurunkan bisnis AS adalah bahwa (1) industri manufaktur AS terlalu bergantung pada jasa dan bisnis non-manufaktur; dan (2) ekonomi negara telah dirugikan oleh pertumbuhan oligarki.

Yang memperburuk keadaan adalah sikap bermusuhan dan proteksionisme AS. Sikap ini dapat menghambat proses globalisasi. Hubungan perdagangan AS-Tiongkok yang tegang akhir-akhir ini, mestinya tidak memiliki tempat di pasar dan ekonomi tanpa batas, yang selama ini diakui bermanfaat bagi perdagangan internasional dan ekonomi global. Sikap AS ini pun tidak sesuai dengan promosi ide-ide perdagangan dan ekonomi bebas AS.

Kita cenderung meragukan pemikiran bahwa globalisasi bisnis telah merugikan perusahaan AS sehubungan dengan pasar global yang kian kompetitif. Globalisasi berarti bahwa tiap negara harus berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saingnya agar dapat bertahan dan tumbuh dengan prinsip kelemahan bisa menjadi kekuatan.

Daripada mempersoalkan globalisasi, jauh lebih baik bagi AS untuk tetap bersikap terbuka dan bersahabat serta bekerja keras meningkatkan daya saing bisnis. Pertama, AS harus mengembangkan industri manufaktur, sembari terus mendidik masyarakatnya agar produktif dan berdaya saing. Friedman (2006) mengatakan bahwa kebijakan perdagangan bebas harus dilengkapi dengan rencana domestik yang terfokus pada peningkatan pendidikan bagi masyarakat Amerika agar siap bersaing untuk pekerjaan baru di bumi datar ini.

Kedua, perusahaan Amerika yang beroperasi di pasar luar negeri harus didorong untuk beroperasi tidak hanya pada industri teknologi tinggi tetapi juga di sektor ekonomi riil. Ketiga, undang-undang anti-monopoli harus ditegakkan untuk memerangi disparitas pendapatan dan mencegah konsentrasi uang di tangan segelintir oligarki.

AS selanjutnya perlu melakukan pendekatan regional atau multilateral dalam mengatasi praktik perdagangan yang tidak adil, jika pendekatan bilateral tidak efektif. Menurut hemat saya, sikap bermusuhan tidak memberi jalan keluar. Masyarakat bisnis Asia, seperti Tiongkok, Jepang, dan negara-negara berkembang lainnya, banyak bergantung pada AS, bahkan harus berterima kasih akan dampak kemajuan AS terhadap kemajuan kekuatan-kekuatan ekonomi baru.

Mantan Duta Besar Singapura untuk PBB, Kinoshe Mahbubani (2005), menggarisbawahi bahwa Tiongkok dan India belajar banyak dari AS dan berbagi nilai-nilai Amerika. Deng Xiaoping mengatakan kepada orang-orang Tiongkok bahwa mereka bisa makmur jika mereka berusaha bekerja sekeras orang Amerika dan mengumpulkan kekayaan individu (Mahbubani, 2005). (Selesai)

*) Pemerhati Bisnis Internasional

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN