Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Anak, Taman, dan Masa Depan Normal Baru

Minggu, 13 September 2020 | 04:33 WIB
Nirwono Joga *)

Jumlah penduduk anak-anak Indonesia adalah 79,5 juta jiwa (30,1%) atau sepertiga dari jumlah total penduduk Indonesia. Dunia anak adalah bermain dan itu ada di taman. Taman berperan penting menunjang kesehatan fisik dan mental warga kota di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PSBB transisi (adaptasi kebiasaan baru), hingga normal baru.

Taman telah menjadi bagian dari infrastruktur kesehatan masyarakat. Normal baru bukan berarti bebas tanpa batas, tetapi suatu kondisi baru menjalani kehidupan yang mengutamakan kesehatan, di mana terjadi proses pembelajaran yang tiada henti dan terus berkembang. Bentuk kenormalan baru adalah menuju era masyarakat yang sehat, aman, dan produktif.

Kondisi pandemi Covid-19 menuntut perubahan kita dalam merencanakan, merancang, membangun, mengelola, dan mengevaluasi kota untuk mewujudkan kota sehat untuk semua, termasuk anak-anak. Alinda Zain (IPB, 2020) di Tokyo, Jepang, menyampaikan bahwa setiap kota perlu memasukkan taman dalam sistem tata kota. Taman ada di setiap kawasan setingkat kelurahan.

Taman tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari warga kota. Taman menjadi satu-satunya ruang publik yang tidak tutup selama masa pandemi di Jepang. Taman digunakan untuk semua umur dari anak-anak sampai lanjut usia.

Taman terintegrasi dengan sistem pendidikan bagi anak usia dini yang jadi tanggung jawab pemerintah. Saat orang tua bekerja, anakanak aman di sekolah yang juga memanfaatkan taman di sekitar sekolah untuk tempat belajar dan bermain. Orang tua pun merasa tenang selama bekerja dan dapat bekerja dengan baik.

Suryono Herlambang (2020) menegaskan bahwa kebutuhan untuk berada di taman kota adalah kebutuhan dasar untuk menjaga kesehatan jiwa kaum urban yang didominasi kaum muda. Pemerintah perlu meningkatkan peran taman supaya bisa dimanfaatkan masyarakat. Karena taman penting untuk meningkatkan kesehatan warga dan menjadi sarana pelepas kepenatan selama masa pengawasan ketat.

Bagi anak-anak, taman merupakan tempat bermain alami yang memengaruhi tumbuh kembangnya. Interaksi dengan alam di taman berperan penting bagi perkembangan kesehatan fisik dan mental anak-anak, yang tidak akan pernah tergantikan di era teknologi digital. Taman berpotensi menjadi ruang belajar dan bermain yang menyehatkan fisik, mental, dan otak anak.

Taman harus disediakan secara memadai, terdistribusi merata ke seluruh permukiman, serta mudah diakses anak-anak. Prinsip keterkaitan taman dengan perkembangan anak, kriteria taman ramah anak, praktik pendidikan bagi anak melalui interaksi alam dan taman, serta strategi interaksi anak di taman di masa normal baru, mesti diterapkan.

Anak-anak dididik cara berpikir bahwa untuk ‘menyelamatkan’ diri, keluarga, dan teman, melalui proses belajar secara terus-menerus untuk beradaptasi kebiasaan baru sesuai protokol kesehatan.

Untuk itu diperlukan pembelajaran kolektif agar anak-anak bisa memanfaatkan taman tetap aman dan tidak berisiko terhadap peningkatan wabah. Dibutuhkan pengelolaan taman yang terorganisasi, pengawasan, dan pengendalian yang ketat.

Kepatuhan anak-anak terhadap protokol kesehatan di taman adalah kuncinya. Anak-anak harus diingatkan perihal pentingnya kesehatan, bahwa sehat itu mahal, sehingga menjaga kesehatan itu mutlak.

Pola hidup bersih dan sehat, makan makanan bergizi dan higienis, olah raga teratur, dan istirahat yang cukup sudahharus menjadi budaya normal baru anak-anak. Taman merupakan tempat yang menyenangkan sebagai sarana interaksi sosial anak-anak.

Di balik krisis, ada kesempatan dan membuat inovasi, tak terkecuali lompatan kemajuan dalam pemanfaatan taman bagi anakanak. Niken Prawestiti (2020) mencatat taman dapat menjadi sarana edukasi dalam masa pandemic dan normal baru.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), lembaga di bawah Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat, memberikan persyaratan jika ingin berkunjung ke taman. Anak-anak didorong memilih pergi ke taman yang paling dekat dengan rumah, bisa dijangkau dengan jalan kaki atau bersepeda.

Jangan lupa memakai masker, selalu jaga jarak aman selama di taman, serta menghindari kerumunan. Anak-anak dilarang ke taman saat merasa sakit.

Untuk sementara, anak-anak dilarang menggunakan fasilitas taman seperti kolam air mancur, bangku taman, atau alat bermain anak. Pengelola taman dapat menerapkan aturan waktu berkunjung ke taman dengan mengatur jeda waktu penggunaan taman agar kapasitas taman dapat dibatasi tidak lebih dari setengah. Penggunaan taman secara bergantian dengan batasan periode waktu tertentu.

Pengelola taman harus menyediakan tempat cuci tangan, mengecek suhu tubuh, pintu masuk-keluar dibatasi, dan secara berkala diadakan tes cepat atau uji usap tenggorokan. Jika hasilnya ada reaktif atau positif Covid-19, taman harus langsung ditutup (sementara) kembali.

Taman harus terus diperbanyak lagi agar anak-anak dapat menikmati udara segar yang sehat bagi tumbuh kembangnya. Taman dan anak-anak adalah masa depan kota dan kita di kala normal baru.

*) Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN